Sejarah Romawi tidak kekurangan kisah tentang penaklukan, pengkhianatan, maupun kebesaran seorang pemimpin militer. Namun, tidak banyak tokoh yang kisah hidup dan kematiannya begitu sarat makna seperti Julian—seorang filsuf yang menjadi kaisar, dan kaisar yang memilih jalan paganisme di tengah kekristenan yang sedang bangkit.
Dalam banyak hal, Julian bukan sekadar pemimpin militer; ia adalah simbol dari perlawanan terhadap arus besar zaman yang tengah berubah. Ia menolak ajaran dominan pada masanya, menghidupkan kembali semangat kuno Romawi, dan dengan penuh keyakinan memimpin pasukannya ke timur untuk memperluas kejayaan Kekaisaran.
Ekspedisinya ke Persia pada tahun 363 M bukanlah sekadar kampanye militer biasa. Ini adalah perwujudan dari visi besar seorang penguasa yang ingin mengembalikan kejayaan imperium ke masa keemasan, seperti yang pernah dicapai Alexander Agung.
Julian memimpikan kemenangan besar atas musuh bebuyutan Romawi di Timur yaitu Kekaisaran Sasaniyah. Namun seperti halnya banyak ambisi besar dalam sejarah, kenyataan di lapangan ternyata jauh lebih kejam dari harapan. Persiapan logistik yang tidak sempurna, kondisi geografis yang tidak bersahabat, serta perpecahan aliansi menjadi bayang-bayang yang perlahan menggiring ekspedisi ini menuju kegagalan.
Namun yang membuat kisah ini begitu menyentuh bukan hanya karena Julian gagal, tetapi karena ia memilih untuk berada di garis depan bersama pasukannya, menolak kenyamanan dan perlindungan seorang kaisar. Ia bertempur bersama tentaranya, terluka bersama mereka, dan pada akhirnya, wafat tanpa mahkota, tanpa pewaris, dan tanpa kemenangan.
Dalam kekacauan setelah kematiannya, pasukan Romawi harus mengambil keputusan cepat, dan lahirlah kepemimpinan darurat di bawah seorang perwira yang sebelumnya nyaris tak dikenal: Jovian.
Apa yang terjadi setelah itu bukan sekadar episode politik singkat, melainkan transisi penting yang menandai pergeseran arah strategi Kekaisaran Romawi. Dari ekspansi agresif menuju upaya penyelamatan diri. Dari kemenangan yang dibayangkan menjadi perjanjian damai yang menyakitkan. Dari Julian yang penuh api idealisme, menuju Jovian yang dibebani kompromi.
Di tengah ambisi besar Kekaisaran Romawi untuk menguasai Timur, pada tahun 363 M Kaisar Julian—dikenal juga sebagai Julian the Apostate—memimpin ekspedisi militer yang berani dan ambisius ke jantung Kekaisaran Sasaniyah, Persia.
Target utama kampanye ini adalah kota Ctesiphon, ibu kota musim dingin Persia yang kuat dan megah, di bawah kendali Raja Shapur II. Namun, di balik semangat juang yang menyala, tersimpan skenario tragis yang kelak menjadi penutup karier politik Julian dan mengubah jalur sejarah Kekaisaran Romawi secara drastis.
Ekspedisi yang Berani, Strategi yang Gagal
Julian memulai ekspedisinya dengan kekuatan besar, menyerbu Mesopotamia dan menghancurkan beberapa kota benteng di sepanjang jalur maju. Ia bahkan berhasil mengalahkan pasukan Persia dalam pertempuran yang terjadi di luar tembok kota Ctesiphon.
Namun, keberhasilan ini segera terhenti ketika pasukan sekutu dari Armenia yang dijanjikan tidak kunjung tiba, dan kota Ctesiphon terbukti terlalu kuat untuk dikepung secara langsung.
Menghadapi kenyataan pahit itu, Julian memutuskan langkah drastis, ia membakar armada logistik Romawi sendiri untuk menghindari penyitaannya oleh pihak musuh, lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur kembali ke wilayah Romawi. Namun, keputusan ini membawa bencana.
Persia menerapkan taktik bumi hangus dan secara terus-menerus mengganggu jalur mundur Romawi. Kekurangan perbekalan, kelelahan, dan serangan bertubi-tubi membuat kondisi pasukan Romawi semakin terpuruk.
Pada 26 Juni 363 M, di dekat Samarra, pasukan Romawi kembali disergap oleh Persia. Dalam pertempuran mendadak itu, Julian, yang tidak mengenakan zirah karena cuaca panas, memilih untuk turun langsung ke medan perang memimpin pasukan cadangan.
Tanpa perlindungan yang memadai, ia terkena lemparan tombak dari musuh dan jatuh dari kudanya. Julian segera dibawa ke tenda dalam keadaan tidak sadar, dan mengembuskan napas terakhirnya pada tengah malam akibat luka-luka yang dideritanya.
Tragisnya, Julian wafat tanpa sempat menunjuk penerus resmi. Ia meninggalkan pasukan dalam kondisi genting, tanpa pemimpin yang sah, dan tanpa arah yang jelas di tengah wilayah musuh.
Jovian: Pemimpin Darurat di Tengah Krisis
Keesokan harinya, para jenderal Romawi segera berkumpul dalam suasana genting untuk memilih pemimpin baru. Upaya awal untuk mengangkat Salutius Secundus gagal karena penolakannya. Akhirnya, Jovian, seorang perwira pengawal kekaisaran yang sebelumnya tidak dikenal secara luas, ditunjuk sebagai kaisar oleh dewan militer. Bahkan, sempat beredar kabar bahwa terjadi kesalahan identitas karena terdapat dua perwira bernama Jovian dalam lingkungan militer saat itu.
Jovian segera mengambil alih kepemimpinan dan berupaya menyelamatkan sisa pasukan Romawi yang kelelahan, lapar, dan secara moral hancur. Menyadari situasi yang semakin memburuk serta tekanan dari pasukan Persia yang terus meningkat setelah kabar kematian Julian tersebar, Jovian memilih jalan damai.
Ia menandatangani perjanjian perdamaian dengan Persia yang amat merugikan yaitu Romawi menyerahkan beberapa wilayah penting di perbatasan termasuk Nisibis dan Singara, serta mengakhiri aliansi strategis dengan Armenia.
Akhir dari Ambisi Timur
Kematian Julian dan naiknya Jovian menandai titik akhir dari ambisi Kekaisaran Romawi untuk menaklukkan Persia secara militer. Perjanjian damai yang dipaksakan menandai kekalahan diplomatik dan strategis Romawi, sekaligus membuka babak baru dalam hubungan Timur-Barat yang lebih defensif daripada ekspansionis.
Lebih dari sekadar kematian seorang kaisar, peristiwa ini menjadi cerminan betapa rapuhnya impian imperialisme ketika tidak dibarengi dengan kesiapan logistik dan koordinasi strategis. Julian, sang filsuf dan prajurit, meninggal sebagai martir ambisi Romawi, sementara Jovian memulai kekuasaannya dengan beban kompromi yang tidak pernah diinginkannya.
Tanggal 26 Juni 363 M tercatat dalam sejarah Romawi sebagai hari gugurnya salah satu pemimpin paling idealis dan kontroversialnya. Sebuah tragedi di tengah padang pasir Persia yang mengubah arah sejarah Kekaisaran Romawi selamanya. [UN]


