Perusahaan Jepang Tutup, Tiongkok Siap Kuasai Pasar Elektronik Indonesia

Perusahaan Jepang Tutup, Tiongkok Siap Kuasai Pasar Elektronik Indonesia

Sulindomedia – Tiongkok siap menguasai pasar elektronik Indonesia setelah dua perusahaan Jepang, Panasonic  dan Toshiba, menutup  usahanya di Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan,  antusiasme investor Tiongkok untuk menanamkan modalnya ke Indonesia sangat besar.

“Pertumbuhan minat investasi dari Tiongkok sudah mulai terlihat dalam kondisi satu tahun terakhir. Arahnya positif,” ujarnya  kepada wartawan di Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Dia juga membantah tutupnya Panasonic dan Toshiba, termasuk perusahaan otomotif Ford dan lainnya, gara-gara iklim investasi di Indonesia tidak menjanjikan  dan pasarnya tidak menguntungkan. “Buktinya, Tiongkok siap berinvestasi di sini. Ini bukti pasar dan iklim investasi di Indonesia sangat menjanjikan,” kaya Franky.

Selama ini, produk-produk elektronik asal Tiongkok membanjiri pasar di dalam negeri. Pasar juga dikuasai produk Korea dan Jepang. Dengan tutupnya Panasonic dan Toshiba, berarti tinggal dua pemain besar, yakni Tiongkok dan Korea.

Seperty banyak diberitakan, Toshiba menjual pabrik TV di Indonesia. Kabarnya dibeli oleh perusahaan elektronik dari Tiongkok dengan merek Skyworth.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (Gabel) Ali Soebroto, nantinya pemain dari Korea pun harus menyerahkan dominasi pasar (market leader) ke  Tiongkok karena produknya lebih banyak, mencapai puluhan merek. Merek Korea yang masih bertahan adalah LG dan Samsung.

Menurut Ali, tidak keliru apabila produk dalam negeri di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), akan bersaing dengan produk buatan Tiongkok.  “Tanda ke arah itu semakin jelas,” ujarnya.

Akan haknya Franky juga mengatakan, sinyal Tiongkok untuk meluaskan pasarnya di sini dibuktikan dari nilai investasi yang terus membengkak. Menurut data BKPM, investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) Tiongkok di Indonesia tahun 2012 masih relatif kecil, hanya US$ 174 juta, yang terdiri dari 190 proyek. Pada 2013-2014, nilai investasinya setara dan belum menyentuh US$ 200 juta.

Baru pada event Indonesia Investment Marketing 2015 yang diselenggarakan di Shanghai, nilai invesatinya melesat hingga US$ 1,9 miliar. Investasi Tiongkok tersebut berasal dari beberapa perusahaan yang bergerak di sektor industri baja, pariwisata, industri semen, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri galangan kapal.

Dari  jumlah US$ 1,9 miliar tersebut, industri semen merupakan salah satu kontributor utama dengan persentase kontribusi mencapai US$  1 miliar. Selanjutnya, diikuti oleh investasi di bidang pariwisata senilai US$  600 juta, industri galangan kapal US$ 300 juta, industri baja US$ 10 juta, dan industri tekstil dan produk tekstil US$ 8 juta.

Lebih lanjut Franky mengatakan, dari besaran nilai investasi yang masuk tersebut, pihaknya akan mendorong investor-investor tersebut agar dapat memanfaatkan layanan izin investasi tiga jam, yang mensyaratkan minimum investasi US# 8 juta atau Rp 100 miliar.

Secara kumulatif Januari-September 2015, realisasi investasi Tiongkok mencapai US$ 406 juta dengan jumlah proyek mencapai 705 proyek. Dalam lima tahun terakhir, realisasi investasi Tiongkok rata-rata tumbuh 66% per tahun, dari US$ 174 juta pada tahun 2010 menjadi lebih dari US$ 800 juta pada 2015 lalu.

Yang penting, investasi-investasi itu tidak mengganggu kedaulatan negara. [ARS/PUR]