Ilustrasi: Kweekschool Padang Sidempuan /akhirmh.blogspot.co.id

Koran Sulindo – Dunia pendidikan merupakan hal terbaik yang dihasilkan kebijakan Politik Etis Hindia Belanda. Salah satu hasil penting penerapan Politik Etis dalam masyarakat Hindia Belanda sejak akhir abad 19 adalah telah menimbulkan semacam “pertukaran mental” antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung Politik Etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.

Sebagaimana sejumlah daerah lain di Hindia-Belanda, wilayah afdeeling Mandailing-Angkola juga terimbas semangat politik etis tersebut. Di masa itu berbagai fasilitas pendidikan yang menjadi ujung tombak Politik Etis telah berkembang pesat di sejumlah kota kecil di sana, seperti Padang Sidempuan, Penyabungan, dan Sipirok.

Di salah satu pelosok Tapanuli, Natal, Eduard Douwes Dekker – yang kemudian dikenal sebagai Multatuli—mengawali karirnya sebagai ambtenaar Hindia-Belanda. Awal tahun 1842, Eduard, yang masih berusia 22 tahun, ditugaskan sebagai kontrolir di Natal– sebuah kota kecil di Pantai Barat Sumatra yang terpencil.

Menurut catatan William Frederik Hermans dalam bukunya, menjadi pejabat pemerintah di usia sangat muda (waktu itu orang baru dianggap dewasa kalau sudah mencapai usia 23 tahun), membawa hal-hal yang tidak pernah dipelajarinya di negeri Belanda. Eduard tak sampai tiga tahun bertugas di Natal. Karena kecerobohan admistratif yang dilakukannya, ia kemudian dipindah tugaskan ke Batavia. Kelak beberapa tahun kemudian, ia bertugas di Lebak, lantas menuliskan kisahnya dalam novelnya yang sangat terkenal di seluruh dunia: Max Havelaar.

Kembali ke wilayah Tapanuli, keadaan politik yang relatif stabil di bawah pemerintahan kolonial, menyebabkan kemajuan ekonomi dan peningkatan prasarana dan sarana di daerah tersebut. Harga-harga kebutuhan pokok turun drastis, terutama setelah dibuka jalan raya yang menghubungkan wilayah Tapanuli dengan Deli, hingga Sibolga dan Padang. Sarana lalu lintas yang baru sangat memudahkan perdagangan sehingga barang-barang yang belum pernah dikenal menjadi tersedia. Lapangan kerja semakin luas dengan berbagai macam pekerjaan yang sebelumnya tidak dikenal. Sistem pendidikan modern menjadi sarana mobilisasi sosial yang membuka peluang kepada golongan masyarakat bawah, dan kesehatan modern mendorong kesejahteraan rakyat. (Kozok 2010, 78)

Sejak pertengahan abad ke 19 afdeeling  Mandailing-Angkola juga berubah secara ekonomi dan budaya. Wilayah yang pernah luluh-lantak akibat serangan Kaum Paderi itu berkembang pesat. Jalan-jalan dibangun untuk membuka daerah itu bagi perdagangan. Para pegawai pemerintah kolonial berusaha membersihkan kampung-kampung dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak higenis dan dinilai biadab. Tenaga medis yang menangani kesehatan, antara lain dua orang lulusan sekolah kedokteran untuk kaum pribumi di Batavia, School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), yang pulang ke kampung halaman, pada tahun 1857. Kedua tokoh itu adalah Si Asta dan Si Angan.

Di masa itu pula, Willem Iskander atau Satie Nasution, yang baru pulang dari Belanda, membuka sekolah guru di Tanobato pada 1862. Kepeloporan Willem Iskandar dalam pendidikan pribumi diakui.

Ia pula yang memulai tradisi menulis buku modern dengan menggunakan kertas dan aksara Latin. Willem Iskander menulis buku ketika masih studi di Negeri Belanda.  Buku yang dihasilkan Willem Iskander, antara lain, berjudul ‘Boekoe Parsipodaon di Dakdanak di Sikola’,diterbitkan pertama kali 1862. Buku ini merupakan buku pelajaran sekolah yang pertama ditulis oleh pribumi. Buku lainnya dari Willem Iskander yang diterbitkan adalah: Hendrik Nadenggan Roha, yang merupakan terjemahan dari De Brave Hendrik (karangan Nicolaas Anslijn), diterbitkan di Padang oleh penerbit Van Zadelhoff, 1865;  Barita na Marragam, merupakan saduran dari buku karangan J.R.P.F. Gongrijp, Batavia 1868;  Baku Basaon, terjemahan buku karangan W.C. Thurn. Batavia, 1871.

