Arah Baru Kebijakan Ekonomi Umat Direspon Kelompok Usaha Besar

Arah Baru Kebijakan Ekonomi Umat Direspon Kelompok Usaha Besar

21
Ilustrasi: Ketua Umum Akurindo Emir Moeis dalam acara Sarasehan Arah Baru Ekonomi Umat, di Bali, Rabu (10/10/2018)/KRG

Koran Sulindo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) berupaya membangun arah baru kebijakan ekonomi Indonesia. Salah satu caranya adalah membangun kemitraan antara kelompok masyarakat berbasis keagamaan dengan kelompok usaja besar. Ekonomi umat ini adalah modal sosial untuk mempercepat penuntasan ketimpangan.

“Upaya ini direspons kelompok usaha besar, dan sudah dilakukan komitmen kemitraan dengan ratusan pondok pesantren, sekolah kejuruan, Koperasi dan UMKM,” kata Deputi Ekonomi Kreatif Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kemenko Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin, dalam Saresehan Akurindo sekaligus pembukaan pameran produk unggulan UMKM Indonesia yang diberi tajuk “Amazing Bali”, di Bali, Rabu (10/10/2018).

Prinsip-prinsip ekonomi umat itu adalah inklusif (melibatkan umat), afirmatif (pemerintah), pemberdayaan, dankeberlanjutan.

Kemitraan yang hingga kini sudah dijalin adalah di bidang pangan, hortikultura, perkebunan, perdagangan, peternakan, perikanan, dan industri rumahan. Program sudah diluncurkan Desember 2017 lalu.

Kememko Perekonomian berperan dalam sinkronisasi kenijakan semisal KUR. Fasilitasi kemitraan dengan kelompok usaha besar dan UMKM, pembiayaan, perpajakan, perizinan, dan dukungan program dari kementerian/Lembaga.

“Model ekonomi demikian semoga bisa mendorong ekonomi umat,”kata Rudy.

Badan Usaha Milik Petani

Saat ini ketimpangan menjadi masalah besar di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah penguasaan lahan hanya oleh segelintir pihak. Sekitar 33 persen lahan dikuasai pemodal besar.ementara golongan masyarakat rendah tak mempunyai alat produksi dan akses ekonomi.

“Selain ketimpangan tanah, lahan petani juga menyusut, karena itu perlu kiranya membuat badan usaha milik petani,” kata Ketua Seknas Badan Usaha Milik Petani, Edi Waluyo

Menurut Edi, dengan BUMP itu kelak bisa untuk memiayan pendidikan anak Dari sini kami bisa sekolahkan anak.

“Petani nggak perlu berkecil hati. Kami akhirnya dipercayai kampus membawa atau membimbing mahasiswa ekonomi khususnya untuk sektor petani,” katanya.

BUMP di riset sejak 2008 selama 5 tahun, dan didirikan dengan gagasan petani tidak akan bisa hidup hanya dari asosiasi atau kelompok tani saja. Inisiasi BUMP ini bahkan sudah menyebar hingga ke Malaysia

“Kami juga sarankan menjadi wirausaha tani. Kami telah antarkan petani jadi pemilik saham. Di Wonogiri sudah ada kelola resi gudang. Sudah cukup lumayan karena mengejutkan kita yang nilai proyeknya mencapai Rp 20 miliar.

Menurut Edi, dalam waktu dekat Presiden Joko Widodo akan hadir di Wonogiri untuk meresmikan KUR khusus badan usaha milik petani

Sementara itu Ketua Umum Akurindo Emir Moeis mengatakan gagasan membuat sarasehan ini adalah untuk menyambung gerakan KH Ma’ruf Amin soal Arah Baru Ekonomi Umat.
“Sarasehan ini untuk mendengar masukan atau pertanyaan sehingga bisa kita rumuskan menjadi metode yang lebih baku. Kita akan bentuk tim perumus. Kita juga harapkan kerja sama dengan Kemenko Perekonomian,” kata Emir.

Sementara Gus Sauki, anak Ma’ruf Amin, mengatakan ayahnya berpesan bagaimana agar perekonomian di Indonesia bisa menjadi lebih baik, dengan cara membangun sinergi agar menjadi lebih kuat.

“Perbedaan itu indah untuk lebih kuat. Memperkuat perekonomian umat. KH Ma’ruf mengapresiasi Akurindo untuk membangun perekonomian rakyat bawah,” kata Gus Sauki. [KRG/DAS]