Ratusan warga Desa Wadas, Purworejo memblokade akses jalan dan menolak pertambangan material Bendungan Bener. Aksi ini berakhir bentrok antar kedua pihak. /Foto: BERITA DIY / Bagus Aryo Wicaksono
Ratusan warga Desa Wadas, Purworejo memblokade akses jalan dan menolak pertambangan material Bendungan Bener. Aksi ini berakhir bentrok antar kedua pihak. /Foto: BERITA DIY / Bagus Aryo Wicaksono

BENDUNGAN Bener yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Dikutip dari laman Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Rabu (9/2/2022), nama Waduk Bener atau Bendungan Bener diambil dari lokasinya yang berada di Kecamatan Bener.

Fungsi Bendungan Bener yang akan dibangun dengan menggunakan batu andesit dari desa Wadas ini nantinya diharapkan dapat mengurangi debit banjir sebesar 210 meter kubik per detik, menyediakan pasokan air baku sebesar 1,60 meter kubik per detik, dan menghasilkan listrik sebesar 6 MW. 

Selain itu bendungan ini direncanakan akan mengairi lahan sawah seluas 15.069 hektar. Hal ini sesuai dengan program pemerintah untuk memperbanyak waduk guna mendukung proyek ketahanan pangan.

Koordinator Mineral Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM, Moehammad Awaluddin mengatakan daerah Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah itu mempunyai komoditas batu andesit yang termasuk dalam satuan formasi Kulon Progo atau Formasi Andesit Tua. Batuan itu bisa dimanfaatkan untuk bahan bangunan seperti batu urug atau batu pondasi.

Selain itu, bendungan ini akan memasok sebagian besar kebutuhan air ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sumber air Bendungan Bener berasal dari Sungai Bogowonto, salah satu sungai besar di Jateng. Proyek ini berada sejauh sekitar 8,5 kilometer dari pusat Kota Purworejo. 

Bendungan Bener merupakan proyek yang didanai langsung APBN lewat Kementerian PUPR. Pemilik proyek ini adalah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang berada di bawah Ditjen Sumber Daya Air PUPR. Proyek Waduk Bener digarap secara keroyokan oleh tiga BUMN karya, yakni PT Brantas Abipraya (Persero), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Mengapa Warga Menolak?

Sebagian warga Desa Wadas menolak penambangan batu andesit yang akan digunakan untuk pembangunan Bendungan Bener. Batu andesit yang dijadikan material pembangunan Bendungan Bener, diambil dari bukit Desa Wadas. Dan mereka menganggap penambangan tidak sekadar mematikan mata pencarian sebagian besar warga, tetapi juga merusak lingkungan yang bisa mengancam keselamatan nyawa warga Wadas dan sekitarnya, 

Menurut penduduk, perbukitan Wadas termasuk daerah penyangga Bedah Menoreh. Hal itu juga telah disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purworejo. Perbukitan Wadas itu penyangga Bedang Menoreh yang rawan bencana, terutama tanah longsor. Jadi tidak bisa ada penambangan. Akan tetapi, entah bagaimana RTRW berubah kalau kawasan Wadas boleh ditambang. 

Dikutip dari laman resmi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, walhi.or.id, proyek tambang di Desa Wadas ini merupakan tambang quarry atau penambangan terbuka (dikeruk tanpa sisa) yang rencananya berjalan selama 30 bulan dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakkan menggunakan 5.300 ton dinamit atau 5.280.210 kg, hingga kedalaman 40 meter.

Tambang quarry batuan andesit di Desa Wadas menargetkan 15,53 juta meter kubik material batuan andesit untuk pembangunan Bendungan Bener, dengan kapasitas produksi 400.000 meter kubik setiap tahunnya.

Walhi menilai penambangan itu akan menghilangkan bentang alam dan memaksa warga untuk hidup dengan kerusakan ekosistem.

Gubernur Jawa Tengah sebagai pihak dari pemerintah menjelaskan, “Terhadap kawan-kawan yang belum setuju, yang kemarin pada isu soal quarry, potensi lingkungan yang akan rusak. Kondisi geologis yang ada di sana, saya kira itu butuh ruang untuk menjelaskan sehingga para ahli akan bisa diberikan ruang dan waktu untuk bisa menjelaskan kepada mereka,” jelas Ganjar.

Ganjar mengatakan, ruang dialog penting agar masyarakat yang kontra dan para ahli bisa saling menjelaskan dan mendengarkan.

Apa Pentingnya Batu Andesit?

Desa Wadas memang kaya akan mineral batu andesit. Batu andesit dinilai banyak kegunaan seperti pondasi bangunan. “Secara umum Andesit di daerah Purworejo yang dalam bentuk Intrusi mempunyai kualitas lebih baik,” ujar Awaludin kepada CNNIndonesia.com Jumat (11/2)

Nama andesit disadur dan merujuk pada Pegunungan Andes. Hal itu karena material andesit banyak ditemukan di sekitar Pegunungan Andes.

Batuan andesit adalah batuan beku yang tersusun atas mineral halus dan memiliki kandungan silika yang lebih tinggi dari batuan basal namun lebih rendah dari batuan rhylolite dan felsites. Secara lebih umum, andesit adalah jenis peralihan antara basal dan dasit.

Batuan beku andesit menurut para ahli diklasifikasikan ke dalam batuan beku eksklusif karena sebagian besar batuan andesit terbentuk di permukaan bumi akibat dari kejadian letusan gunung api.

Kandungan mineral batuan andesit diantaranya silika (SiO2) dengan kandungan antara 52-63%, kuarsa dengan kandungan sekitar 20%, biotite, basalt, feltise, plagioclase feldspar, pyroxene dan hornblende dengan kandungan yang sangat kecil.

Peneliti utama bidang Geologi (petrologi dan geoheritage) BRIN-Karangsambung, Ir Chusni Ansori, MT, mengatakan, bahwa batu andesit termasuk batuan beku intrusi yang terbentuk di dalam Bumi. Batuan ini, katanya, memiliki warna keabu-abuan karena bersifat intermediate. Chusni menambahkan, batu andesit seperti yang ada di Desa Wadas berkaitan dengan aktivitas vulkanik pada busur-busur vulkanik atau volcanic arc. 

Di wilayah Jawa, batuan itu terbentuk memanjang mulai dari Jawa barat hingga Jawa Timur. “Batuan andesit bisa ditemukan sebagai tubuh intrusi di dalam Bumi yang kemudian terangkat dan tersingkap di permukaan, atau bisa juga sebagai bongkah dalam breksi vulkanik (bekas aliran lahar) yang tersebar banyak di pulau Jawa,” jelas Chusni kepada Kompas.com, Rabu (9/2/2022). Batuan andesit ini tersusun dari mineral utama, seperti feldspar, piroksen, yang kadang kala disusun pula oleh kuarsa serta hornblenda. Menurut dia, karakteristik batu andesit biasanya keras dan kompak dengan kuat tekan lebih dari 500 kg per cm kuadrat, sedangkan berat jenis batu mencapai 2,3 sampai 2,8 gram per cm kubik. Sedangkan tingkat aus dan serapan air batu relatif rendah, sehingga sangat cocok digunakan sebagai fondasi bangunan bertingkat. “Selain itu, batuan ini juga dipakai untuk landasan jalan, landasan jalur pesawat, pemecah gelombang, tonggak jalan,” imbuhnya menjelaskan fungsi batu andesit. [S21]