Buku hasil karya Willem Iskander yang sangat terkenal berjudul ‘Si-Boeloes-boeloes, Si-Roemboek-roemboek: Boekoe Basaon’, diterbitkan pertama kali di Batavia oleh Landsdrukkerij (Percetakan Negara) tahun 1872. Buku ini merupakan kumpulan prosa dan puisi Willem Iskander sendiri. Pada tahun 1903 dan 1906 dan 1915 buku ini dicetak ulang. Buku ini diterbitkan kembali tahun 1976, diterjemahkan oleh Basyral Hamidy Harahap ke dalam bahasa Indonesia.

Karena Sekolah Tanobato kualitasnya bagus, dua tahun kemudian diambil-alih pemerintah kolonial dan dijadikan sebagai sekolah guru negeri atau Kweekschool. Sekolah guru ini merupakan yang ketiga didirikan di Hindia-Belanda, setelah di Soerakarta dan Fort de Kock (Bukit Tinggi).

Setelah berjalan beberapa lama dan dinilai cukup berkualitas, Kweekschool Tanobato direncanakan untuk ditingkatkan kapasitasnya dan dipindahkan ke Padang Sidempuan. Willem Iskander sendiri kemudian dikirim pemerintah untuk studi ke Negeri Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah. Kweekschool Tanobato kemudian ditutup, dan Willem Iskander berangkat ke Belanda lagi di tahun 1875. Tapi, setahun kemudian, Willem Iskander meninggal dunia di Belanda.

Diaspora Alumni Kweekschool Padang Sidempuan

Pada 1871, Padang Sidempuan telah ditetapkan sebagai ibukota Afdeeling Mandailing Angkola, menggantikan Panjaboengan. Pertumbuhan Padang Sidempuan di paruh kedua abad ke- 19 itu terbilang pesat. Hal ini terlihat dari berbagai fasilitas umum yang diperuntukkan terutama untuk orang-orang Eropa dan pegawai (ambtenaar) pemerintah kolonial dan kaum bangsawan setempat. Memang, di masa itu komunitas orang-orang Eropa di Padang Sidempuan dari waktu ke waktu makin bertambah. Orang-orang Belanda yang tinggal di Padang Sidempuan selain pejabat pemerintah dan kalangan guru, juga ada wisatawan, peneliti, serta investor perkebunan kopi. Juga polisi dan pasukan militer.

Pada 1880, di Padang Sidempuan sudah tersedia berbagai fasilitas umum dan pendidikan yang cukup memadai, seperti: garnisun/markas militer, kantor dan rumah dinas Residen dan para pejabat pemerintah kolonial lainnya, kantor pos dan telegraf, pasar, rumah sakit, pengadilan dan penjara, pesanggrahan, beberapa sekolah dasar, dan sebuah sekolah guru.

Pada 1873, Departement van Onderwijs di Batavia merencanakan pendirian sekolah dasar pemerintah atau Inlandsche School, jumlahnya sebanyak 10 sekolah di seluruh Keresidenan Tapanoeli.

Dari sepuluh sekolah dasar pemerintah yang dibangun di Keresidenan Tapanoeli masa itu, delapan di antaranya berada di Afdeeling Mandailing-Angkola. Dan salah satu sekolah dasar pemerintah yang terbaik berada di Padang Sidempuan. Sekolah yang kemudian dikenal dengan nama ‘Sikola Topi Saba’ ini menjadi tempat tujuan baru untuk bersekolah bagi anak-anak dari pemukiman di pusat kota dan anak-anak yang berasal dari kawasan ‘parsabaan'(persawahan, pinggiran atau pedalaman) seperti Batang Ajoemi, Tanobato, Sigiring-giring, Sihadabuan, Panyanggar, dan Sidangkal.

