Fakta unik lobster. (Foto: Pexels)

Lobster selama ini dikenal sebagai salah satu hidangan laut yang identik dengan harga mahal. Dagingnya kerap disajikan di restoran dan menjadi pilihan bagi pencinta seafood.

Namun, anggapan bahwa lobster sejak dulu merupakan makanan mewah ternyata tidak sepenuhnya benar. Hewan bercangkang keras ini pernah memiliki posisi yang jauh berbeda dalam sejarah kuliner, terutama di Eropa.

Pada abad pertengahan, lobster justru dikenal sebagai makanan bagi masyarakat kurang mampu. Dalam sejumlah catatan sejarah, lobster bahkan dianggap membosankan karena terlalu mudah ditemukan. Hewan laut ini juga pernah dimanfaatkan sebagai obat.

Bagian depan tubuh lobster ditumbuk dan digunakan untuk membantu pengobatan batu ginjal. Dengan demikian, lobster pada masa itu tidak hanya menjadi bahan makanan, tetapi juga dipandang memiliki kegunaan sebagai obat tradisional.

Perubahan citra lobster mulai terjadi pada sekitar 1800-an. Ketika masyarakat perkotaan semakin banyak berkunjung ke wilayah pantai, konsumsi lobster ikut meningkat. Permintaan yang terus bertambah kemudian membuat persediaannya menurun.

Lobster perlahan berubah dari makanan yang dianggap biasa menjadi hidangan bernilai tinggi. Menurut informasi yang dihimpun National Today, perubahan status tersebut juga berkaitan dengan perkembangan perjalanan kereta api yang turut menjadikan lobster sebagai sajian bagi penumpang kelas atas.

Kini, lobster dikenal sebagai salah satu seafood premium. Harganya yang relatif tinggi membuatnya kerap hadir dalam menu restoran dan berbagai perayaan khusus.

Mengapa Lobster Berubah Merah Saat Dimasak?

Selain sejarahnya yang menarik, lobster juga menyimpan sejumlah fakta unik.

Lobster yang hidup di alam umumnya tidak berwarna merah terang seperti yang terlihat di atas piring. Kebanyakan memiliki warna cokelat kehijauan dengan pola atau bintik-bintik pada tubuhnya.

Warna merah yang selama ini identik dengan lobster muncul ketika hewan tersebut dimasak dan terkena panas. Perubahan warna itu berkaitan dengan astaxanthin, pigmen karotenoid berwarna kemerahan yang terdapat dalam makanan lobster dan rantai makanannya.

Karena itu, lobster yang awalnya tampak gelap dapat berubah menjadi merah setelah dimasak.

Lobster Buang Air Kecil dari Dekat Wajah

Fakta lain yang mungkin terdengar tidak biasa adalah cara lobster mengeluarkan urine.

Lobster memiliki organ ekskresi yang disebut kelenjar hijau di bagian dekat antenanya. Karena letaknya tersebut, air urine lobster dikeluarkan dari bagian depan tubuh, tepatnya di sekitar area wajah.

Urine lobster juga berkaitan dengan komunikasi. Senyawa yang terkandung di dalamnya dapat membawa feromon yang berperan dalam interaksi antarlobster.

Saat berhadapan dengan lawan, lobster bahkan dapat menyemprotkan urine ke arah lawannya. Perilaku tersebut menjadi salah satu cara mereka berkomunikasi dalam situasi tertentu.

Punya Dua Perut dan Dua Jenis Capit

Struktur tubuh lobster juga tidak kalah menarik. Lobster memiliki dua bagian perut dengan fungsi yang berbeda dalam proses pencernaan.

Salah satu bagian berada di area yang secara umum dianggap sebagai kepala, tepat di belakang mata. Bagian tersebut memiliki struktur menyerupai gigi yang membantu menghancurkan makanan sebelum diteruskan ke bagian pencernaan berikutnya.

Lobster juga umumnya memiliki dua capit dengan ukuran dan fungsi berbeda.

Capit yang lebih besar dikenal sebagai crusher. Sesuai namanya, capit ini digunakan untuk menghancurkan makanan atau mangsa. Sementara capit yang lebih kecil berfungsi untuk memotong dan mencabik makanan menjadi bagian yang lebih kecil.

Potongan makanan tersebut kemudian dibantu oleh bagian tubuh lobster lainnya untuk dibawa menuju mulut.

Capit juga memiliki peran penting dalam kehidupan lobster. Jika kehilangan salah satunya, lobster memiliki kemampuan untuk menumbuhkan kembali anggota tubuh tersebut melalui proses pergantian kulit.

Lobster Juga Memiliki Masa Kawin

Bukan hanya manusia yang memiliki perilaku sosial dalam hubungan. Lobster juga mempunyai proses perkawinan yang cukup khas.

Pada masa kawin, lobster jantan dan betina dapat berada dalam satu hubungan selama beberapa hari hingga sekitar dua pekan. Dalam proses tersebut, lobster jantan membuahi lobster betina sebelum akhirnya keduanya berpisah.

Siklus hidup lobster kemudian berlanjut melalui telur dan perkembangan larva sebelum menjadi lobster dewasa.

25 September Diperingati sebagai Hari Lobster Nasional

Berbagai fakta tersebut membuat lobster bukan sekadar hidangan laut di meja makan.

Setiap 25 September, Amerika Serikat memperingati National Lobster Day atau Hari Lobster Nasional. Peringatan ini menjadi bagian dari cara mengenang perjalanan lobster dalam kehidupan manusia, termasuk perubahan statusnya dari makanan yang dahulu dianggap biasa hingga menjadi hidangan yang identik dengan kemewahan.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah makanan tidak selalu ditentukan oleh rasanya saja. Ketersediaan, perubahan pola konsumsi, perkembangan perdagangan, hingga cara masyarakat memandang suatu bahan pangan dapat mengubah statusnya secara drastis.

Lobster menjadi salah satu contohnya. Hewan laut yang dahulu dianggap makanan biasa kini justru menjadi simbol hidangan premium yang diburu pencinta seafood. [UN]