Makmur Makka sendiri bukan orang baru dalam urusan menghidupkan masa lalu. Lahir di Parepare pada 13 Februari 1945, ia belajar Hubungan Internasional di UGM. Kemudian, seperti banyak tokoh asal Makassar, ia melanjutkan studi di luar negeri. Ia memilih Ohio University, Amerika Serikat.

Sejak muda di Yogya, ia aktif dalam pers mahasiswa. Ia pernah memimpin pers mahasiswa di Yogyakarta, bekerja di Harian KAMI, dan kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Republika pada 1997–2000. Sebelumnya ia juga menjadi staf ahli Menristek/Kepala BPPT.

Ia bahkan memiliki hubungan yang panjang dengan dunia arsip. Kedekatannya dengan B.J. Habibie di kantor Ristek/BPPT, membuat banyak arsip Presiden ketiga RI ini berhasil dikumpulkannya, dan kemudian diserahkannya ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

ANRI mencatat inventaris arsip Makmur Makka yang tersimpan itu mencapai 399 nomor, terdiri atas 384 arsip tekstual dan 15 lembar arsip foto. Sebagian sudah ditulisnya menjadi sejumlah karya buku monumental. Tapi, masih banyak lagi yang belum sempat digarapnya, termasuk puluhan rekaman video Habibie.

Ia tercatat menulis banyak buku biografi Habibie. Dan karena itu, pada 2018 ia memperoleh penghargaan MURI sebagai penulis buku biografi Habibie terbanyak, dengan 95 judul. Dalam dunia kepenulisan, namanya memang lebih sering dikenal lewat karya-karya tentang B.J. Habibie.

Tapi sisi sastrawannya, ia juga punya deretan karya panjang. Bentuknya puisi, cerpen, prosa liris, dan novel sejarah. Di antaranya Ungu, Manifes, Tanah Air, Buah Cherry Ladang Gandum, Ibu, Sajak-Sajak Malioboro, Secawan Matahari, dan buku novel sejarah yang lain, Rumpa’na Bone.

Novel Rumpa’na Bone berkisah tentang runtuhnya Kerajaan Bone, terbit pada 2015 dan mengambil latar serangan Belanda terhadap Kerajaan Bone pada 1904–1905. Karya imajinatif ini memuat fakta sejarah runtuhnya Kerajaan Bone, budaya _siri’, upacara kerajaan, dan tradisi ritual bissu.