Sebenarnya, konsep sosialisme Bung Karno paling jelas terdapat dalam bukunya, “SARINAH—Kewajiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia”, yang dicetak ulang pada 1963. Buku itu adalah rangkuman kuliah Bung Karno kepada pemimpin pergerakan wanita Indonesia, di Istana Negara Yogyakarta, pada 1946.

“Saya bercita-cita sosialis, maka saya menulis buku ini. Justru oleh karena saya mengidam-idamkan masyarakat sosialis, maka kita harus mengetahui bagaimana caranya kita dapat sampai di masyarakat sosialis itu,” tulis Bung Karno.

Menurutnya, sosialisme bukan saja satu sistem masyarakat, namun juga teori, ilmu, tuntunan-perjoangan, dan cara berfikir.

“Oleh karena itu, janganlah kita sekedar berangan-angan sosialisme, — meski sosialisme yang ‘okjektif’ sekalipun! – tetapi kita harus memfahami teori sosialisme, memfahami cara berfikir sosialisme, berilmu sosialisme. Berilmu sosialisme, agar supaya tahu caranya berjoang mencapai sosialisme!”

Setelah melakukan dekrit pada 1959, Bung Karno menjadikan Manipol/USDEK sebagai Konsep Sosialisme Indonesia.

Dalam amanatnya pada ulang tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1961, yang kemudian dibukukan dan diberi judul “Resopim, Revolusi-Sosialisme Indonesia, dan Pimpinan Nasional”, Bung Karno menegaskan tiap-tiap kegiatan harus berdasarkan atas Konsep Sosial yang jelas, yaitu Konsep Manipol/USDEK, Konsep Sosialisme Indonesia.

Namun Bung Karno kemudian diturunkan sebagai presiden dan wafat pada 1970. Ia tak sempat mewujudkan sosialisme yang ia cita-citakan. [DAS]

* Tulisan ini pertama dimuat pada November 2017