Kilang Cilacap di Jawa Tengah
Ilustrasi: Kilang Cilacap di Jawa Tengah/pertamina.com

Koran Sulindo – Pertamina akan memasok kebutuhan bahan baku produksi obat-obatan ke Kimia Farma.

“Kerja sama itu merupakan komitmen untuk mendukung pengembangan bahan baku farmasi. Pertamina sebagai perusahaan energi akan terus melanjutkan pembangunan kilang melalui PT Kilang Pertamina Internasional, dan menambah bauran produk petrokimia,” kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, di Jakarta, Minggu (26/7/2020), melalui rilis media.

Kerja sama itu terutama untuk mengoptimalkan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan Petrokimia menjadi bahan baku farmasi, seperti Paracetamol.

Penandatanganan nota kesepahaman antara anak perusahaan Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional dengan Kimia Farma dilaksanakan di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta Pusat, pada Jumat, 24 Juli 2020.

Pertamina menetapkan produk Petrokimia menjadi business line yang menjadi andalan di masa depan ketika terjadi transisi energi.

“Untuk itu, Pertamina mencoba identifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Dan gayung bersambut dengan Kimia Farma dan kita sudah melakukan penjajakan,” katanya.

Menurut Nicke, secara teknis Pertamina telah melakukan kajian awal proyek. Untuk realisasinya, Kilang Cilacap di Jawa Tengah dipersiapkan untuk pengolahan Petrokimia menjadi bahan baku farmasi.

Partner Strategis

Sementara itu Wakil Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi kerja sama tersebut.

“Pertamina dan Kimia Farma sudah bergerak gesit, cepat, tuntas atas kerja sama tersebut. Kerja sama itu juga dapat mengurangi impor bahan baku produksi obat,” kata Budi.

Direktur Utama Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir, seperti dikutip pertamina.com, mengatakan kerjasama industri dalam pengembangan penyedia bahan baku farmasi itu meliputi aspek tekno-ekonomi dan aspek penelitian dan pengembangan.

“Satu hal yang menjadi fokus kami, bahwa integrasi bisnis di Holding BUMN Farmasi perlu diiringi dengan menggandeng partner strategis untuk memperkuat kemampuan kompetitif terutama dalam menjamin suplai bahan baku farmasi dan pengembangan produk Petrokimia,” kata Honesti.

Saat ini sebanyak 95 persen total kebutuhan bahan baku farmasi Indonesia masih diimpor. Dengan kerja sama ini impor bahan baku berkurang menjadi 75 persen.

“Kami mempunyai produknya tetapi tidak punya bahan bakunya. Bahan baku masih import dari Cina dan India, kami sudah memiliki roadmap untuk mengurangi impor bahan baku tersebut,” kata Honesti. [RED]