Museum Royal Batavian Society of Arts and Sciences Batavia (sekarang Museum Nasional) pada tahun 1900-an. (Wikipedia)

Museum Nasional Indonesia merupakan salah satu museum tertua di Indonesia yang menyimpan beragam koleksi sejarah, budaya, dan peradaban Nusantara.

Museum yang dikenal dengan sebutan Museum Gajah ini memiliki sejarah panjang sejak masa pemerintahan kolonial Belanda hingga menjadi bagian dari pengelolaan pemerintah Indonesia.

Melansir laman resmi Museum Nasional Indonesia, keberadaan museum ini berawal dari berdirinya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 24 April 1778. Organisasi tersebut didirikan oleh pemerintah Belanda untuk memajukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan.

Pendirian organisasi ini tidak terlepas dari perkembangan revolusi intelektual atau the Age of Enlightenment di Eropa, ketika pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan mulai berkembang.

Sebelumnya, pada 1752, telah berdiri De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen di Haarlem, Belanda. Perkembangan tersebut mendorong orang-orang Belanda di Batavia untuk mendirikan organisasi sejenis.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen merupakan lembaga independen yang berfokus pada penelitian biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah, serta penerbitan hasil penelitian. Lembaga ini mengusung semboyan Ten Nutte van het Algemeen, yang berarti untuk kepentingan masyarakat umum.

Berawal dari Sumbangan Koleksi dan Perpustakaan

Salah seorang pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, JCM Radermacher, menyumbangkan rumah miliknya di Jalan Kalibesar, kawasan perdagangan di Jakarta-Kota. Ia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang berguna bagi kegiatan lembaga tersebut.

Sumbangan Radermacher menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan yang kemudian berkembang menjadi Museum Nasional Indonesia.

Pada masa pemerintahan Inggris di Jawa pada 1811–1816, Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai direktur perkumpulan tersebut.

Karena rumah di Kalibesar tidak lagi mampu menampung koleksi yang terus bertambah, Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru untuk museum sekaligus ruang pertemuan Literary Society.

Gedung tersebut berada di Jalan Majapahit Nomor 3 dan dahulu dikenal sebagai gedung Societeit de Harmonie. Lokasi itu kini menjadi bagian dari kompleks gedung Sekretariat Negara, dekat Istana Kepresidenan.

Seiring bertambahnya koleksi, gedung di Jalan Majapahit kembali tidak mampu menampung seluruh benda yang dimiliki perkumpulan.

Pada 1862, pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun gedung museum baru di lokasi yang sekarang berada di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 12, yang dahulu dikenal sebagai Koningsplein West.

Gedung museum tersebut kemudian dibuka untuk umum pada 1868.

Mengapa Disebut Museum Gajah?

Museum Nasional dikenal luas dengan sebutan Gedung Gajah atau Museum Gajah. Nama tersebut berasal dari patung gajah perunggu yang ditempatkan di halaman depan museum.

Patung itu merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn atau Rama V dari Thailand, yang berkunjung ke museum pada 1871.

Selain Museum Gajah, tempat ini juga dikenal sebagai Gedung Arca karena menyimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari beragam periode sejarah.

Perjalanan kelembagaan museum berlanjut pada 1923. Saat itu, perkumpulan tersebut memperoleh gelar koninklijk atas jasa-jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah.

Namanya kemudian menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Pada 26 Januari 1950, nama tersebut diubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan itu menyesuaikan dengan kondisi saat itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya, yaitu memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya.

Mengingat pentingnya museum bagi bangsa Indonesia, pada 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia. Museum tersebut kemudian dikenal sebagai Museum Pusat.

Statusnya ditingkatkan menjadi Museum Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 092/O/1979 tertanggal 28 Mei 1979.

Koleksi Museum Nasional Indonesia

Museum Nasional Indonesia berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Museum ini memiliki visi menjadi pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan nasional, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antarbangsa.

Museum Nasional memiliki lebih dari 140.000 hingga 190.000 benda koleksi yang mencakup sejarah, budaya, dan peradaban Nusantara. Koleksi tersebut terbagi ke dalam tujuh jenis utama.

1. Prasejarah

Koleksi prasejarah mencakup fosil manusia purba, termasuk Java Man atau Manusia Jawa dari koleksi Dubois yang telah direpatriasi. Selain itu, terdapat fosil hewan purba seperti gajah purba (Stegodon) dan kuda nil purba, serta alat bantu hidup dari batu dan tulang, seperti kapak genggam dan beliung persegi.

2. Arkeologi

Koleksi arkeologi meliputi peninggalan masa klasik Hindu-Buddha, di antaranya Arca Bhairawa setinggi hampir empat meter dari Sumatra Barat, Arca Ganesha, Arca Amoghapasa, serta prasasti-prasasti kuno seperti Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Amoghapasa.

3. Etnografi

Koleksi etnografi menampilkan beragam pakaian dan kain tradisional dari berbagai suku di Indonesia, termasuk kain Koffo. Terdapat pula senjata tradisional seperti keris dan tombak, peralatan debus, serta perhiasan tradisional, di antaranya Kalabubu dari Nias.

4. Sejarah

Koleksi sejarah mencakup benda-benda peninggalan masa kolonial Eropa di Indonesia dari abad ke-16 hingga ke-19. Koleksi tersebut meliputi perabot kuno, meriam, gelas, serta porselen peninggalan VOC dan masa Hindia Belanda.

5. Numismatik dan Heraldik

Koleksi numismatik dan heraldik mencakup mata uang kuno Nusantara dan mancanegara dari berbagai era. Koleksi ini terdiri atas uang logam berbahan emas, perak, dan perunggu, uang kertas, surat berharga, serta lambang-lambang kebesaran.

6. Keramik

Museum Nasional menyimpan ribuan koleksi keramik lokal dan asing dari berbagai dinasti di Asia, termasuk Tiongkok, Jepang, Vietnam, dan Thailand. Salah satu koleksinya adalah keramik dari kapal karam Tek Sing.

7. Geografi dan Ruang Khasanah Emas

Koleksi geografi meliputi peta-peta kuno dan alat navigasi yang digunakan para penjelajah pada abad ke-18. Sementara itu, Ruang Khasanah Emas menyimpan benda-benda berharga dan perhiasan kerajaan Nusantara yang terbuat dari emas.

Keberadaan Museum Nasional Indonesia memperlihatkan perjalanan panjang pengumpulan, penelitian, dan pelestarian benda-benda bersejarah. Berbagai koleksi yang tersimpan di dalamnya menjadi bagian dari warisan budaya yang merekam sejarah serta perkembangan peradaban Nusantara. [UN]