Surat-Surat Islami dari Ende: Kenapa Kita Malas dan Teledor!

Surat-Surat Islami dari Ende: Kenapa Kita Malas dan Teledor!

Koran Sulindo – Dalam surat kepada T.A. Hassan kali ini, Bung Karno kembali bertukar pikiran tentang kemajuan dunia Islam termasuk perjuangan rakyat Palestina.

Menurut Bung Karno, seperti umat Islam di tempat-tempat lain di dunia, orang Palestina juga tak lepas dari sikap ‘conventionalisme’ yang tak bakal mampu untuk membuat perubaha radikal.

Bung Karno menganggap mereka terlalu ‘bedak membedaki satu sama lain’ dan membanggakan sesuatu negeri Islam seperti bangga kepada Mesir dan Turki. “Terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga!!” kata Bung Karno.

Kepada T.A Hassan, Bung Karno juga mengeluhkan organisasi-organisasi Islam terkemuka yang tak melakukan apapun untuk membina umat muslim di Flores. Sementara di sisi lain mereka ramai-ramai mencela misi Katholik.

Menurut Bung Karno misi itu pantas membanggakan kerja mereka karena memang ‘bekerja mati-matian’ untuk mengembangkan agama di Flores. Mengembangkan misi merupakan hak dan tidak boleh dicela atau digerutui.

“Tapi kita, kenapa kita malas, kenapa kita teledor, kenapa kita tak mau kerja, kenapa kita tak mau giat? Kenapa, misalnya di Flores, tiada seorangpun mubalig Islam dari sesuatu perhimpunan Islam?,” kata Bung Karno.

Lebih lanjut ia membandingkan, dalam beberapa tahun saja misi berhasil mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores namun berapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores?

“Kalau dipikirkan, memang semua itu ‘salah kita sendiri’, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanya dihinakan orang!,” kata Bung Karno.

Untuk lebih lengkapnya, berikut surat lengkap Bung Karno kepada sahabatnya di Bandung itu.

Ende, 15 September 1935

Assalamualaikum,

Paket pos telah kami ambil dari kantor pos. Kami di Ende semua membilang banyak terima kasih atas potongan 50 persen yang Tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang dan mereka ada maksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, Insa Allah.

Saya sendiri tak kurang-kurang berterima kasih, mendapat hadiah lagi beberapa brosur. Isi brosur Kongres Palestina itu tak mampu menangkap ‘centre need to Islam’.

Di Palestina, orang tak lepas dari ‘conventionalisme’ tak cukup kemampuan buat mengadakan perubahan yang radikal di dalam aliran yang nyata membawa Islam kepada kemunduran. Juga pimpinan kongres itu ada ‘ruwet’, orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya teknik kongres. Program kongres yang terang dan nyata rupanya tak ada.

Orang tidak ‘zakelijk’ dan saya kira di kongres itu orang terlalu ‘meniup pantat satu sama lain’, terlalu ‘caressting each other’, terlalu ‘mekaar lekker maken’. Memang begitulah gambarannya dunia Islam sekarang ini. Kurang roh yang nyata, kurang tenaga yang wujud, terlalu ‘bedak membedaki satu sama lain’, terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam seperti bangga kepada Mesir dan Turki! Terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga!!

Brosur yang lain-lain sedang say abaca. Insya Allah nanti akan saya ceritakan kepada Tuan saya punya pendapat tentang brosur-brosur itu, terutama brosurnya Tuan A.D. Hasnie itu secara sambil lalu. Bisalah sudah saya katakanan bahwa ‘cara pemerintahan Islam’ yang diterangkan di situ tidaklah memusakan saya karena kurang ‘up to date’.

Begitulah hukum keadaan kenegaraan Islam? Tuan A.D. Hasnie menerangkan bahwa demokrasi perlementer itu cita-cita Islam. Namun, sudahkah demokrasi parlementer itu menyelamatkan dunia?

Memang sudah satu anggapan tua bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara pemerintahan. Juga Moh. Ali, di dalam ia punya tafsir Al-Quran yang terkenal, mengatakan itu idealnya Islam. Padahal, ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi, yang bisa dikatakan cocok dengan azas-azas Islam!

Brosur almarhum H. Fachroeddin akan berfaedah pula bagi saya karena saya sendiripun banyak bertukar pikiran dengan kaum pastur di Ende. Tuan Tahu itu ada ‘pulau misi’ yang mereka sangat banggakan. Dan memang ‘pantas’ mereka membanggakan mereka punya pekerjaan di Flores itu. Saya sendiri melihat bagaimana mereka ‘bekerja mati-matian’ buat mengembangkan mereka punya agama di Flores.

Saya ada ‘repect’ buat mereka punya kesukaan pekerjaan itu. Kita banyak mencela misi, tetapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam?

Bahwa misi mengembangkan ‘roomskatholictisme, itu adalah mereka punya ‘hak’, yang kita tidak boleh cela dan gerutui. Tapi ‘kita’, kenapa ‘kita’malas, kenapa ‘kita’ teledor, kenapa ‘kita’ tak mau kerja, kenapa ‘kita’ tak mau giat? Kenapa, misalnya di Flores, tiada seorangpun mubalig Islam dari sesuatu perhimpunan Islam yang ternama (misalnya Muhammadiyah) buat mempropagandakan Islam di situ buat orang kafir?

Misi dalam beberapa tahun saja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores, tapi beberapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores itu? Kalau dipikirkan, memang semua itu ‘salah kita sendiri’, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanya dihinakan orang!

Kejadian di Bandung yang tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, sebagian belum. Misalnya, saya belum tahu bahwa Tuan punya anak telah dipanggil ke tempat asal. Saya bisa menduga Tuan punya duka cita dan saya pun semakin insaf bahwa manusia punya hidup adalah sama sekali di dalam genggaman Ilahi.

Yah, kita harus tetap tawakal dan haraplah Tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakal dan haraplah Tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakal itu kepada Saudara-Saudara yang lain-lain, yang tertimpa kesedihan.

Sampaikan salamku kepada semua.

Wassalam

Soekarno

Publisher The Spirit of Islam kini saya sudah tahu: Doran& Co, New York. Saya sudah dapat persanggupan ongkosnya dari saya punya mbakyu dan sudah pesan buku itu. Saya ingin tahu pendapat Ameer Ali, apakah yang menjadikan kekuatan Islam dan apakah sebabnya ‘semangat kambing’ sekarang ini. Cocoklah dengan pendapat dengan pendapat saya atau tidak?

[TGU]