Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh

Koran Sulindo – Kematian mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menandai perubahan paling dramatis selama tiga tahun perang saudara di Yaman. Kematiannnya bakal mempersulit penyelesaian krisis sekaligus meningkatkan risiko konflik di negara termiskin di Arab tersebut.

Saleh menjabat Presiden Yaman selama 32 tahun sebelum akhirnya terjungkal oleh gerakan populer Arab Spring di tahun 2012. Ia terpaksa menunjuk wakilnya, Abed Rabbo Mansour Hadi untuk menggantikannya sebagai presiden.

Saleh kembali menjadi pemain penting dalam krisis Yaman ketika tahun 2014 nekat menggandeng pemberontak syiah dari Houthi yang merupakan bekas musuhnya. Aliansi itu sukses menduduki ibu kota Sana’a sekaligus memaksa Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi.

Saleh memanfaatkan persenjataan dan jumlah tentara Houthi, sementara pemberontak memperoleh keuntungan kuatnya jaringan pemerintah dan intelijen yang digenggam Saleh.

Dalam sepekan terakhir, ketika berusaha meningkatkan kekuatannya di Sana’a dan menunjukkan isyarat beralih haluan dengan berdialog dengan Saudi dan sekutunya, Saleh dibunuh pemberontak Houthi.

Pemboman jet-jet Saudi di Sana’a dalam yang mengincar posisi Houthi dalam beberapa hari terakhir untuk membantu Saleh ternyata gagal mencegah niat para pemberontak untuk membunuhnya.

Sebuah video yang beredar online menunjukkan tubuh Saleh yang tidak bergerak dengan luka menganga di kepala dan baju bernoda darah. Dia diangkut dengan sebuah selimut oleh pemberontak yang meneriakkan takbir dan dicampakkan ke sebuah pick up.

Adegan mengerikan itu mengingatkan pada terbunuhnya pemimpin Libya Moammar Gadhafi di tahun 2011 silam.

Saat menjabat sebagai Presiden Yaman, Saleh menghabikan banyak energinya untuk memerangi pemberontak Houthi bahkan sampai jantung pertahanan mereka di Yaman Utara. Setelah kejatuhannya, dia bersekutu dengan Houthi untuk melawan bekas wakilnya, Mansour Hadi. Saleh berharap aliansi dengan pemberontak Houthi bakal membantunya merebut kekuasaan di Sanaa.

Piawai

Dilahirkan oleh keluarga anggota sebuah suku kecil yang bersekutu dengan salah satu klan terkuat di Yaman, al-Ahmar. Saleh hanya mengenyam sedikit pendidikan formal sebelum akhirnya bergabung dengan ketentaraaan.

Saleh ambisius segera menarik perhatian presiden Yaman Utara, Ahmed bin Hussein al-Ghashmi yang lantas menunjuk sebagai kepala militer di kota Taiz, di selatan Sanaa. Namun, dengan sebuah bom koper Saleh berhasil membunuh al-Ghashmi pada bulan Juni 1978 dan menjadi presiden Yaman Utara sebulan kemudian berkat dukungan Saudi.

Tindakan pertama Saleh setelah menjadi Presiden Yaman Utara adalah memerintahkan eksekusi 30 perwira militer –beberapa adalah temannya- atas tuduhan konspirasi dalam pembunuhan al-Ghashmi.

Saleh meraih reputasi sebagai pemimpin dan politikus yang tangguh sekaligus tahu bagaimana menggunakannya di era Perang Dingin. Memanfaatkan Yaman Selatan yang menjadi klien Soviet, Saleh menikmati keuntungan besar dari bantuan-bantuan Barat yang dikirim ke Yaman Utara.

Belakangan ketika Soviet runtuh, Saleh menegosiasikan persatuan dengan selatan sekaligus memastikan jabatan presiden untuknya pada tanggal 22 Mei 1990. Empat tahun kemudian, Saleh menghancurkan niat selatan yang ingin membebaskan diri.

Jejaknya yang kuat di militer dan pengaruhnya di suku-suku membuat Saleh nyaris tak tersentuh. Ketika gerilyawan Arab yang berperang dengan Soviet di Afghanistan membutuhkan ‘rumah’ baru dia menawarkan tempat perlindungan dengan imbalan mereka menghormati otoritasnya.

Ketika tahun 2000 ‘warisan’itu datang kembali ke Yaman dan menghancurkan kapal perusak USS Cole milik AS di Pelabuhan Aden, Washington menuntut Saleh menindak para militan. Saleh tak sepenuhnya patuh atas tuntutan itu, dikritik secara luas karena keenggannya menunpas militan secara tuntas.

Ketika tahun 2006 sekelompok militan Al-Qaeda membobol penjara di Sanaa, Washington menuduh mereka mendapat pertolongan orang dalam rezim. Kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Al-Qaeda di Jazirah Arab cabang Yaman atau AQAP. Mereka dituduh bertanggung jawab atas usaha pengeboman sebuah pesawat angkut pada Natal 2009 silam. Di sisi lain, AS tak punya banyak pilihan selain bermitra dengannya.

Tantangan paling keras justru datang dari sekutu Saleh sendiri yang mengeluhkan bahwa ia mengabaikan meluasnya kemiskinan dan maraknya korupsi yang merongrong.

Namun, yang paling mengganggu bagi aliansi suku adalah fakta bahwa Saleh memusatkan kekuasaan di Yaman hanya kepada anggota keluarganya. Saleh menempatkan anak-anak dan keponakannya sebagai komandan-komandan tentara sementara mempersiapkan anaknya Ahmed, komandan Garda Republik  untuk menggantikannya.

Ketika Arab Spring mengguncang Timur Tengah di tahun 2011, Saleh menanggapinya dengan janji-janji reformasi yang dikombinasikan ancaman serangan bersenjata kepada pemrotes. Di sisi lain, Saleh harus menghadapi pembelotan massal dari mulai partai, parlemen, kabinet, unit militer dan sekutu kesukuannya.

Saleh berhasil mengatasi para penentangnya meski kemudian menegosiasikan kesepakatan penunduran dirinya dengan jaminan imunitas sekaligus tetap membiarkan para pendukungnya tetap tinggal di pemerintah. [TGU]