Bung Karno dan Inggit Ganarsih di Ende Flores. (foto:nrmnews.com)

Koran Sulindo – Menghabiskan hari-harinya di balik jeruji Penjara Sukamiskin, Bung Karno banyak memanfaatkan waktu senggangnya untuk mempelajari Islam dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hal itu juga yang dilakukannya ketika menjalani masa-masa pembuangannya di Ende, Kepulauan Flores.

Tiba di Ende bulan Februari 1934 sebagai tahanan politik, gerak-gerik Bung Karno terus diawasi dengan sangat ketat oleh pemerintah Belanda.

Meski tak boleh sama sekali terlibat dalam urusan politik, Bung Karno tak dilarang berkorespondensi dengan kawan-kawannya dari Persatuan Islam di Bandung yang oleh Belanda tak dipandang sebagai organisasi politik.

Dalam korespondensinya dari Ende dengan T. A Hassan seorang guru Persis Bandung, Bung Karno banyak mengungkapkan pandangannya mengenai Islam dan hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat.

Berikut Koransulindo secara rutin akan menampilkan korespondensi Bung Karno selama menjalani pembuangan di Enda.

Surat pertama Bung Karno dari Ende berisi permintaan untuk mengirim buku-buku keagamaaan. Berikut cuplikan lengkapnya.

Ende, 1 Desember 1934

Assalamualaikum,

Jika saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku tersebut di bawah ini.

  1. Pengajaran Salat
  2. Utusan Wahabi
  3. Al-Muchtar
  4. Debat Talqin
  5. Al-Burhan komplit
  6. Al-Djawahir

Kemudian daripada itu, jika saudara-saudara ada sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal sayid. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini.

Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan sulit daripada soal sayid itu toh menurut keyakinan saya, salah satu kecelaa Islam zaman sekarang ini ialah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu.

Alasan-alasan kau sayid, misalnya mereka punya brosur “Bukti Kebenaran”, yang sudah say abaca tetapi tidak bisa meyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira bahwa Islam mengenal suatu ‘aristokrasi Islam’. Tiada suatu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam.

Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwanya suatu agama dan umat. Karena itu, pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebinasaan.

Sebelum dan sesudah terima buku-buku, yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucap beribu-ribu terima kasih.

Wassalam

Soekarno

Pada surat kedua kepada kawan-kawannya dari Persis, selain mengucapkan terima kasih, Bung Karno juga menyatakan bahwa kiriman buku-buku gratis dan kartu pos telah diterima. Berikut suratnya:

Assalamualaikum.

Kiriman buku-buku gratis beserta kartu pos telah saya terima dengan  girang hati dan terima kasing yang tiada hingga. Saya jadi termenung sebentar karena merasa tak selayaknya dilimpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Pemurah!.

Pada hari ini, semua buku dari anggitan saudara yang ada pada saya, sudah habis say abaca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca Buchari dan Muslim yang sudah tersalin dalam Bahasa Indonesia atai Inggris?

Saya perlu kepada Buchari atau Muslim itu karena di situlah dihimpunkan hadis-hadis yang dinamakan sahih. Padahal, saya membaca keterangn dari salah seorang pengenal Islam berbahasa Inggris, bahwa di Buchari-pun masih terselip hadis-hadis yang lemah.

Dia pun menerangkan, bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyaklah karena hadis-hadis lemah itu, yang sering lebih ‘laku’ daripada ayat-ayat Al-Quran.

Berapa besarkan kebencanaan yang telah datang pada umat Islam dari, misalnya ‘hadis’ yang mengatakan bahwa ‘dunia’ bagi orang Nasrani, akhirat bagi orang Muslim atau hadis satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada beribatat satu tahun, atau hadis orang-orang mukmin harus lembek dan menurut seperti unta yang telah ditusuk hidungnya!

Dan adakan Persatuan Islam sedia  sambungannya Al-Burhan I-II?

Pengetahuan saya tentang ‘wet’ masih kurang banyak. Pengertahuan wet saya ingin sekali perluaskan sebab di dalam praktik sehari-hari, umat Islam sama seklai dikuasai oleh ‘wet’ itu sehingga ‘wet’ mendesak kepada ‘Dien’.

Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda, antara lain ia punya ‘inleding’ di “Komt tot het gebeg” adalah menarik hati.

Wassalam dan Silaturahmi

Soekarno

(TGU)