Presiden Soekarno berpidato dalam perayaan Natal di Gereja Protestan Yogyakarta, Desember 1947/Ipphos-Perpustakaan Nasional

Koran Sulindo – Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, setelah Jepang bertekuk lutut di hadapan Sekutu yang berisi Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat, tentara Belanda ikut membonceng tentara Sekutu yang bertugas melucuti dan memulangkan tawanan Jepang.

Tentara Belanda itu, Netherlands-Indies Civil Administration (NICA, adalah teroris. Mereka meneror penduduk Indonesia yang pro kemerdekaan. Situasi Jakarta sangat tidak aman. Tentara NICA menembak membabi buta. Jika melihat seseorang mengenakan lencana merah putih, mereka memaksa agar orang itu menelan lencananya.

NICA mencoba membunuh Soekarno berkali-kali karena itu Soekarno tidur berpindah-pindah tempat tiap malam. Mereka pernah sengaja menabrak mobil yang dikendarai Soekarno. Untungnya Soekarno selamat.

Pada 3 Januari 1946, menyadari situasi makin gawat, Soekarno menggelar rapat memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Yogya dirasa aman dari gangguan NICA dan fasilitas kota kecil itu memadai untuk menjadi ibu kota sementara.

“Kita akan memindahkan ibu kota besok malam. Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak,” kata Soekarno, seperti ditulis Cindy Adams (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia; 1966)

Bagaimana berangkat ke Yogya tanpa diketahui NICA?. Jika ketahuan, habislah seluruh pemimpin negeri ini pada awal-awal berdirinya.

Maka disusunlah satu rencana: setelah gelap, sebuah gerbong kereta dan lokomotif yang dimatikan lampunya berhenti di belakang rumah Soekarno yang terletak di pinggir rel.

“Dengan diam-diam, tanpa bernapas sedikit pun, kami menyusup ke gerbong. Orang-orang NICA menyangka gerbong itu kosong,” kata Soekarno dalam buku itu.

“Seandainya kami ketahuan, seluruh negara dapat dihancurkan dengan satu granat. Dan kami sesungguhnya tidak berhenti berpikir apakah pekerjaan itu akan berlangsung dengan aman. Sudah tentu tidak. Tetapi republik dilahirkan dengan risiko. Setiap gerakan revolusioner menghendaki keberanian.”

Pada 4 Januari 1946 malam, kereta api itu tiba Yogyakarta.

Kota Heritage Soekarno

Yogyakarta memang kota yang nampaknya disukai Bung Karno setelah itu. Pada akhir November 2015, The Sukarno Center bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan The President Sukarno Heritage List 2015 Wilayah DIY di Bangsal Kepatihan Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, putri Proklamator RI, Sukmawati sekaligus Pembina The Sukarno Center mengatakan Trisakti merupakan 3 pedoman jalan menuju suatu bangsa yang besar.

“Upaya ini kami lakukan untuk mengumpulkan dan melestarikan jejak Sukarno di lingkup ruang publik mulai Sabang sampai Merauke,” kata Ketua Panitia Peluncuran The President Sukarno Heritage List 2015 Wilayah DIY, Jero Putu Rudy Warmasada.

Menurut Jero, Yogyakarta merupakan salah satu kota yang paling banyak memiliki situs yang berhubungan dengan jejak sejarah Sang Proklamator. Yogyakarta juga menjadi tempat dilantiknya Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS).

“Yogyakarta juga merupakan kota yang paling sering dikunjungi dan menginspirasi beliau semasa hidupnya,” kata Jero.

Beberapa objek yang ditetapkan sebagai situs Bung Karno antara lain Keraton Yogyakarta, Puro Pakualaman, Universitas Islam Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Museum Affandi, dan Candi Ratu Boko.

Penetapan situs-situs tersebut akan menjadi bagian bahan penyusunan ensiklopedi Soekarno yang akan diluncurkan pada 2020.

Di kota yang sangat penting dalam masa perjuangan fisik itu, pelan-pelan Bung Karno membangun Indonesia yang berbhinneka-bhinneka itu.

Dalam kapasitasnya sebagai kepala negara bagi semua penganut agama, misalnya, Presiden Soekarno pernah menghadiri perayaan Natal 1947 di Yogyakarta, dan menyampaikan pidato di depan umat

Perayaan natal diselenggarakan oleh umat Katolik dan Protestan Yogya bertempat di gereja Kristen Protestan, yang letaknya persis sebelum Gedung Agung (Istana presiden Yogyakarta), jika dilihat dari sebelah utara.

Di gereja kecil itu, Soekarno sempat berpidato sebentar.

Foto yang dimiliki Perpustakaan Nasional RI sejak 2006 itu adalah dokumen Ipphos. Aslinya terdapat 10 foto dalam 1 amplop. [jogjaprov.go.id/perpusnas.go.id/DAS]