Silaturahim harus menghasilkan kerja sama konkret. Pesantren dapat menjadi mitra edukasi pencegahan narkoba. Polisi dapat memberikan pelatihan kepada guru dan pembina santri untuk mengenali pola penyalahgunaan narkotika.
Pemerintah daerah dapat membantu menyediakan mekanisme rehabilitasi. Tokoh masyarakat dapat membuka kanal pelaporan yang aman. Semua pihak dapat bekerja sebelum masalah berubah menjadi perkara pidana.
Suyudi pernah menaruh perhatian pada narkotika jenis baru atau new psychoactive substances (NPS). BNN menyebut dari 1.745 sampel vape yang diperiksa di laboratorium, 1.716 terdeteksi mengandung narkotika atau NPS.
Jika data itu akurat dan konteks pemeriksaannya dipahami dengan benar, persoalannya memang serius. Generasi muda sekarang menghadapi pintu masuk narkoba yang berbeda.
Dulu bandar bersembunyi di gang gelap. Kini zat berbahaya dapat menyusup ke dalam perangkat yang dari luar tampak seperti benda biasa. Silaturahim, pada titik ini, bukan lagi slogan keagamaan. Ia dapat menjadi solusi.
Kyai Ikhwan menyebut ada kemungkinan orang melihat keberhasilan para pemimpin di sana sebagai “karamah Banten”. Saya kira istilah ini sebaiknya kita perlakukan sebagai bahasa budaya, bukan sebagai kesimpulan teologis.
Karamah adalah wilayah keyakinan. Statistik adalah wilayah data. Keduanya jangan dipaksa tidur dalam satu ranjang. Yang lebih produktif ialah mencari hikmahnya.
Kalau empat orang yang pernah memimpin Banten kemudian mencapai posisi tertinggi di Polri, pertanyaan yang layak diajukan bukan “apa rahasia mistiknya?”, melainkan “pengalaman apa yang mereka peroleh di Banten?”
Di situlah kita menemukan jawaban masuk akal: kemampuan mengelola masyarakat kompleks, membangun komunikasi lintas kelompok, memahami karakter lokal, menghadapi persoalan keamanan, dan menjalin hubungan dengan pemangku kepentingan.
Itu semua adalah modal kepemimpinan. Dan kalau ada berkah di dalamnya, biarlah berkah itu kita pahami sebagai buah dari ikhtiar yang bertemu dengan doa dan dukungan masyarakat.
Banten tidak perlu mengklaim telah melahirkan banyak Kapolri. Pesantren juga tidak perlu mengklaim bahwa seorang jenderal naik pangkat karena sering sowan. Klaim seperti itu justru mengecilkan kerja keras seorang pemimpin.
Yang lebih indah ialah melihatnya sebagai hubungan timbal balik. Ulama membutuhkan negara yang aman agar pesantren dapat mendidik generasi. Negara membutuhkan ulama dan pesantren untuk memperkuat ketahanan sosial.
Di satu sisi polisi membutuhkan masyarakat agar penegakan hukum tidak berjalan sendirian. Di sisi lain masyarakat membutuhkan polisi yang hadir sebagai pelindung, bukan sekadar petugas ketika perkara sudah meledak.
Di sinilah makna silaturahim menemukan bentuknya yang paling konkret. Ia adalah jembatan untuk memahami manusia. Ia mungkin kemudian melahirkan kesuksesan, yang kelak menjadi tangga untuk naik jabatan.
Dan mungkin Banten memang mempunyai pelajaran kecil untuk Indonesia: seorang pemimpin boleh mempunyai pangkat setinggi langit, tetapi ia tetap membutuhkan jalan untuk turun menemui rakyat.
Kalau jalan itu bernama silaturahim, jangan biarkan ia berhenti menjadi foto bersama. Bangunlah jembatannya. Lewatilah bersama.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




