Catatan Cak AT:
Dua puluh tahun lalu, dunia media masih percaya pada satu mitos kuno: bahwa kebenaran lahir dari ruang redaksi. Tahun 2006, keyakinan itu dirayakan dengan penuh gaya lewat The Devil Wears Prada.
Itulah salah satu film yang menjadikan majalah sebagai istana, dan seorang editor bernama Miranda Priestly, diperankan Meryl Streep, sebagai ratu yang tidak perlu mahkota untuk ditakuti.
Kini, dua dekade kemudian, sekuelnya hadir: The Devil Wears Prada 2. Ia tetap disutradarai oleh David Frankel, ditulis oleh Aline Brosh McKenna, dan dibintangi kembali oleh Meryl Streep, Anne Hathaway, Stanley Tucci, serta Emily Blunt.
Judul The Devil Wears Prada itu sendiri seperti lelucon mahal yang ditulis dengan tinta emas —terlihat anggun, tapi diam-diam menyengat.
“Devil” di situ bukan makhluk bertanduk yang berkeliaran di neraka, melainkan sosok seperti Miranda Priestly: dingin, presisi, dan begitu berkuasa sampai empati terasa seperti aksesori yang tidak pernah cocok dipakai.
Sementara “Prada” adalah lambang dunia yang serba berkilau —mewah, prestisius, dan memikat mata hingga akal sehat kadang tertinggal di ruang ganti.
Maka ketika keduanya disandingkan, lahirlah sindiran yang nyaris filosofis: bahwa kekuasaan paling keras hari ini tidak lagi tampil kasar, tetapi justru tampil rapi, elegan, dan beraroma mahal.
Ia tidak membentak. Ia memerintah dengan bisikan, tidak menekan dengan tangan besi — tetapi dengan standar yang tak terucapkan.
Menariknya lagi, kisah ini bukan jatuh dari langit imajinasi. Ia berakar dari novel karya Lauren Weisberger (2003), yang pernah menjadi asisten Anna Wintour —nama besar di balik majalah Vogue.
Dari pengalaman itulah lahir dunia yang kemudian difilmkan pada 2006 dan menjadikan Miranda bukan sekadar karakter, tetapi simbol: bahwa di zaman modern, setan tidak perlu berwajah seram —cukup mengenakan Prada, dan dunia akan tunduk tanpa sadar.
Film garapan 2026 ini —yang kini diputar di bioskop-bioskop kita— terasa seperti reuni para bangsawan lama yang kembali berkumpul di ruang dansa. Sementara di luar gedung, dunia sudah berubah menjadi pasar malam digital yang riuh dan tanpa penjaga pintu.
Sekuel berdurasi hampir dua jam ini tidak lahir dalam semalam. Ia disiapkan dalam waktu panjang, penuh kalkulasi, menunggu momentum nostalgia sekaligus kesiapan industri.
Namun seperti banyak proyek nostalgia, ia datang membawa satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah dunia yang dulu mereka ceritakan masih ada? Jawabannya terasa getir: masih ada, tetapi hanya sebagai bayangan.
Majalah fiksi Runway, yang dulu menjadi pusat gravitasi dunia mode, kini tampil dalam film seperti kapal pesiar tua. Lampunya masih menyala, musiknya masih dimainkan, tetapi arah pelayarannya sudah tidak jelas.
Dunia jurnalistik kini telah bergeser jauh. Sangat jauh. Dari cetak ke digital. Dari kurasi ke algoritma. Dari otoritas ke popularitas. Dari ruang redaksi ke ruang publik, di mana siapa pun bisa menjadi penerbit tanpa perlu izin siapa pun.
Dulu, seorang editor seperti Miranda Priestly bisa menentukan apa yang layak dilihat dunia.
Hari ini, keputusan itu diambil oleh sistem tak terlihat bernama algoritma —yang tidak punya selera, tidak punya etika, dan yang paling mengkhawatirkan: tidak punya tanggung jawab.
Di sinilah film ini menjadi menarik sekaligus ironis. Ia mencoba merawat kemegahan dunia jurnalistik lama, sambil diam-diam mengakui bahwa dunia itu sedang runtuh. Media cetak bukan hanya melemah —ia sedang kehilangan tanah pijak.
Kasus dalam cerita —kerja sama _Runway_ dengan industri murah yang berujung krisis reputasi— terasa seperti potret telanjang media hari ini. Sekali viral, selesai sudah. Tidak ada ruang untuk penjelasan panjang. Dunia bergerak terlalu cepat untuk memberi kesempatan kedua.
Miranda tetap tampil anggun, dingin, dan berwibawa. Meryl Streep memainkan peran itu seperti maestro yang tidak pernah kehilangan nada. Namun kini, auranya terasa seperti peninggalan sejarah. Ia masih dihormati, tetapi tidak lagi menentukan arah zaman.
Sementara itu, Andy Sachs —yang dulu hanya dikenal sebagai pembawa kopi Miranda— kini kembali sebagai jurnalis berprestasi di tempat lain. Ia sudah naik kelas, punya nama, bahkan pengakuan profesional.
Namun ironi datang tanpa permisi. Ketika media tempatnya bekerja runtuh dihantam gelombang digital, ia justru kembali ke Runway, dunia lama yang pernah ia tinggalkan.
Sekilas, itu tampak seperti siklus hidup yang berputar, seolah ia kembali ke titik awal untuk melangkah lagi. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Ia sedang mundur, masuk kembali ke ruang yang dulu berkuasa, tetapi kini tidak lagi menjadi pusat permainan.
Film ini memang indah. Sangat indah. Kostumnya seperti puisi yang dijahit dengan benang mahal. Lokasinya —Manhattan, Hamptons, hingga Milan— ditampilkan seperti lukisan bergerak.
Dialog-dialog dalam film terasa tajam, cepat, dan cerdas. Emily Blunt tampil lebih matang dan strategis, sementara Stanley Tucci tetap mencuri perhatian dengan kehangatan yang tenang dan manusiawi.
Namun di balik semua keindahan itu, ada kekosongan yang tidak bisa disembunyikan. Ceritanya terasa seperti _runway_ tanpa tujuan: model berjalan, lampu menyala, kamera berkedip, tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah akhirnya.
Dan mungkin, justru di situlah kejujuran film ini. Ia tidak gagal bercerita. Ia hanya memotret dunia yang memang sedang kehilangan arah. Dunia di mana media tidak lagi menjadi penjaga gerbang informasi —apalagi penjaga akal sehat— melainkan sekadar salah satu pemain dalam arus yang terlalu deras untuk dikendalikan.
Film ini seperti pesta mewah di atas kapal yang perlahan karam. Musik masih dimainkan. Gaun masih berkilau. Senyum masih terjaga. Tetapi arah sudah hilang.
Maka, Runway pada akhirnya bukan sekadar majalah. Ia adalah simbol dari sebuah zaman yang pernah percaya bahwa kualitas akan selalu menang. Zaman yang kini harus berhadapan dengan kenyataan baru: yang cepat mengalahkan yang benar, yang viral mengalahkan yang bernilai.
Film ini indah —bahkan sangat indah. Namun keindahan itu terasa seperti nostalgia yang dibingkai mahal: dipajang, dikagumi, lalu perlahan ditinggalkan.
Dan kita, para penonton, berdiri di ujung runway itu —menyaksikan bukan hanya peragaan busana, tetapi peragaan sejarah yang sedang berjalan pergi tanpa menoleh kembali.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




