Tanah yang retak efek dari kemarau. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

Musim kemarau masih berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, beberapa daerah, terutama wilayah bagian barat dan pegunungan, mulai diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pantauan cuaca terbaru pada akhir pekan ini, sejumlah wilayah yang mulai mengalami hujan atau berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Di Sumatera, wilayah yang mulai diguyur hujan antara lain Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Bengkulu.

Untuk wilayah Riau, hujan juga mulai terjadi atau berpotensi terjadi di sejumlah daerah seperti Pekanbaru, Siak, Bengkalis, dan Kampar.

Sementara di Jawa Barat dan sekitarnya, hujan mulai turun di Bogor, baik Kota maupun Kabupaten, termasuk wilayah Dramaga, Ciampea, Parung, dan Ciapus. Hujan juga terjadi di Depok dan sebagian Tangerang Selatan.

Beberapa laporan warga juga mendapati hujan di Kuningan dan Cianjur. Di luar wilayah tersebut, hujan juga mulai terjadi atau berpotensi terjadi di Kalimantan Barat dan Papua Pegunungan.

Meski hujan mulai turun di sejumlah daerah, BMKG menyebut puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, musim kemarau tahun ini diprakirakan berlangsung selama tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayahnya. Musim kemarau juga berpotensi lebih panjang pada 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia.

“Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026,” kata Faisal dalam keterangan di laman resmi BMKG, Kamis (17/9).

Menurut Faisal, upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat hingga memasuki periode musim hujan. Hal itu terutama karena sejumlah daerah masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Ia menjelaskan, kondisi musim kemarau juga dipengaruhi fenomena El Nino sangat kuat yang masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan hingga beberapa pekan ke depan.

BMKG memprakirakan, pada periode Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni sekitar 0-150 milimeter per dasarian.

Kondisi tersebut menunjukkan pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan masih relatif terbatas. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi itu adalah El Nino kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, musim kemarau masih berpotensi berlanjut di sejumlah wilayah, meski hujan mulai turun di beberapa daerah. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi secara bertahap mulai memasuki peralihan musim hujan pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026. [UN]