Bertempur dan Berpikir, Itulah Perempuan Indonesia

Bertempur dan Berpikir, Itulah Perempuan Indonesia

Berkibarlah benderaku/lambang suci gagah perwira/di seluruh pantai Indonesia/kau tetap pujaan bangsa/Siapa berani menurunkan engkau/Serentak rakyatmu membela…

32
Ilustrasi: Majalah Dunia Wanita edisi perdana/Irvan

Koran Sulindo – Pada 1946, Saridjah Niung (1908-1993), yang kemudian dikenal dengan nama Ibu Soed, mengubah lagu itu, yang menggambarkan ketakjubkannya atas semangat rakyat Indonesia mengibarkan Bendera Merah-Putih di berbagai penjuru Nusantara. Perkenalan terhadap lagu “Berkibarlah Benderaku” ini dimuat di Mingguan Merdeka pada 17 Mei 1946.

Pada Merdeka edisi 31 Mei 1946, Saridjah juga menulis sebuah artikel di rubrik Taman Kanak-Kanak, berjudul “Apa Jang Akan Dipilih Amir?” Dalam artikel itu dikisahkan tiga bersaudara Daud,Umar, dan Amir yang paling bungsu.

Kedua kakak Amir bersekolah di luar kota dan suatu ketika kembali ke desa. Amir diajak berjalan ingin melihat sebuah jembatan.

“Nah, Amir, kau lihat djembatan jang besar itoe siapa jang memboeatnja?”

“Koeli-koeli kita, Kak?”

“Betoel, Mir, jang bekerdja memang orang-orang kita, tapi siapa jang memikirkan boeat bangoenannja? Agar mendjadi seboah gambar jang dapat diboet jadi bangonenan? Boekan bangsa kita, Mir, tetapi bangsa lain, seorang insinjoer bangoenan jang memboet roemah dan djembatan.”

Ibu Sud

Lewat artikel itu Ibu Soed menyisipkan pesan agar anak-anak menuntut ilmu, bersekolah setinggi mungkin untuk mencapai cita-citanya, memajukan Indonesia agar tidak tidak tertinggal dengan bangsa lain. Ibu Soed memandang perjuangan kemerdekaan bukan hanya sampai merebut dengan perjuangan bersenjata, tetapi juga perjuangan agar anak-anak bangsa peduli pendidikan agar tidak bisa dijajah lagi. Belakangan, Ibu Soed kemudian dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak.

Sementara itu, Siti Danilah Salim mengungkapkan pandangannya tentang Perang Kemerdekaan dalam Merdeka edisi 17 Mei 1946. Dia mengatakan, wanita (dia pakai kata wanita) juga sanggup berjasa berbakti bagi Nusa dan Bangsa, baik pada barisan depan maupun barisan belakang. Namun, dia juga mengkritik perang itu sendiri, yang ia sebut sebagai akibat keserakahan kaum laki-laki.

“Djika sebagai akibat perang ini kaoem soeami semakin mempertadjam otaknja oentoek merantjang siasat perang jang lebih baik, oentoek mendirikan pabrik sendjata jang lebih modern, dan oentoek membikin bom atom jang lebih kedjam. Maka kaoem wanita hendaknja memotetar otaknja mentjari djalan soepaja pemoesoehan di doenia ini menjadi hilang dan setidaknja mendjadi koerang….”

Siti Danilah Salim

Untuk itu, kata Danilah, kaum wanita harus mendidik keturunan manusia yang akan datang menjadi orang yang dapat melaksanakan perdamaian dunia. Wanita mengajarkan anak-anak agar mau menghargai hak orang lain, tetapi juga mempertahankan hak sendiri. Kedua hak itu tidak boleh saling menganggu.

Siti Danilah Salim adalah saudara dari tokoh perjuangan kemerdekaan Haji Agus Salim.

Keluarga Djajadiningrat
Nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan juga terungkap dalam catatan harian yang ditulis Roswita Tanis Djajadiningrat, yang dibukukan dengan judul Pengalamanku di Daerah Pertempuran Malang Selatan, yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1975. Anak ke-6 dari 8 bersaudara dari Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat ini menjadi relawan di pihak Republik pada periode 1947 hingga 1949. Pada waktu itu, Roswita berumur 25 tahun.

Pada 8 Agustus 1947, ia tiba di Rumah Sakit Turen, Malang (Jawa Timur), yang penuh sesak. Selain beberapa dokter, terdapat 30 juru rawat dan 200 relawan di rumah sakit itu, yang punya fasilitasi sanitasi minim. Tiga hari kemudian, perempuan yang biasa disapa Wiet itu sudah merawat sejumlah pemuda yang luka parah, yang dibawa ke rumah sakit itu dengan brankar dari bambu.

Mengapa sampai terjadi peperangan? Untuk apakah orang-orang saling membunuh? Demikian salah satu petikan catatannya pada 11 Agustus 1947.

