Koran Sulindo — Pengamat intelijen, pertahanan dan keamanan Ngasiman Djoyonegoro mengatakan, negara agar lebih siaga dalam menghadapi ancaman wabah seperti corona atau Covid-19.
“Kita tidak dapat memandang bahwa Covid-19 sebagai situasi ancaman kesehatan semata. Ada perspektif lain yang perlu ditelusuri dan diperdalam lebih lanjut,” kata Direktur Eksekutif Center of Intelligent and Strategic Studies ini kepada wartawan, Kamis (16/7).
Simon sapaan akrab Ngasiman mengatakan, sebagai bencana nasional non-alam, wabah Covid-19 bukan saja persoalan kesehatan, namun punya dampak lain seperti dampak sosial, ekonomi, bahkan ancaman dari sisi pertahanan dan keamanan.
“Melihat Covid-19 harus juga dilihat dari perspektif yang lain, termasuk perspektif dunia intelijen. Dampak yang ditimbulkan Covid-19 ini sangat kompleks. Banyak pihak menyatakan bahwa virus corona adalah senjata biologis yang sengaja diciptakan pihak tertentu untuk menimbulkan kekacauan global untuk menuju pada titik keseimbangan baru,” kata Simon.
Mengantisipasi upaya pengambilalihan kontrol terhadap negara-negara oleh sekelompok negara lain, Simon melalui bukunya tersebut juga mengimbau negara agar lebih siaga dalam menghadapi ancaman wabah.
“Dari sisi dunia intelijen dan pertahanan, pemerintah perlu memperkuat pertahanan biologi (biodefense) pada tugas operasi militer. Ini merupakan upaya pertahanan terhadap agen biologi yang digunakan sebagai senjata oleh pihak yang konflik, serta terhadap penyakit infeksi endemis,” kata Simon.
Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Marsekal Madya TNI Kisenda Wiranatakusumah dalam paparannya mengatakan bahwa sebagai negara besar dan negara kepulauan, tingkat penyebaran Covid-19 ini derajatnya bervariasi antardaerah.
“Selama vaksin dan obatnya belum ditemukan, maka kita tidak boleh lengah. Tidak hanya tak kasat mata, Covid-19 tidak mengenal batas negara, dan menyerang siapapun tanpa pandang bulu, tanpa melihat pangkat dan jabatan, tanpa melihat status sosial,” kata Kisenda.
Kisenda juga mengapresiasi atas terbitnya buku Ngasiman itu, termasuk rekomendasi dalam buku tersebut soal perlunya dikembangkan “biodefense” yang lebih kekinian dan inovatif.
“Ini penting untuk mengantisipasi segala kemungkinan ancaman di masa mendatang yang lebih rumit, modern, dan tak terdeteksi,” ujar Kisenda.
Sementara, Deputi VII dan Jubir Badan Intelijen Negara Wawan H Purwanto menjelaskan bahwa pemerintah dan BIN saat ini terus melakukan upaya-upaya strategis dan preventif guna memutus mata rantai penularan Covid-19 sekaligus menstimulus pertumbuhan ekonomi.
“Tentu pemerintah terus melakukan langkah strategis preventif. Kita butuh sinergi semua pihak dan kesadaran bersama mematuhi protokol kesehatan di tengah normal baru,” kata Purwanto. [WIS]