Pada masa awal kemerdekaan, membangun kekuatan udara menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia. Keterbatasan pesawat, tenaga ahli, hingga fasilitas tidak menghentikan upaya para perintis penerbangan untuk membangun kekuatan udara nasional.
Salah satu tokoh yang berperan dalam perjuangan tersebut adalah Agustinus Adisutjipto.
Pada 27 Oktober 1945, Agustinus Adisutjipto menerbangkan pesawat Cureng yang telah diberi tanda Merah Putih di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak sejarah penerbangan Indonesia.
Di balik peristiwa itu, terdapat perjalanan panjang seorang pemuda yang sejak awal memiliki cita-cita menjadi penerbang, meskipun harus menghadapi penolakan keluarga dan keterbatasan kesempatan pada masa kolonial.
Perjalanan Agustinus Adisutjipto Menjadi Penerbang
Dilansir dari Situs Resmi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Agustinus Adisutjipto dilahirkan di Salatiga pada 4 Juli 1916. Tjip, demikian panggilannya, merupakan putra sulung dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki.
Ayahnya, Roewidodarmo, adalah pensiunan Penilik Sekolah di Salatiga. Keluarganya merupakan keluarga Katolik yang taat menjalankan agama.
Tjip dikenal sebagai sosok pendiam, tetapi tidak ragu menghadapi bahaya. Ia memiliki kegemaran membaca buku filsafat kemiliteran dan filosofi. Selain itu, ia menyukai olahraga, seperti sepak bola, mendaki gunung, dan tenis, serta bermain catur.
Keinginannya menjadi penerbang sudah muncul sejak lulus dari MULO atau Meer Uitgebried Lager Onderwijs, setingkat sekolah menengah pertama.
Saat itu, ia berhasrat mengikuti tes penerimaan Sekolah Penerbangan di Kalijati. Namun, ayahnya tidak menyetujui keinginan tersebut.
Atas desakan ayahnya, Tjip kemudian masuk Algemeene Middelbare School (AMS) bagian B di Semarang. Ia lulus pada 1936 dengan nilai yang sangat baik.
Setelah itu, Tjip kembali meminta izin untuk mengikuti pendidikan sekolah militer Breda di Belanda. Keinginannya tidak dapat terpenuhi karena ia bukan keturunan bangsawan maupun golongan Eropa.
Ayahnya kemudian membujuk agar Tjip menjadi dokter dan memberikan contoh yang baik kepada adik-adiknya. Karena tidak menemukan jalan lain, Tjip mengikuti saran tersebut dan kuliah di Genneskundige Hooge School atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.
Meskipun rajin mengikuti perkuliahan, perhatian Tjip tidak sepenuhnya tertuju pada pelajaran. Cita-citanya untuk terbang tetap menjadi angan-angan yang ingin diwujudkannya.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Tjip mengikuti tes penerimaan Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Pendidikan Penerbangan Militer di Kalijati.
Ia lulus dengan hasil sangat memuaskan dan meminta bantuan Asisten Residen di Salatiga. Kali ini, ayahnya mengizinkan keinginan putranya.
Tjip kemudian mencurahkan perhatiannya pada pendidikan penerbangan. Ia diterima sebagai kadet penerbang dan menyelesaikan pendidikan yang seharusnya ditempuh selama tiga tahun hanya dalam dua tahun.
Dalam pendidikan tersebut, ia dikenal memiliki budi pekerti halus, tidak banyak bicara, cermat, disiplin, pemberani, dan pandai.
Bersama sembilan siswa Indonesia lainnya, Tjip mencapai tingkat Vaandrig Kortverband Vlieger atau letnan muda calon penerbang ikatan pendek. Namun, tingkat tersebut belum bersifat profesional.
Dari sepuluh siswa yang mengikuti pendidikan, hanya lima orang yang lulus dan memperoleh Klein Militaire Brevet atau brevet penerbang tingkat pertama.
Dari lima orang tersebut, hanya dua yang mencapai Groot Militaire Brevet atau brevet penerbang tingkat atas, yaitu Sambudjo Hurip dan Agustinus Adisutjipto.
Merintis Kekuatan Udara Indonesia
Di Kalijati, Tjip berkenalan dengan S. Soerjadarma, seorang perwira lulusan Akademi Militer Breda yang saat itu mengikuti pendidikan penerbangan militer atau Militaire Luchtvaart.
Keduanya menjalin persahabatan yang berlanjut ketika bekerja sama membangun Angkatan Udara Republik Indonesia berdasarkan kemampuan bangsa Indonesia sendiri.