Wiet menghujat peperangan. Lima hari kemudian, dia menulis lagi: “Rakyat selalu jadi korban tiap ada serangan Belanda.”

Pada 17 Agustus 1947, Wiet dan orang-orang di Rumah Sakit Turen merayakan Peringatan Hari Kemerdekaan sekaligus juga Hari Lebaran dengan bersahaja. Pada 23 Agustus 1947, dia menulis: “Kami ingin berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan tiap orang Belanda.” Ia memang anti-kekerasan, cintanya terhadap kemerdekaan Indonesia juga membara.

Kekecewaannya terhadap tindakan agresi militer membabibuta Belanda diungkapkan Wiet kembali pada 26 Agustus 1947, ketika Rumah Sakit Turen kedatangan sebuah truk penuh orang luka. Separo dari orang-orang yang terluka itu adalah perempuan, anak-anak, dan lelaki tua. Hanya tiga orang di antaranya yang tentara.

Tentara lebih tahu harus mencari tempat berlindung di mana. Tetapi, tidak demikian dengan rakyat desa.

Pada 4 September 1947, Roswita mendapatkan sembilan mayat, yang pada masing-masing jasad itu ditemukan empat peluru dan mata yang telah dicongkel bolanya. Mereka korban serangan pasukan Angkatan Darat Kerajaan Belanda atau Koninklijke Landmacht (KL)—“Orang Barat yang mengaku lebih beradab,” sindir Wiet.

Namun, tepat tiga bulan kemudian, pada 4 November 1947, Roswita juga mendapatkan empat mayat serdadu Belanda yang juga dirusak seluruh tubuhnya. Sama yang dilakukan tentara Belanda terhadap para pemuda. “Apakah tidak cukup jika serdadu itu sudah mati?”

Dalam buku hariannya itu, Roswita juga menyatakan kegalauannya terhadap tudingan terhadap dirinya yang lebih “bebas” bergaul dengan para laki-laki; stigma pada gadis-gadis dari Jakarta (3/9/1947). Juga stigma terhadap keluarga ningrat yang dipandang sinis dan dianggap kaum feodal (5/10/1947). Ia juga menyatakan kerisauannya terhadap pelecehan seksual ketika mendengar percakapan beberapa tentara dengan para dokter, yang meminta para gadis (maksudnya juru rawat) menginap di rumah mereka.

“Mengapa lelaki bisa menjadi seperti binatang? Mengapa mereka bukan mencari kesucian? Mengapa mereka selalu mencari yang ini? Mengapa mereka tak dapat memahami persahabatanku dengan Imam?” Imam adalah dokter di Rumah Sakit Turen yang merekut Roswita.

Catatan pada 5 November 1947 adalah protes dari Wiet yang cukup dahsyat menggambarkan sisi kelam dari Perang Kemerdekaan.

Kakaknya yang bernama Erna Sutoto Djadjadiningrat–putri ketiga dari Aria Ahmad–juga menjadi relawan di pihak Republik, terutama pada periode awal Revolusi Fisik. Dalam petikan memoarnya yang diberi judul “Hidup untuk Bangsa dan Tanah Air” dalam kumpulan memoar Sumbangsihku bagi Ibu Pertiwi: Jilid III (1983), Erna menceritakan rumahnya di Jalan Mampang Nomor 47, Jakarta, dijadikan dapur umum sekaligus markas para pejuang. Erna dan beberapa adiknya menjadi relawan.

Dalam memoarnya itu, Erna mengatakan, keputusan untuk menyelenggarakan dapur umum tersebut diambil setelah tokoh-tokoh wanita pergerakan pada waktu itu menunjukkan bahwa wanita tidak ingin dianggap kaum lemah. Tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Maria Ulfah Santoso, Suwarni Pringgodigdo, dan Sukesih Budiarjo.

Erna Djajadiningrat

Dapur umum di Mampang itu bukan saja kemudian digerebek oleh tentara Belanda, tetapi juga dijadikan sasaran peluru. Termasuk Bendera Merah-Putih yang berkibar di depannya.

Namun, bukannya takut, kegiatan di dapur umum tersebut ternyata bertambah ramai setelah serangan itu. Erna sendiri memprotes tindakan tentara Belanda yang ia anggap melampaui batas itu.

Bahkan, Erna mendatangi Van Hoogstraten, seorang pejabat Belanda, dan menunjuk mukanya. Dia mengatakan dengan tegas, tentara Belanda telah bertindak melampaui batas.

Namun, dapur umum itu tak lagi difungsikan saat Belanda melakukan Agresi Militer I, 21 Juli 1947. Erna dan beberapa tokoh perempuan lain, seperti Maria Ulfah, lebih banyak berkiprah untuk membebaskan para pejuang yang ditahan tentara Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda).

