Maka Perang Gowa bisa kita baca sebagai kelanjutan minat Makmur Makka pada sejarah kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Kalau Rumpa’na Bone membawa pembaca ke keruntuhan Bone, novel terbaru ini membawa kita ke salah satu episode paling getir dari Gowa.
Saat itu, pemerintah kolonial Belanda mengerahkan seluruh kekuatan hendak menutup babak kedaulatan kerajaan dengan senjata. Dan sejarahnya memang menarik, karena yang mereka hadapi pasukan I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang yang tak pernah benar-benar takluk.
Raja yang memerintah Gowa antara 1895–1906 itu melakukan perlawanan terhadap Hindia Belanda pada 1905. Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa ia akhirnya meninggal di Bundukma, dekat Enrekang, pada 25 Desember 1906. Tapi dalam novel, ia disebut hanya ghaib.
Karena itu, kata “ghaib” di novel perlu ditempatkan pada wilayah sastra, bukan buru-buru diperlakukan sebagai kesimpulan sejarah. Di sinilah novel sejarah menjadi menarik sekaligus berbahaya. Ia boleh mengisi ruang yang tak tercatat, tapi pembaca perlu tahu mana fakta, tafsir, dan imajinasi.
Ahmadun Yosi Herfanda, jurnalis, penyair, esais, dan salah seorang narasumber dalam diskusi buku tersebut di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Jakarta, mengingatkan hal itu. Menurut Ahmadun, novel sejarah memang memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur buatan pengarang.
Bersama Anhar Gonggong, pembicara yang lain, ia menegaskan bahwa novel sejarah bukan karya ilmiah sejarah. Subjektivitas dan imajinasi tetap mempunyai tempat di dalamnya. Tapi fakta sejarah yang menjadi kerangkanya tetap menuntut tanggung jawab.
Ahmadun bahkan melihat kekuatan sekaligus kelemahan struktural novel ini. Kisah dua joki kuda, Patta Emba dan Bunga Rossi, menjadi semacam “penjaga” alur. Mereka bertemu di arena pacuan kuda, jatuh cinta, lalu hubungan mereka bersinggungan dengan konflik politik dan perang.
Tapi ketika Makmur Makka mengalihkan cerita ke Benteng Rotterdam dan tokoh-tokoh Belanda seperti J.B. van Heutsz, alur novel terasa tiba-tiba terputus. Ahmadun mengusulkan agar kedua jalur itu dibuat sebagai alur ganda yang saling berkelindan.
Saya kira kritik sastra itu penting. Sebab novel sejarah tak cukup hanya memiliki bahan sejarah yang menarik. Ia juga harus mempunyai mesin cerita yang bekerja. Pembaca tak boleh merasa sedang berpindah dari satu artikel sejarah ke artikel sejarah berikutnya hanya karena subjudul berganti.
Sebagai kritikus sastra, Ahmadun juga menyoroti banyaknya subjudul yang pendek-pendek. Secara naratif, perang menjadi seperti dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil. Secara grafis, menurutnya, pergantian subjudul itu juga kurang nyaman bagi pembaca muda.
Tapi, saya mencatat sesuatu yang lebih penting dari soal teknis itu. Pilihan Makmur Makka untuk mempertemukan arsip kolonial dengan ingatan rakyat dalam format novel romantis menjadi pintu masuk untuk mengenalkan sejarah, kebudayaan, sekaligus memberi pelajaran yang mudah dipahami awam.
Dalam pengantarnya, ia menyebut arsip Belanda merupakan sumber yang kaya detail —nama tempat, tanggal, pertempuran, jumlah korban. Tapi, baginya, catatan-catatan para sejarawan Belanda cenderung membawa perspektif pihak yang menang.
Sebaliknya, tradisi lisan masyarakat lokal menyimpan cerita tentang kesetiaan, kehormatan, cinta, harga diri, dan raja yang hilang. Maka, Makmur Makka memilih jalan penulisan dengan “menafsir, bukan menyalin”. Fakta dari pihak Belanda boleh benar, tapi tafsir atasnya berada di kita.
Itu pilihan yang masuk akal untuk sebuah novel sejarah. Arsip kolonial ibarat kamera yang dipasang pihak yang sedang memenangkan perang. Ia bisa sangat tajam, bahkan sampai mencatat berapa butir peluru yang ditembakkan. Tapi kamera tidak selalu merekam apa yang dirasakan orang yang ditembak.
Di sini ada konteks sejarah yang menarik. Tahun 1905–1906 memang berdekatan dengan ujung peperangan yang melelahkan di wilayah Aceh, jauh dari Pulau Selebes. Perang Aceh secara umum berlangsung tiga dekade, antara 1873–1904, meski perlawanan terhadap Belanda belum serta-merta padam setelah 1904.
Jadi Perang Gowa bukan “bersamaan” dalam arti satu periode perang yang sama persis, tapi terjadi segera sesudah Belanda menyatakan perang Aceh selesai. Sementara di tanah Jawa, tepatnya di Batavia, pada 17 Juni 1905, pemerintah Hindia Belanda memberi pengakuan resmi ke ormas Jamiat Kheir.