Setelah mencapai tingkat penerbang, karier Adisutjipto sebagai penerbang dimulai. Pada 1939, ia ditempatkan di Skadron Pengintai dan diangkat menjadi ajudan Kapitein Clason, pejabat Angkatan Udara KNIL di Jawa. Jabatan tersebut dipegangnya hingga pendaratan Jepang pada 1942.
Ketika itu, Adisutjipto tergabung dalam pasukan KNIL di Tuban, sedangkan Soerjadarma berada di Tarakan. Sejumlah penerbang memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri ke Australia, tetapi Adisutjipto memilih tetap tinggal di Jawa.
Pada masa pendudukan Jepang, seluruh bekas penerbang KNIL dibebaskan dari tugas. Adisutjipto kembali ke rumah orang tuanya di Salatiga dan bekerja sebagai juru tulis di perusahaan angkutan bus Jidosya Jimukyoku.
Sikapnya yang tegas membuatnya disenangi rekan kerja dan pimpinan perusahaan. Ia juga menjadi pemimpin bagi rekan-rekan sekerjanya serta berusaha menanamkan harga diri di kalangan mereka.
Meski pernah dibujuk untuk memihak pimpinan perusahaan, Adisutjipto tetap berpegang pada pendiriannya dan tidak terpengaruh oleh bujukan yang dapat merugikan teman sebangsanya.
Pada 1944, Adisutjipto menikah dengan Rahayu, putri Pak Suryo, di Salatiga. Keduanya masih memiliki pertalian keluarga. Setahun kemudian, pada 1945, lahir putra mereka, Franciscus Xaverius Adisusanto, yang biasa dipanggil Todi. Pada masa itu pula, Jepang menyerah kepada Sekutu.
Ketika revolusi meletus, Adisutjipto pindah ke Yogyakarta. Berdasarkan Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, dibentuk TKR Bagian Penerbangan pada Markas Tertinggi TKR di Yogyakarta.
Bagian tersebut bertugas membangun dan menyusun penerbangan militer sekaligus menjadi perintis penerbangan sipil. Komodor Udara R. Soerjadi Soerjadarma ditunjuk sebagai kepala. Bagian itu kemudian ditingkatkan menjadi jawatan.
Soerjadarma memanggil Adisutjipto untuk membantu menyusun kekuatan udara. Adisutjipto menjadi salah satu orang yang diharapkan dapat membantu menjalankan tugas tersebut.
Pada masa itu, Soerjadarma menghubungi para bekas penerbang KNIL yang berada di Jawa, termasuk tenaga yang pernah bekerja pada dinas penerbangan Jepang.
Pada Desember, Pak Oerip memerintahkan para komandan terkait untuk mengklasifikasikan seluruh material dan personel penerbang, kemudian melaporkannya kepada Markas Besar Umum.
Setelah perintah tersebut diumumkan, Adisutjipto yang diangkat menjadi Komodor Muda Udara diberi tugas mengambil alih seluruh material, personel, dan instalasi penerbangan.
Di Lapangan Terbang Maguwo, ia menerima tanggung jawab lapangan dari panglima divisi setempat. Pengambilalihan tersebut secara resmi dimulai pada 15 Desember 1945.
Dalam konsolidasi TKR Jawatan Penerbangan, terdapat tiga prioritas utama, yaitu konsolidasi organisasi pusat atau Markas Besar, persiapan operasi untuk mendukung perjuangan kemerdekaan yang mencakup kesatuan udara, lapangan terbang, dan fasilitas lainnya, serta penyelenggaraan pendidikan penerbangan, baik lanjutan maupun pendidikan baru.
Membangun Penerbangan di Tengah Keterbatasan
Berdasarkan hasil pendidikan masa lalu, Adisutjipto menjadi satu-satunya personel yang memiliki ijazah GMB atau Groote Militaire Brevet. Karena itu, ia diberi kewenangan penuh untuk menangani bidang pendidikan.
Selain tugas tersebut, ia juga memimpin kesatuan operasi yang berbasis di Maguwo karena lapangan terbang itu dinilai memenuhi persyaratan.
Atas peran tersebut, Adisutjipto disebut sebagai perintis utama dalam sejarah pendidikan penerbangan di Indonesia. Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu Trasono Rudjito, seorang bekas cudanco yang memiliki minat besar pada penerbangan.