Sesuai rencana pemerintah kolonial Belanda, tahun 1879 dibuka Kweekschool Padang Sidempuan, dengan kepala sekolah Mr. Harnsen. Pada tahun 1883 posisi Harnsen digantikan oleh salah seorang guru Kweekschool Padang Sidempuan bernama Charles Adriaan van Ophuijsen. Putra mantan Kontrolir Natal ini berdinas sebagai guru di Padang Sidempuan selama delapan tahun, dan lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah tersebut. Saat dipimpin Van Ophuijsen, Kweekschool Padang Sidempuan pernah dinobatkan sebagai sekolah guru terbaik di Hindia-Belanda.

Van Ophuijsen, yang belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu di Mandheling en Ankola, kelak menjadi penyusun tata bahasa Melayu dan ejaan Ophuijsen serta menjadi guru besar  tata-bahasa dan sastra Melayu di Universitas Leiden.

Sejumlah lulusan Kweekschool Padang Sidempuan berperan penting dalam mendorong semangat kebangsaan di Tapanuli, bahkan di kalangan bangsa Indonesia. Dua tokoh yang pantas disebut adalah Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan Soripada.

Dja Endar Moeda dikenal luas sebagai “Raja Surat Kabar Sumatra” di masa itu. Tokoh ini dikenal sebagai orang pribumi pertama yang memiliki percetakan di Sumatra. Dja Endar Moeda juga merupakan jurnalis andal, yang menjadi pemimpin redaksi, bahkan pendiri dan pemilik sejumlah surat kabar yang terbit di Padang, Sibolga, Medan, sampai Aceh. Surat-kabar terkenal di masa itu yang dipimpinnya, antara lain: Tapian Na Oeli (terbit di Sibolga), Pertja Barat(terbit di Padang), Pewarta Deli (terbit di Medan), dan Pemberita Atjeh. Gagasan utama Dja Endar Moeda adalah meningkatkan peran kaum terpelajar dalam memajukan bangsa Indonesia melalui sekolah dan pers.

Adapun Soetan Casajangan Soripada (1874-1927), kelahiran Padang Sidempuan, berangkat ke Belanda tahun 1904, setelah menyelesaikan pendidikannya di Kweekschool Padang Sidempuan. Di negeri Belanda, ia melanjutkan pendidikan di sekolah guru di Haarlem selama satu tahun sembilan bulan. Kemudian Soetan Casajangan menjadi asisten Prof. Charles Adriaan van Ophuijsen, di Rijksuniversiteit Leiden untuk mata kuliah Bahasa Melayu, Sejarah Indonesia, Islam, Daerah dan Penduduk Indonesia. Pada Juni 1908, Soetan Casajangan menggagas pembentukan Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia, dan ia terpilih sebagai ketua pertama organisasi tersebut.

Alumni Kweekschool Padang Sidempuan lainnya kebanyakan berkiprah sebagai guru di berbagai wilayah. Muhammad Taif Nasution, misalnya, menjadi guru di Aceh. Taif Nasoetion adalah ayah dari Muhammad Amin Nasoetion (sering disebut S.M. Amin), yang merupakan gubernur pertama dan ketiga Sumatra Utara. Setelah dari Aceh, Taif Nasution kembali ke Manambin, Mandailing, kampung halamannya. Ada pula Adem Loebis, yang juga menjadi guru di Aceh. Adem Loebis adalah ayahanda Kolonel Zulkifli Lubis, yang berkarir di militer bidang intelijen hingga pernah menjadi Wakil KSAD.

Juga tercatat Hoemala Mangaradja Hamonangan bersekolah di Kweekschool Padang Sidempuan di akhir abad ke-19. Setelah lulus dari Kweekschool Padang Sidempuan, ia menjadi guru di Sipirok. Tapi, beberapa tahun kemudian, Mangaradja Hamonangan mengundurkan diri dan beralih menekuni perdagangan hasil bumi. Mangaradja Hamonangan adalah ayah Todung Sutan Gunung Mulia (Menteri Pengajaran RI di masa awal kemerdekaan) sekaligus paman Amir Sjarifuddin Harahap (yang pernah menjabat Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan RI).

Tak pelak lagi, pendidikan telah memicu renaisans di Tapanuli. [Satyadarma