Benteng Belgica, dulu untuk mengawasi penyelundupan rempah dan memantau pasukan Inggris (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Kepulauan Banda di Provinsi Maluku selalu dihubungkan dengan rempah. Sejak ratusan tahun lalu penjelajah asing sering berlayar di perairan Laut Banda. Bandaneira, bagian dari Kepulauan Banda, sering menjadi tujuan utama para penjelajah asing itu. Tiada tempat indah selain Bandaneira, begitulah pendapat banyak orang. Bandaneira dipuji sebagai surga indah di timur Indonesia.

Kepulauan Banda terdiri atas sebelas pulau vulkanis, antara lain Lontor, Gunung Api, Neira, Ay, dan Pisang. Hanya tujuh pulau yang dihuni dan ditanami pohon pala. Kota terbesar di Banda dikenal sebagai Bandaneira atau Bandanaira. Penduduk setempat menyebutnya Neira. Rupanya Banda sudah disebut-sebut pada masa Kerajaan Majapahit. Dalam naskah kuno Nagarakretagama dari abad ke-14, Kepulauan Banda dikenal dengan nama Wanda.

Bangsa Eropa pertama yang singgah di Banda untuk membeli rempah-rempah adalah Portugis pada 1512. Bandaneira menjadi pusat perdagangan penting kala itu. Hingga pertengahan abad ke-19 Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah. Komoditi dari sini berupa pala dan fuli. Fuli adalah selaput tipis bagian tengah buah pala. Saat itu pala dan fuli merupakan komoditi paling banyak dicari dari Kepulauan Banda.

Hampir 100 tahun Portugis menguasai rempah-rempah Banda. Untuk menunjukkan kekuasaan, pada 1602-1611 Portugis membangun Benteng Belgica di Neira. Di Bandaneira memang sering terjadi perebutan monopoli rempah-rempah dengan melakukan berbagai peperangan antarbangsa asing. Bangsa yang berkuasa akan membangun benteng pertahanan.

Dalam sebuah peperangan, VOC (Belanda) berhasil menguasai Bandaneira. Mereka menghancurkan benteng Portugis itu. Di lokasi lama kemudian dibangun kembali sebuah benteng, Ford Belgica, atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada 1611.

Pemandangan dari atas bukit, terlihat Benteng Belgica dan gunung api
(Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Benteng Belgica digunakan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC. Melalui benteng ini, hampir semua titik wilayah Neira dan sekitarnya dapat dipantau. Bahkan VOC mampu mengawasi gerak-gerik kapal yang menyelundupkan rempah-rempah dan mengintai tentara Inggris. Benteng itu pernah dijadikan pusat pemerintahan VOC sebelum pindah ke Batavia. Pada 1995 Benteng Belgica didaftarkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, namun ditarik pada 2015.

Sebelum Benteng Belgica, Belanda membangun Benteng Nassau pada 1607. Tujuannya untuk  mengontrol perdagangan pala. Sebenarnya pada 1529 Portugis sudah membangun pondasi benteng. Namun mereka meninggalkan pekerjaan karena adanya perlawanan dari penduduk setempat. Pada 1609 Belanda menyelesaikan benteng tersebut dengan memanfaatkan pondasi yang ditinggalkan Portugis. Selain menjadi tempat pertahanan, benteng itu menjadi kantor administrasi Belanda di Banda. Beberapa benteng sudah mendapat SK Penetapan sebagai Cagar Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu.

Masa kelam di Nusantara terjadi karena rempah-rempah. Di Bandaneira banyak terjadi pembantaian penduduk lokal oleh VOC. Selanjutnya mereka membawa sebagian penduduk Bandaneira ke Batavia untuk dijadikan budak. Saat ini nama Kampung Bandan di Jakarta masih populer di masyarakat.

Bukan hanya Portugis dan Belanda yang memiliki jejak di Banda, bangsa asing lain pernah singgah. Penemuan keramik dari Dinasti Ming dan pengaruh kebudayaan Tiongkok dalam kehidupan orang Banda, menjadi bukti terjadinya percampuran budaya. Pekuburan komunitas Tionghoa masih terpelihara di Bandaneira.

Banyak nisan masih berbahasa Mandarin kuno. Dalam salah satu nisan sebagaimana pembacaan arkeolog Eddy Prabowo Witanto, dikatakan seorang marga Chen (Indonesia: Tan) meninggal pada pertengahan musim semi 1775. Mungkin pertanggalan demikian telah dikonversi ke tahun Masehi, mengingat negeri kita tidak mengenal musim semi. Chen berasal dari kota/desa Baishi. Ia punya dua anak laki-laki.

Pada tahun-tahun itu memang jalur Banda sudah ramai dengan para pedagang dari Tiongkok Selatan. Mereka menyusur lewat jalur Timur, yakni Kepulauan Filipina, Mindanao, Laut Sulu, lalu ke Halmahera, dan seterusnya. Selain rempah-rempah, mereka juga mencari teripang. Teripang dari Laut Banda dan Laut Timor tergolong berkualitas tinggi.

Sebelumnya penjelajah Portugis, Tomé Pires, mencatat bahwa pedagang-pedagang Jawa dan Malaka setiap tahun berlayar ke Maluku dan Kepulauan Banda membawa pakaian katun dan sutra dari Cambay, Koromandel, dan Bengali. Perjalanan mereka ke pelabuhan Banda melalui rute Jawa atau selatan yang dapat singgah di sejumlah pelabuhan pantai utara Jawa seperti Jepara dan Gresik.

Pada masa selanjutnya, Banda sebagai pusat perdagangan pala dan fuli hilang sedikit demi sedikit. Malah Bandaneira menjadi tempat pengasingan para tokoh pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Pada 1936-1942 pemerintah kolonial mengasingkan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir ke Bandaneira. Sebelumnya Tjipto Mangunkusumo (1928) dan Iwa Kusumasumantri (1930) dihukum buang di sini. Sejumlah rumah kuno tempat pengasingan para tokoh Indonesia itu berhasil dilestarikan. Istana Mini yang pada abad ke-18 dijadikan tempat tinggal dan kantor Gubernur VOC juga tetap dilestarikan.

Pada 2005 Kepulauan Banda didaftarkan kepada UNESCO untuk menjadi Warisan Dunia. Alam dan budaya di Banda memang masih bersih dan unik. [DS]

Baca juga: