Penelitian Foster dan Rahmstorf memberikan pesan yang jauh lebih serius dari sekadar kabar bahwa suhu Bumi meningkat.

Selama beberapa dekade, manusia merasa masih mempunyai banyak waktu untuk mengatasi pemanasan global. Kini, data menunjukkan bahwa laju pemanasan semakin cepat. Waktu yang tersedia semakin sedikit.

Kita memang tidak boleh menafsirkan angka 98 persen sebagai kepastian bahwa seluruh ramalan bencana akan terjadi persis seperti yang dibayangkan.

Sains bekerja dengan pengukuran, model, probabilitas, dan pembaruan bukti. Namun, kita juga tidak pantas menggunakan ketidakpastian ilmiah sebagai alasan untuk menunda tindakan.

Dunia membutuhkan pengurangan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil secara cepat hingga mencapai nol bersih, dengan pemangkasan emisi secepat mungkin.

Rahmstorf mengingatkan bahwa masa depan suhu Bumi pada akhirnya sangat bergantung pada seberapa cepat manusia menghentikan emisi CO2 dari sumber energi fosil.

Di sinilah persoalan iklim berubah menjadi persoalan politik, ekonomi, moral, dan peradaban.

Pemerintah harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer bagi kepentingan bisnis jangka pendek.

Perusahaan harus berhenti memperlakukan alam sebagai gudang bahan baku tanpa batas. Masyarakat perlu mengubah pola konsumsi dan penggunaan energi.

Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini mengajak kita merenungkan hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.

Alam memiliki keseimbangan yang harus kita jaga. Ketika manusia terus mengambil tanpa memulihkan, keseimbangan itu terganggu.

Bumi tidak mempunyai tombol darurat yang dapat kita tekan ketika suhu sudah terlalu tinggi. Kita juga tidak bisa memanggil petugas pemadam untuk mendinginkan atmosfer.

Satu-satunya jalan ialah mengurangi sumber pemanasan dan memulihkan daya dukung alam.

Jangan menunggu Bumi berubah menjadi tungku raksasa sebelum kita sadar bahwa rumah ini sedang terbakar.

Sebab, ketika api sudah menjalar ke seluruh ruangan, penyesalan hanya menjadi asap yang ikut naik ke atmosfer.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis