KUNINGAN – Hamparan rumput hijau di bawah tegakan pinus menjadi salah satu daya tarik Bumi Perkemahan Pasir Batang di Desa Karangsari, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kawasan ini menawarkan suasana hutan yang sejuk sekaligus panorama dari kaki Gunung Ciremai.
Namun, Pasir Batang bukan semata tentang wisata. Di balik berkembangnya kawasan tersebut, terdapat cerita tentang perubahan hubungan masyarakat dengan hutan serta upaya warga sekitar untuk tetap memiliki ruang penghidupan dari potensi kawasan Gunung Ciremai.
Pengelola wisata Pasir Batang, Aen S.Pd., menuturkan, sebelum kawasan ini berkembang sebagai destinasi wisata, masyarakat sekitar telah memiliki aktivitas di kawasan hutan melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Pada 2004, kelompok tani hutan (KTH) yang sebelumnya melakukan aktivitas pertanian dan perkebunan di kawasan Ciremai diminta turun dari kawasan tersebut. Kondisi itu mendorong masyarakat mencari bentuk pemanfaatan lain yang tetap dapat memberikan nilai ekonomi.
“Bagaimana caranya agar masyarakat kami yang ada di kaki Gunung Ciremai yang dulunya ada aktivitas menanam kopi, menanam buah-buahan, pisang dan lain-lain, agar bisa memanfaatkan hasil hutan bukan kayu,” kata Aen.
Saat itu, menurut Aen, belum terdapat zona tradisional yang memberikan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Ruang yang tersedia adalah zona pemanfaatan yang kemudian diarahkan untuk pengembangan daya tarik wisata.
Seiring perubahan pengelolaan kawasan, kini telah terdapat zona tradisional. Keberadaan zona tersebut memberikan akses kepada masyarakat, termasuk kelompok tani hutan, untuk melakukan pemanfaatan HHBK di kawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Perubahan zonasi tersebut menjadi bagian penting dalam hubungan masyarakat dengan kawasan hutan. Jika sebelumnya masyarakat harus mencari ruang penghidupan melalui pengembangan wisata, kini terdapat pula ruang pemanfaatan HHBK melalui zona tradisional.
Dari gagasan pengembangan wisata tersebut, masyarakat mulai membangun fasilitas Pasir Batang secara bertahap. Sekitar 2010, sejumlah shelter mulai dibuat. Pengembangan kemudian berjalan hingga kawasan tersebut diresmikan pada 2016 oleh Bupati Kuningan saat itu, almarhum Acep Purnama.
Bagi Aen, keberadaan wisata Pasir Batang memiliki arti lebih dari sekadar destinasi rekreasi. Kehadiran wisata diharapkan dapat membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar.
Aktivitas wisata turut menggerakkan warung dan pedagang ketika kegiatan camping maupun acara tertentu berlangsung. Jasa transportasi lokal juga ikut terlibat. Wisatawan bahkan dapat membeli hasil pertanian dari petani setempat.
“Alhamdulillah dengan adanya wisata di sini, salah satu untuk membuat penambahan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Menikmati Pinus dan Panorama Ciremai
Secara alamiah, Pasir Batang menawarkan lanskap yang menjadi kekuatannya. Tegakan pinus yang rindang berpadu dengan hamparan rumput hijau yang tertata, menciptakan ruang terbuka yang dapat digunakan untuk bersantai maupun berkemah.
Kawasan ini juga menjadi habitat sejumlah flora dan fauna. Di antaranya pakis purba serta burung pemangsa seperti elang ular bido dan elang brontok.
Daya tarik lainnya berada di kawasan bukit yang oleh masyarakat dikenal sebagai Bukit Teletubbies. Dari kawasan tersebut, pengunjung dapat melakukan hiking sekaligus menikmati panorama Waduk Darma dan bentang wilayah Kuningan, Majalengka, Cirebon hingga Jawa Tengah. Gunung Ciremai juga menjadi bagian dari lanskap yang dapat terlihat dari kawasan tersebut.
Nama Pasir Batang sendiri, menurut Aen, berkaitan dengan sejarah lokal Kerajaan Lutung Kasarung. Ia menyebut kawasan yang kini dikenal sebagai Bukit Teletubbies merupakan Pasir Batang dalam cerita lokal tersebut.
Konteks sejarah itu tidak berdiri sendiri. Desa Karangsari sebelumnya merupakan bagian dari Desa Sagarahiang, salah satu kawasan tua dalam sejarah lokal Kuningan.
Tidak jauh dari kawasan wisata, terdapat pula situs yang berkaitan dengan Syekh Marmagati dan Ki Buyut Dugal atau Kyai Dugal. Keduanya dikenal dalam sejarah lokal sebagai sesepuh, ulama, dan tokoh penyebaran Islam yang dihormati masyarakat Kuningan.
Petilasan dan makam kedua tokoh tersebut menjadi bagian dari kawasan wisata religi dan sejarah di kaki Gunung Ciremai. Dalam sejarah lokal, Syekh Marmagati dan Ki Buyut Dugal disebut sebagai bagian dari sembilan kabuyutan yang turut meletakkan fondasi awal Desa Sagarahiang.
Keberadaan jejak alam dan sejarah tersebut membuat kawasan sekitar Pasir Batang tidak hanya memiliki potensi sebagai tempat berkemah, tetapi juga menyimpan cerita mengenai hubungan masyarakat dengan hutan, pertanian, budaya, dan sejarah lokal.
Tiket Masuk dan Camping
Untuk memasuki kawasan wisata Pasir Batang, pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp15.000 per orang. Dari jumlah tersebut, Rp10.000 merupakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sedangkan Rp5.000 digunakan untuk operasional kelompok pengelola.
Bagi pengunjung yang ingin bermalam, tersedia fasilitas camping dengan tarif berbeda. Biayanya Rp25.000 per orang pada hari biasa dan Rp30.000 per orang saat akhir pekan.
Pengelola juga menyediakan penyewaan perlengkapan berkemah, termasuk tenda dengan beberapa pilihan sesuai kebutuhan pengunjung.
Menurut Aen, aktivitas camping umumnya lebih ramai pada akhir pekan. Kehadiran pengunjung sekaligus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang tumbuh di sekitar kawasan wisata.
Pasir Batang pada akhirnya memperlihatkan perubahan cara masyarakat memanfaatkan ruang di sekitar Gunung Ciremai. Wisata menjadi salah satu sumber ekonomi, sementara keberadaan zona tradisional kini membuka kembali akses bagi kelompok tani hutan untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu.
Di antara pepohonan pinus, hamparan rumput dan panorama Ciremai, Pasir Batang menyimpan cerita tentang masyarakat yang berusaha menjaga hubungan ekonomi dan sosialnya dengan hutan melalui cara yang terus berubah. [UN]





