Catatan Cak AT:
Ketika media-media asing seperti Al-Jazeera, Yahoo, France24 ikut memberitakan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS, yang bangun sesungguhnya bukan hanya pasar. Ada hantu lama yang ikut terbangun: ingatan kolektif bangsa terhadap 1998.
Di grup WhatsApp, di warung kopi, sampai di kolom komentar media sosial, hantu krisis moneter kembali dipanggil dari alam kuburnya. Seolah-olah angka Rp18.000, apalagi nanti Rp20.000, adalah lonceng yang otomatis membangunkan arwah Reformasi.
Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Jika kejatuhan rupiah ikut menjatuhkan Soeharto pada 1998, maka kejatuhan rupiah hari ini pun diyakini sebagian orang dapat menyeret Prabowo-Gibran ke nasib yang sama. Kurs dolar pun menjelma menjadi hantu.
Masalahnya, sejarah bukan mesin fotokopi. Ia lebih mirip cucu yang mewarisi wajah kakeknya, tetapi tidak selalu mewarisi nasibnya.
Saya coba membuat tujuh atau delapan perbandingan antara kedua rezim dan era, sehingga saya dan moga-moga Anda mempunyai cermin yang lebih utuh.
Perbandingan pertama adalah soal kurs itu sendiri. Tahun 1998 rupiah bukan sekadar tergelincir. Ia seperti truk rem blong yang meluncur dari puncak gunung menuju jurang. Dari sekitar Rp2.500 per dolar, kurs menghantam Rp16.800.
Itu berarti kala itu dolar naik sekitar 572 persen. Setiap utang dolar berubah dari anak kucing menjadi harimau lapar yang menerkam pemiliknya sendiri.
Hari ini, dari kisaran Rp15.500 menuju Rp18.000, pelemahannya sekitar 16 persen. Sepuluh hari lalu, The Economist menyebut penurunan 11 persen. Jika suatu saat rupiah mencapai Rp20.000 per dolar, pelemahannya akan berada di kisaran 29 persen dibanding level Rp15.500.
Ini jelas buruk. Tetapi membandingkannya dengan 1998 sama seperti menyamakan hujan deras dengan tsunami.
Perbandingan kedua adalah cadangan devisa. Menjelang krisis 1998, Indonesia memasuki badai hanya dengan payung kecil yang hampir patah. Cadangan devisa ketika itu sekitar dua puluh miliar dolar. Hari ini payung itu telah berubah menjadi atap baja dengan cadangan devisa di atas seratus empat puluh miliar dolar. Hujan tetap bisa membasahi pakaian, tapi tidak otomatis menghanyutkan seluruh rumah.
Perbandingan ketiga adalah utang luar negeri swasta. Pada dekade 1990-an, banyak perusahaan Indonesia berpesta dengan pinjaman dolar. Musik terdengar merdu, lampu menyala terang, dan semua orang merasa kaya. Masalahnya, pesta itu dibayar dengan kartu kredit yang tagihannya baru datang saat dolar meledak.
Ketika kurs melonjak 572 persen, banyak perusahaan mendadak sadar bahwa mereka sedang berdansa di lantai yang ternyata rapuh. Hari ini risiko itu masih ada, tetapi aturan lindung nilai dan pengawasan jauh lebih ketat dibanding masa lalu.