Atas keberaniannya, Erna menjadi satu-satunya perempuan yang mendapat Bintang Gerilya. Penyerahannya dilakukan bertepatan dengan Hari Jadi Ke-4 Tentara Nasional Indonesia, 5 Oktober 1949, di Markas Siliwangi, Desa Buah Dua, yang disematkan oleh Panglima Siliwangi Kolonel Sadikin.

Dunia Wanita
Pada tahun terakhir Perang Kemerdekaan terbit majalah dua mingguan Dunia Wanita. Majalah ini memberikan gambaran cukup menarik tentang pandangan perempuan terhadap Revolusi Fisik. Majalah Dunia Wanita terbit pertama kali pada 15 Juni 1949. Pemimpin readaksi (yang disebut “pengemudi”) adalah Ani Idrus.

Pada edisi 6 yang terbit 31 Agustus 1949, majalah ini memuat wawancara dengan seorang anggota perempuan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) bernama Nurbaiti D. Karim, yang juga Ketua Umum Muslimat Sumatera. Isi wawancaranya mengenai Konferensi Meja Bundar, yang didahului dengan Persetujuan Roem-Roijen.

Nurbaiti mengatakan, awalnya dia pesimistis terhadap hasil Konferensi Meja Bundar, mengingat Perjanjian Linggarjati dan Renville dilanggar oleh Belanda. Namun, setelah persetujuan Roem-Roijen, Nurbaiti menyatakan optimisme-nya. Dia antara lain menuturkan sebagai berikut.

“Kenyataannya Belanda tidak bisa memaksakan keamanan dan ketertiban di Indonesia dengan kekerasan senjata. Kalau kemerdekaan dan kedaulatan itu tidak juga akan didapat dengan jalan berunding, rakyat Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, lebih rela menderita bertahun-tahun lagi untuk meneruskan perjuangan….”

Isi wawancara itu jelas menyatakan, bukan hanya laki-laki yang akan berjuang, tetapi juga perempuan, kalau Belanda masih meneruskan niatnya untuk menjajah.

Lasmidjah Tobing juga menguraikan pandangan menarik dalam tulisannya bertajuk “Hak-Hak Manusia” pada majalah Dua Wanita edisi 7, yang terbit 15 September 1949.

“Ke manakah keadilan kalau bangsa kita dianggap rendah derajatnya, tidak pernah diberikan pendidikan yang baik, tidak diberi kesempatan yang lebih kuat untuk menuntut pelajaran, tak diberi penghargaan yang sama dalam lapangan pekerjaan?”

Selain menyatakan persamaan derajat antar-bangsa, Lasmidjah juga menyatakan perlu persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Reportase Ani Idrus mengenai Permusyawaratan Wanita Seluruh Indonesia, yang digelar di Yogyakarta pada 26 Agustus hingga 2 September 1949, juga mengungkapan berbagai pandangan perempuan tenatng Revolusi Fisik. Kongres itu diikuti sekitar 360 perwakilan perempuan seluruh Indonesia, di antaranya perwakilan Aceh yang dipimpin oleh istei ulama kharismatik Tengku Daud Bereueh serta para tokoh perempuan seperti Maria Ulfah Santoso.

Untuk dapat menghadiri permusyawaratan itu, tas para anggota delegasi digeledah oleh tentara Belanda. Permusyawaratan yang diadakan menjelang Konferensi Meja Bundar ini menunjukkan hasrat perempuan Indonesia untuk kemerdekaan negerinya.

Pada permusyawaratan ini diungkapkan pandangan para perempuan mengenai apa yang terjadi di daerah masing-masing selama Revolusi Fisik. Salawati dari Negara Indonesia Timur (NIT), misalnya, menyatakan kegeramannya terhadap tindakan yang dilakukan Kapten Wasterling di Sulawesi.

“Mereka membunuh seorang manusia lebih mudah dari seekor ayam. Kalau kita hendak memotong ayam masih berkata-kata hati kita apakah ayam itu akan dipotong atau tidak karena kasihan kita pada binatang itu….”

Perempuan-perempuan dari Kalimantan menyatakan keharuannya melihat Sang Merah Putih melambai-lambai karena di daerah pendudukan tidak pernah mereka melihat itu. Adasiah Harahap dari Delegasi Sumatera Timur spontan berucap, “Memasuki Yogyakarta, kami terlepas dari tekanan.”

Jadi, perempuan Indonesia dalam Revolusi Fisik bukan saja menyumbang tenaga secara fisik, tetapi juga pemikiran-pemikirannya. Kalau dilihat dari yang hadir di Permusyawaratan Wanita Seluruh Indonesia itu saja sudah dapat dipastikan, banyak tokoh perempuan yang berpartisipasi dalam upaya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sayangnya, siapa saja mereka dan bagaimana kiprahnya tidak terlalu banyak terungkap dalam penulisan sejarah. [Irvan Sjafari]