Perkumpulan itu kemudian berkembang sebagai ormas Islam pertama yang resmi. Jadi, ketika di satu ujung Hindia Belanda orang sedang mendirikan sekolah dan membangun jaringan pendidikan, di ujung lain Kerajaan Gowa sedang berhadapan dengan ekspedisi militer kolonial.
Sejarah rupanya tidak pernah berjalan dalam satu lorong. Pada kalender yang sama, ada perang, sekolah, perdagangan, surat kabar, dakwah, dan percintaan. Maka, ketika kita melihat peta Nusantara dalam perspektif yang lebih luas, tahun 1905 bukan sekadar angka di sampul sebuah novel.
Saya juga ingin meluruskan satu hal yang mudah menimbulkan salah paham. Kurang tepat jika raja-raja Gowa secara umum disebut keturunan Arab hanya karena mereka menggunakan gelar “Sultan” atau memiliki nama seperti Husain, Abdul Kadir, Abdul Jalil, dan sebagainya.
Silsilah kerajaan Gowa mempunyai akar lokal yang panjang. Penelitian tentang islamisasi Makassar memang menunjukkan adanya peran penting keturunan Arab, termasuk hubungan perkawinan dengan keluarga kerajaan.
Salah satu penelitian menyebut Sayyid Ba’alawy menikah dengan putri Raja Gowa Sultan Abdul Jalil. Itu menunjukkan adanya persilangan genealogis, bukan berarti seluruh dinasti Gowa berasal dari Arab.
Bahkan nama “Husain” pada gelar Sultan Husain sebaiknya tidak dijadikan bukti otomatis tentang asal-usul Arab. Nama dan gelar Islam adalah satu hal; garis keturunan adalah hal lain. Sejarah tidak boleh dibuat sesederhana buku daftar nama.
Yang paling menarik dari Perang Gowa, bagi saya, justru bukan apakah pembaca akan menghafal siapa van Heutsz, van Dallen, Idenburg, atau siapa yang memegang benteng tertentu.
Yang penting adalah apakah pembaca menjadi ingin bertanya: siapa raja itu, mengapa ia melawan, ke mana ia pergi, mengapa kisahnya menjadi kabur, dan mengapa sebuah bangsa masih mengingat seseorang yang tubuhnya sudah lama menjadi tanah?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada hafalan tanggal. Karena itu saya tertarik pada usul yang muncul dalam diskusi di DD: 31 potongan cerita dalam novel ini jangan berhenti sebagai 31 potongan di dalam buku. Jadikan 31 film pendek. Sebarkan melalui media sosial.
Ini bukan berarti buku harus menyerah kepada video. Justru sebaliknya: video bisa menjadi pintu masuk menuju buku. Anak muda yang tak mau membuka 175 halaman mungkin bersedia menonton tujuh menit tentang seorang raja yang menghilang. Setelah itu, rasa ingin tahu akan membawanya mencari bukunya.
Kita terlalu sering mengeluhkan generasi muda yang malas membaca, seolah-olah mereka harus dipaksa masuk ke perpustakaan untuk mencintai sejarah. Padahal persoalannya mungkin bukan semata-mata kemalasan. Cara sejarah disajikan juga menentukan.
Perang Gowa memuat banyak bahan. Ada perang, raja, pengkhianatan, cinta, perjalanan, pengejaran, benteng, perempuan yang menunggu, prajurit yang setia, dan seorang penguasa yang menghilang di tengah kekacauan. Secara sinematik, itu bahan yang kaya dan berlimpah.
Maka kelemahan judulnya sekaligus bisa menjadi peluang. “Perang Gowa” terdengar seperti buku sejarah yang hendak menjelaskan seluruh perang. Padahal kekuatan novel ini terletak pada satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana: ke mana perginya sang raja?
Sejarah kadang bekerja seperti makam tua. Dari luar kita hanya melihat batu. Tapi kalau kita mau membuka ceritanya, di dalamnya ada manusia: keberanian, ketakutan, cinta, pengkhianatan, dan harapan.
Makmur Makka telah membuka salah satu makam itu. Ahmadun Herfanda dan Anhar Gonggong mengingatkan agar batu nisannya jangan sampai lebih besar dari kisah manusia yang dikuburkannya.
Mungkin itulah cara terbaik membaca Perang Gowa. Kita membacanya bukan sebagai kitab lengkap tentang sebuah perang, melainkan sebagai sebuah pintu kecil menuju sejarah yang jauh lebih luas.
Dan mungkin pula, jika 31 pintu kecil itu kelak berubah menjadi 31 film pendek, generasi yang enggan membaca buku akhirnya akan masuk melalui layar.
Setelah itu barangkali mereka menemukan sesuatu yang selama ini kita kira sudah hilang: bukan hanya seorang raja, tapi ingatan tentang siapa kita.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis




