Catatan Cak AT:
Ada berita penting yang nasibnya seperti pengumuman rapat RT yang ditempel di tiang listrik: resmi, menentukan masa depan, tapi nyaris tak ditoleh. Bank Indonesia (BI) pada 11 Juni 2026 menyiarkan kerja samanya dengan People’s Bank of China.
Namun, siaran yang dimuat di situs remi BI itu hanya dibaca sekitar 1.400-an orang. Jumlah itu mungkin kalah jauh dibanding jumlah orang yang menonton video kucing jatuh dari meja atau perdebatan artis yang saling sindir di media sosial.
Padahal, Bank Indonesia sendiri menyebutnya sebagai “tonggak penting”. Kalimat itu bukan istilah yang dipakai sembarangan oleh bank sentral. Ia biasanya muncul ketika ada sesuatu yang dianggap mengubah lanskap.
Namun, sebagaimana sering terjadi dalam bahasa birokrasi, hal paling penting justru disampaikan dengan nada paling datar. Yang disebut memang soal efisiensi transaksi, pengurangan biaya pemrosesan, konektivitas pembayaran lintas batas.
Juga, bahwa QR bisa berlaku lintas negara, serta soal penguatan infrastruktur keuangan. Yang tidak disebut secara terang-terangan adalah: ini merupakan bagian dari arus besar dunia untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.
Dolar bukan sekadar mata uang. Ia adalah bahasa kekuasaan. Selama puluhan tahun, hampir semua perdagangan global penting berbicara dalam dialek dolar. Minyak dijual dengan dolar. Cadangan devisa ditumpuk dalam dolar.
Pembayaran lintas negara berputar melalui sistem yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan Amerika Serikat. Akibatnya, siapa yang menguasai dolar, dalam banyak hal, ikut menentukan siapa boleh berdagang dengan siapa.
Tak heran bila sanksi ekonomi Amerika sering jauh lebih menakutkan daripada suara meriam. Sebuah negara bisa dikucilkan dari sistem pembayaran internasional, dibatasi aksesnya terhadap likuiditas, bahkan dipaksa bertekuk lutut tanpa satu pun tentara menyeberangi perbatasannya.
Dolar pun menjadi semacam paspor ekonomi global. Tanpa stempel itu, perjalanan menjadi jauh lebih sulit.
Karena itulah, ketika Bank Indonesia dan People’s Bank of China sepakat bekerjasama, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bab kecil dari cerita besar tentang dunia yang perlahan bergerak menuju tatanan keuangan yang lebih multipolar.
Mereka sepakat memperluas penggunaan mata uang lokal, menjajaki peningkatan Bilateral Currency Swap Arrangement, meluncurkan QR lintas batas, memasukkan Bank Mandiri ke dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS), hingga merintis Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.
Ini bukan berarti dolar akan runtuh besok pagi. Tidak sesederhana itu. Dolar masih sangat dominan karena ditopang oleh kedalaman pasar keuangan Amerika, kepercayaan investor global, kekuatan ekonomi, dan jejaring institusional yang dibangun puluhan tahun.
Namun sejarah mengajarkan bahwa takhta kekuasaan tidak pernah abadi. Dulu pound sterling Inggris pernah menjadi raja. Kini tinggal catatan sejarah ekonomi.
Menariknya, sebagian negara mulai belajar hidup dengan ruang gerak yang lebih mandiri. Iran, misalnya, selama bertahun-tahun menghadapi sanksi ekonomi yang berat. Negeri para mullah itu dipaksa mengembangkan berbagai mekanisme alternatif, memperkuat kapasitas domestik, dan mencari celah di luar dominasi dolar.
Tentu bukan tanpa biaya. Ekonominya tetap terpukul. Namun pengalaman itu menunjukkan bahwa ketergantungan bukanlah takdir. Sebuah bangsa dapat dipaksa beradaptasi, lalu menemukan daya tahannya sendiri.
Ironinya, Indonesia tidak sedang berada dalam posisi terembargo. Kita tidak sedang dikucilkan.
Kita bahkan memiliki bonus demografi, sumber daya alam melimpah, posisi strategis di jalur perdagangan dunia, serta hubungan baik dengan berbagai kekuatan global. Tetapi sering kali kita bersikap seperti penumpang kelas ekonomi yang takut belajar mengemudi, padahal garasinya penuh kendaraan.
Kerja sama BI–PBOC ini seharusnya dibaca bukan sekadar soal QR yang bisa dipakai wisatawan Indonesia saat belanja di Shanghai atau turis Tiongkok ketika makan bakso di Jakarta.
Ini adalah latihan kedaulatan. Latihan agar perdagangan bilateral tidak selalu bergantung pada mata uang pihak ketiga. Latihan agar biaya transaksi lebih murah. Latihan agar gejolak eksternal tidak terlalu mudah mengguncang dapur ekonomi nasional.
Tentu saja, kita juga tidak boleh terjebak dalam euforia seolah berpindah dari ketergantungan terhadap satu mata uang menjadi ketergantungan baru terhadap mata uang lain.
Kedaulatan ekonomi bukan soal mengganti tuan. Ia tentang memperluas pilihan, memperkuat daya tawar, dan memperbesar kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.
Barangkali, di situlah pelajaran terpenting dari siaran pers yang hanya dibaca seribu orang lebih sedikit itu.
Masa depan sering datang bukan dengan dentuman genderang perang atau pidato yang menggelegar. Ia datang diam-diam melalui nota kesepahaman, sistem kliring, jalur pembayaran, dan keputusan-keputusan teknokratis yang tampak membosankan.
Masalahnya, kita sering lebih tertarik pada drama politik lima tahunan ketimbang perubahan pelan yang menentukan lima puluh tahun mendatang.
Mungkin karena demokrasi membuat kita terbiasa menghitung suara, tetapi lupa menghitung arah angin sejarah.
Dan sejarah, seperti pasar, tidak pernah memberi diskon kepada bangsa yang terlambat membaca tanda-tandanya.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis