Tanggal 31 Mei memiliki arti istimewa bagi masyarakat Surabaya. Pada tanggal inilah Kota Surabaya memperingati hari jadinya, sebuah momentum yang tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga pengingat akan sejarah panjang yang membentuk identitas kota terbesar kedua di Indonesia tersebut.
Sejarah Hari Jadi Kota Surabaya
Nama Surabaya sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni sura yang berarti berani dan baya yang berarti bahaya. Makna ini menggambarkan keberanian dalam menghadapi berbagai ancaman dan tantangan. Filosofi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam karakter masyarakat Surabaya yang dikenal tangguh dan pantang menyerah.
Penetapan 31 Mei sebagai Hari Jadi Kota Surabaya berakar pada peristiwa bersejarah yang terjadi pada tahun 1293. Saat itu, pasukan Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan tiba di Jawa untuk menghukum Raja Singasari, Kertanegara, karena dianggap menghina utusan Mongol. Namun ketika pasukan tersebut tiba, Kertanegara telah gugur akibat pemberontakan Jayakatwang.
Dalam perkembangan situasi politik saat itu, Raden Wijaya menjalin kerja sama dengan pasukan Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang. Setelah kemenangan diraih, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol dan berhasil mengusir mereka dari Jawa. Pertempuran yang berlangsung pada 31 Mei 1293 di wilayah yang kini menjadi Surabaya tersebut kemudian dianggap sebagai simbol keberanian dan kecerdikan dalam menghadapi ancaman besar.
Meski demikian, tanggal 31 Mei bukanlah pilihan pertama sebagai hari jadi kota. Sebelum tahun 1975, Hari Jadi Kota Surabaya diperingati setiap 1 April, mengacu pada pembentukan Pemerintah Kota Surabaya oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1906.
Seiring berkembangnya kajian sejarah, muncul pandangan bahwa tanggal tersebut tidak cukup mewakili perjalanan panjang Surabaya yang telah ada jauh sebelum masa kolonial. Oleh karena itu, pada tahun 1973, Wali Kota Surabaya saat itu, R. Soekotjo, membentuk tim khusus untuk meneliti dan menentukan tanggal yang lebih sesuai secara historis.
Tim tersebut menghasilkan empat alternatif tanggal penting, yaitu 31 Mei 1293 yang berkaitan dengan kemenangan Raden Wijaya atas pasukan Mongol, 11 September 1294 yang menandai pemberian penghargaan kepada Kepala Desa Kudadu, 7 Juli 1358 yang menjadi tanggal pertama kali nama Surabaya tercatat dalam Prasasti Trowulan I, serta 3 November 1486 yang merujuk pada Prasasti Jiu tentang pemerintahan Adipati Surabaya.
Setelah melalui kajian mendalam dari sisi sejarah dan nilai-nilai kepahlawanan, 31 Mei 1293 akhirnya dipilih sebagai tanggal yang paling mencerminkan semangat perjuangan masyarakat Surabaya. Keputusan tersebut kemudian disahkan melalui Surat Keputusan DPRD Kota Surabaya Nomor 02/DPRD/Kep/75 pada 6 Maret 1975 dan diperkuat dengan Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 64/WK/75 pada 18 Maret 1975.
Sejak saat itu, setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Jadi Kota Surabaya, sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap keberanian yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Pahlawan.
Fakta-Fakta Unik Kota Surabaya
1. Kota Terbesar Kedua di Indonesia
Surabaya dikenal sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan luas wilayah mencapai 274,06 kilometer persegi, kota ini menjadi pusat perdagangan, jasa, dan industri di Jawa Timur. Berbagai perusahaan besar nasional seperti PT Sampoerna Tbk, Maspion Group, Wing’s Group, Unilever, hingga PT PAL Indonesia memiliki aktivitas penting di kota ini. Keberadaan kawasan industri besar seperti Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan Margomulyo turut menjadikan Surabaya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional.
2. Dijuluki Kota Pahlawan
Julukan Kota Pahlawan tidak lepas dari sejarah perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 10 November 1945, arek-arek Suroboyo melakukan perlawanan sengit terhadap pasukan Sekutu dan Belanda yang berupaya menguasai kembali Indonesia. Dengan persenjataan sederhana, mereka menunjukkan keberanian luar biasa yang kemudian dikenang setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.
3. Memiliki Dialek Khas Suroboyoan
Salah satu ciri khas Surabaya adalah bahasa sehari-hari masyarakatnya yang dikenal sebagai bahasa atau dialek Suroboyoan. Dialek ini terkenal lugas, tegas, dan blak-blakan. Meski dahulu sering dianggap kasar, kini bahasa Suroboyoan justru dipandang sebagai bentuk komunikasi yang egaliter, jujur, akrab, dan penuh humor. Karakter tersebut mencerminkan sifat masyarakat Surabaya yang terbuka dan apa adanya.
4. Surga Kuliner Khas Jawa Timur
Surabaya memiliki beragam kuliner legendaris yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Salah satu yang paling terkenal adalah rawon, hidangan berkuah hitam khas Jawa Timur yang menggunakan kluwek sebagai bumbu utama dan disajikan bersama daging sapi, nasi, tauge, sambal, serta kerupuk udang.
Selain rawon, terdapat pula rujak cingur yang menjadi ikon kuliner Kota Pahlawan. Hidangan ini memadukan buah-buahan, sayuran, tauge, dan cingur atau moncong sapi rebus yang disiram bumbu kacang bercampur petis udang, menciptakan cita rasa khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
5. Memiliki Jembatan Terpanjang di Indonesia
Surabaya terhubung dengan Pulau Madura melalui Jembatan Nasional Suramadu. Jembatan yang mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada 10 Juni 2009 ini memiliki panjang sekitar 5.438 meter. Kehadiran Suramadu menjadi simbol kemajuan infrastruktur sekaligus memperkuat konektivitas antara Pulau Jawa dan Madura.
6. Rumah bagi Persebaya dan Bonek
Bagi pecinta sepak bola Indonesia, Surabaya identik dengan Persebaya Surabaya. Klub sepak bola kebanggaan masyarakat kota ini memiliki basis pendukung yang sangat fanatik bernama Bonek, singkatan dari Bondho Nekat atau bermodal nekat. Istilah tersebut muncul sejak tahun 1988 dan hingga kini menjadi identitas kuat bagi suporter Persebaya. Sementara suporter perempuan dikenal dengan sebutan Bonita atau Bonek Wanita.
Keberadaan Bonek tidak hanya menjadi warna tersendiri dalam dunia sepak bola nasional, tetapi juga menunjukkan loyalitas luar biasa masyarakat Surabaya terhadap klub kebanggaan mereka.
Dari sejarah panjang yang bermula pada abad ke-13 hingga perkembangan sebagai kota metropolitan modern, Surabaya terus menunjukkan wajahnya sebagai kota yang berani, dinamis, dan sarat semangat perjuangan. Tak heran jika hingga kini Kota Pahlawan tetap menjadi salah satu simbol penting perjalanan sejarah dan pembangunan Indonesia. [UN]