Penyakit Patek Ancam Produksi Cabai, Petani Kuningan Keluhkan Kerugian Hasil Panen

Buah cabai yang terinfeksi jamur penyebab antraknosa tampak menghitam dan mengering di tanaman. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

KUNINGAN, koransulindo.com – Dalam budidaya cabai, serangan hama dan penyakit masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani. Selain menurunkan kualitas hasil panen, serangan penyakit tertentu bahkan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Salah satu penyakit yang kerap menghantui petani cabai adalah patek atau antraknosa.

Penyakit patek merupakan penyakit utama pada tanaman cabai yang banyak ditemukan di wilayah tropis maupun subtropis. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici yang berkembang dengan baik pada kondisi lingkungan yang lembap. Saat musim hujan, kelembapan udara yang tinggi menjadi faktor utama yang mendukung perkembangan patogen tersebut.

Antraknosa dapat menyerang hampir seluruh bagian tanaman, mulai dari benih, bibit, cabang, ranting, daun, hingga buah cabai. Serangan dapat terjadi sejak fase perkecambahan, fase vegetatif, fase generatif, hingga pascapanen. Bahkan buah cabai yang telah dipanen dan disimpan masih berpotensi terserang penyakit ini.

Gejala penyakit patek umumnya diawali dengan munculnya bintik-bintik kecil berwarna kehitaman yang sedikit melekuk pada permukaan buah. Bercak tersebut kemudian membesar membentuk cekungan berwarna cokelat kehitaman dengan titik-titik hitam di bagian tengahnya.

Seiring perkembangan penyakit, buah menjadi mengerut, mengering, membusuk, hingga akhirnya rontok. Pada serangan yang berat, bercak-bercak akan menyatu dan menyebabkan seluruh bagian buah mengalami pembusukan.

Penyebaran antraknosa berlangsung sangat cepat. Spora jamur dapat terbawa angin, percikan air hujan, cairan dari jaringan tanaman yang terinfeksi, alat pertanian, penyemprotan pestisida, hingga aktivitas manusia dan gesekan antar tanaman di lahan budidaya. Karena itu, penyakit ini sering menyebar luas dalam waktu relatif singkat apabila tidak segera ditangani.

Dampak penyakit patek tidak hanya dirasakan pada menurunnya produksi, tetapi juga kualitas hasil panen. Buah cabai yang terserang menjadi tidak layak jual sehingga menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani.

Salah seorang petani cabai caplak di Kabupaten Kuningan, Surna, mengaku cukup sering mengalami kerugian akibat serangan penyakit tersebut. Dari total hasil panen sekitar 15 kilogram, sekitar 1 kilogram cabai dapat terserang patek.

“Jujur ini merugikan kadang, harga juga cuma Rp33 ribu per kilo sekarang, buahnya malah kena patek sebagian,” ujar Surna saat ditemui di kebun cabainya, Senin (16/6/2026).

Meski demikian, ia mengaku telah berupaya melakukan berbagai langkah pencegahan untuk menekan serangan penyakit tersebut, mulai dari pemilihan bibit hingga penyemprotan pestisida.

“Beberapa upaya sudah dilakukan, memilih bibit yang bagus, penyemprotan obat. Hanya mungkin karena lokasi menanam di dataran tinggi yang cuacanya lumayan dingin, jadi patek belum benar-benar bisa dihilangkan, paling dikurangi. Saya juga berusaha sebisa saya, sepengetahuan saya,” katanya.

Menurut Surna, kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor yang membuat penyakit patek masih sulit dihindari sepenuhnya. Cuaca yang cenderung sejuk dan tingkat kelembapan yang cukup tinggi di daerah dataran tinggi dinilai turut mendukung perkembangan jamur penyebab penyakit tersebut.

Selain menyerang buah, penyakit patek juga dapat menyebabkan pembusukan pada bagian daun maupun batang tanaman. Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi sangat penting untuk menekan risiko penyebaran penyakit.

Penyakit patek diketahui disebabkan oleh dua jenis jamur patogen, yakni Colletotrichum capsici dan Gloeosporium sp. Kedua jamur tersebut dapat bertahan pada berbagai bagian tanaman, termasuk batang, daun, ranting, bahkan pada tanaman yang tampak sehat tanpa menunjukkan gejala.

Perkembangan jamur penyebab patek sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang lembap. Faktor pemicunya antara lain curah hujan tinggi, genangan air yang berlangsung lama, jarak tanam terlalu rapat, penggunaan benih yang telah terinfeksi patogen, banyaknya gulma di sekitar lahan, pemupukan nitrogen yang berlebihan, serta rendahnya kandungan kalsium dalam tanah.

Gejala penyakit patek juga dapat dikenali dari munculnya bercak cokelat kehitaman pada buah muda yang kemudian meluas menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak biasanya terdapat titik-titik hitam. Dalam kondisi serangan berat, buah cabai akan mengerut dan mengering. Gejala lainnya ditandai dengan terbentuknya bintik kecil kehitaman yang berlekuk, kemudian terus membesar dan memanjang dengan bagian tengah berwarna lebih gelap.

Untuk mengendalikan penyakit patek, petani dapat menerapkan berbagai langkah pencegahan. Penggunaan benih atau bibit yang sehat menjadi langkah awal yang penting. Selain itu, lahan yang digunakan sebaiknya bukan bekas pertanaman dari famili Solanaceae seperti tomat, terong, dan paprika karena berpotensi menjadi sumber penularan penyakit.

Petani juga disarankan melakukan perempelan tunas air, penyiangan gulma, serta pengaturan genangan air di lahan. Langkah-langkah tersebut bertujuan mengurangi kelembapan di sekitar tanaman sehingga perkembangan jamur dapat ditekan.

Pengaturan jarak tanam juga berperan penting dalam pencegahan penyakit. Jarak tanam sekitar 65 hingga 70 sentimeter dengan pola zig-zag dapat membantu memperlancar sirkulasi udara dan mengurangi kelembapan di area pertanaman.

Penggunaan mulsa hitam perak juga dapat menjadi solusi efektif. Mulsa membantu memantulkan sinar matahari ke bagian bawah tanaman sehingga kelembapan berkurang. Selain itu, mulsa plastik dapat menghambat penyebaran spora jamur melalui percikan air hujan.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pemberian pupuk yang mengandung kalsium tinggi. Unsur kalsium membantu memperkuat dinding sel tanaman sehingga lebih tahan terhadap serangan jamur. Pemberian kalsium dapat dilakukan melalui pengocoran dolomit atau kalsium magnesium karbonat (CaMg(CO3)2).

Apabila serangan penyakit sudah terjadi dan sulit dikendalikan, penggunaan fungisida dapat menjadi pilihan terakhir. Fungisida kontak yang umum digunakan antara lain mankozeb, propineb, klorotalonil, dan tembaga hidroksida. Sementara itu, fungisida sistemik yang dapat digunakan meliputi benomil, metalaksil, dimetomorf, difenokonazol, serta tebukonazol.

Dengan penerapan budidaya yang baik, menjaga kebersihan lahan, serta pengendalian yang tepat, risiko serangan penyakit patek dapat ditekan. Langkah tersebut penting dilakukan agar produktivitas tanaman cabai tetap terjaga dan kerugian yang dialami petani dapat diminimalkan. [UN]