Beragam Pemanfaatan Kayu Cendana

SEJAK ABAD ke-13 pohon cendana dan gaharu di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah dua komoditi yang paling dicari oleh pedagang Persia dan Gujarat. Kedua pohon itu dicari karena memiliki nilai jual tinggi untuk bahan baku parfum.

Cendana dan gaharu sudah mulai diburu sebelum kedatangan Portugis ke Indonesia pada tahun 1500-an. Oleh para pedagang persia dan Gujarat ini, cendana dan gaharu diperkenalkan kepada dunia. Mengingat, jangkauan perdagangan mereka sangat luas. Diduga, bermula dari cendana dan gaharu itulah bangsa Eropa mulai datang ke Indonesia.

Tidaklah berlebihan pendapat di atas tentang tanaman ini, Timor memang merupakan tempat asal tumbuhnya cendana secara alami. Cendana (Santalum album L.) pada mulanya diperkirakan berasal dari India, karena dijumpainya tegakan alami cendana di daerah Mysore dan daerah sekitarnya, di bagian selatan India (Bentley dan Trimen, 1880). Akan tetapi kebanyakan pakar botani umumnya lebih meyakini bahwa pohon cendana berasal dari kepulauan Indonesia (Fischer, 1938; Felgas 1956; van Steenis, 1971), yaitu di Kepulauan Busur Luar Banda (the Outer Banda Arc of Islands) yang terletak di sebelah Tenggara Indonesia, dan yang terutama di antaranya adalah pulau Timor dan Sumba.

Sejarah perdagangan kayu cendana di masa lampau, ikut menunjang bahwa pohon cendana merupakan tumbuhan asli di Nusa Tenggara Timur terutama di pulau Timor dan Sumba. Pedagang dari berbagai bangsa datang untuk berdagang ke wilayah ini, dengan komoditas utamanya kayu cendana.

Cendana merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, hingga sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Di Sri Lanka, kayu ini digunakan untuk membalsem jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. 

Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, Flores, Sumba, Solor, Adonara, Lomblen, Pantar, Timor, Rote, dan Sabu. Cendana juga tumbuh di Pulau Jawa dan Papua. Cendana ada dua macam. Cendana merah dan cendana putih. Cendana Merah banyak tumbuh di daerah Funan dan India, sedangkan Cendana Putih banyak tumbuh di Indonesia. Dari segi kualitas, keduanya berbeda. Cendana Merah relatif kurang harum dan kualitasnya kurang bagus sehingga tidak terlalu laris.

Maka tidak mengherankan, cendana dari Indonesia menjadi buruan dunia. Berdasarkan data Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH), pada periode 1986-1992, pengapalan kayu cendana dari Nusa Tenggara Timur mencapai Rp2,5 miliar per tahun atau berkontribusi 40% terhadap pendapatan provinsi tersebut. Pada periode 1991-1998 ekspor cendana dari NTT mengalami penurunan dan kontribusinya terhadap PAD juga menyusut menjadi hanya 12 persen-37 persen. Penurunan ekspor berlanjut hingga pada 1997 tidak ada ekspor lagi dari daerah ini.

Belakangan ekspor cendana dilakukan dari Kabupaten Merauke. Ekspor perdana kayu cendana Merauke dilakukan pada 2007 sebanyak 90 ton dengan tujuan pasar Taiwan. Saat itu, pemerintah memberikan kuota ekspor dari daerah ini sebanyak 1.500 ton per tahun.

Akan tetapi, eksploitasi berlebih, kebakaran hutan, keterbatasan penanaman, masalah sosial ekonomi, dan kepemilikan cendana telah menyebabkan populasi tanaman cendana terus mengalami penurunan. “Upaya untuk mengembalikan kejayaan cendana di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pengembangannya di daerah-daerah lain seperti di Yogyakarta perlu dukungan dan sinergi dari berbagai pihak,” kata Kepala Badan Litbang dan Inovasi-KLHK Agus Justianto pada Webinar Biotifor 2020 Seri 2 : Cendana bertajuk Tantangan dan Peluang Pengembangan Cendana Mendukung Hutan Rakyat dan Rehabilitasi Lahan.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Nur Sumedi mengatakan pentingnya menyebarluaskan capaian hasil penelitian dan pengembangan atau litbang terkait dengan pemuliaan cendana. Saat ini, B2P2BPTH telah melakukan penelitian cendana, terutama terkait dengan konservasi sumberdaya genetik, kandungan minyak, dan perbanyakan vegetatif. Selain itu dibangun tegakan konservasi genetik di lokasi KHDTK Watusipat, Gunungkidul, DIY (sebagai areal sumberdaya genetik/ASDG) untuk mendukung upaya pemuliaan tanaman “Konservasi sumberdaya genetik merupakan Program Konservasi SDG sejak 2001. Dilakukan koleksi materi genetik dari sebaran alam dan ras lahan, yaitu dari Pulau Timor, Pulau Sumba, Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Rote, Pulau Flores, dan ras lahan DIY,” kata Liliek Haryjanto, peneliti pada B2P2BPTH.

Rudi Lismono, Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK NTT, mengatakan keharuman cendana perlu dikembalikan kembali dengan meningkatkan pengelolaan budidaya. Menurutnya, penanaman cendana di wilayahnya pada periode 2010-2018 mencapai 3.344.317 tanaman. “Tiga alasan perlu mengembalikan harum cendana di Nusa Tenggara Timur, yaitu tanaman cendana memiliki keunggulan komparatif karena merupakan spesies endemik NTT dengan kualitas terbaik di dunia, mempunyai nilai ekonomi tinggi, perlu dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat, dan mengembalikan peran cendana untuk berkontribusi terhadap PAD NTT,” ujar Rudi. [KY]