Tugas para pemimpin Angkatan Udara Republik Indonesia saat itu jauh dari mudah. Kondisi darurat, keterbatasan tenaga ahli, dan biaya yang terbatas menjadi tantangan. Pesawat yang tersedia pun tidak ada yang utuh dan siap digunakan.
Sebagian besar merupakan bekas pesawat Jepang yang ditinggalkan penerbangnya dalam kondisi rusak, sementara beberapa lainnya berhasil direbut oleh para pemuda Indonesia.
Kondisi tersebut tidak memadamkan semangat para pemimpin Angkatan Udara untuk membangun kekuatan penerbangan. Semangat perjuangan mendorong para teknisi memperbaiki pesawat-pesawat yang telah menjadi rongsokan hingga dapat digunakan kembali.
Meskipun pada masa pendudukan Jepang tidak ada seorang pun yang pernah memperoleh pendidikan terbang, kesulitan itu berusaha diatasi dengan kemauan keras. Upaya menumbuhkan industri penerbangan juga dinilai penting agar kebutuhan bahan dan perlengkapan dapat dibuat sendiri.
Dengan bimbingan Soerjadarma dan kepercayaan dari rekan-rekannya, TKR Jawatan Penerbangan mulai membangun kekuatan udara. Adisutjipto selalu mendampingi Soerjadarma dalam menjalankan tugas berat tersebut.
Saat itu, tidak tersedia pabrik penerbangan. Pesawat yang ada merupakan bekas pesawat Jepang yang sudah rusak berat. Buku-buku petunjuk seluruhnya berbahasa Jepang sehingga sulit dipahami, sedangkan bahan perlengkapan tidak tersedia. Ancaman musuh dan blokade Belanda juga menghambat berbagai upaya.
Namun, dengan kemampuan yang ada, para angkasawan Indonesia tetap berusaha membangun kekuatan penerbangan dan menghasilkan pesawat yang dapat digunakan, termasuk pesawat yang dilengkapi senjata ringan meskipun masih dalam tingkat sederhana.
Gugurnya Adisutjipto dan Penghargaan atas Jasanya
Perjuangan Adisutjipto berakhir ketika pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpanginya ditembak jatuh oleh pesawat Belanda. Pesawat tersebut membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya.
Pesawat Kittyhawk Belanda menembaki Dakota VT-CLA secara bertubi-tubi hingga pesawat kehilangan ketinggian dan melakukan pendaratan darurat di sebelah selatan Kota Yogyakarta. Pesawat itu membentur pohon, patah menjadi dua, lalu terbakar. Hanya sebagian ekornya yang masih utuh.
Seluruh awak dan penumpang meninggal dunia, kecuali Gani Handonotjokro yang kebetulan duduk di bagian ekor pesawat yang masih bertahan.
Di antara korban meninggal dunia terdapat Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Agustinus Adisutjipto, Adisumarmo Wiryokusumo, Zainal Arifin, pilot Alexander Noel Constantine yang berpangkat Wing Commander dari Australia, kopilot Squadron Leader Roy Hazelhurst dari Inggris, juru teknik Bidha Ram dari India, serta Ny. Constantine.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Adisutjipto dianugerahi pangkat Laksamana Muda Udara Anumerta. Tugu peringatan juga didirikan di tempat jatuhnya pesawat.
Nama Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, kemudian diganti menjadi Pangkalan Udara Adisutjipto berdasarkan Surat Penetapan Keputusan Kasau Nomor Kep/76/48/Pen.2/KS/1952.
Adisutjipto bukan hanya milik TNI AU, melainkan juga bangsa Indonesia karena pengabdiannya kepada negara. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974, almarhum Marsda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Pada 14 Juli 2000, atas prakarsa Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Hanafie Asnan, kerangka jenazah Adisutjipto beserta istrinya dipindahkan ke lokasi jatuhnya pesawat VT-CLA.
Lokasi tersebut kemudian dibangun menjadi monumen yang megah sekaligus makam kedua tokoh TNI AU beserta istri, dengan nama Monumen Perjuangan TNI AU sebagai pengganti nama Monumen Ngoto.
Perjalanan hidup Agustinus Adisutjipto memperlihatkan perjuangan seorang penerbang yang tetap berpegang pada cita-citanya hingga berperan dalam membangun kekuatan udara Indonesia.
Penerbangan pesawat Cureng bertanda Merah Putih pada 27 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah penerbangan nasional, sementara pengabdiannya terus dikenang melalui penetapan dirinya sebagai Pahlawan Nasional dan penggunaan namanya sebagai nama pangkalan udara. [UN]





