Bung Karno di Beijing

Koran Sulindo – Bung Karno dan Ketua Mao saling mengagumi. Pidato Bung Karno di Konferensi Asia-Afrika memengaruhi Ketua Mao.

WAKTU menunjukkan pukul dua siang,satu hari menjelang tujuh tahun perayaan hari berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.Setelah mengunjungi Republik Rakyat Mongolia, Bung Karno menginjakkan kakinya di Kota Beijing.

Hari itu, udara sedikit dingin sebab Beijing memasuki musim gugur, dengan suhu udara 22 sampai 12 derajat celcius. Kedatangan Bung Karno di Tiongkok secara khusus disambut Ketua Mao Zedong, Perdana Menteri Zhou Enlai, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Marsekal Zhu De, isteri (mendiang) Presiden Republik Tiongkok Pertama Dr. Sun Yatsen, yaitu Song Qingling, dan pemimpin Tiongkok lain, baik dari Partai Komunis Tiongkok maupun dari partai-partai lain yang tergabung dalam Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok. Sorak sorai ribuan rakyat Tiongkok begitu hangatnya menyambut kedatangan presiden dari negeri seribu pulau dan penggagas utama Konferensi Asia-Afrika yang fenomenal tersebut.

Lagu Indonesia Raya dan Barisan Para Sukarelawan pun berkumandang, yang musiknya dimainkan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Syair-syair lagu kebangsaan dari dua negara itu lahir dalam suasana revolusi dan diciptakan para komposer revolusioner dari negeri Asia: berseru memanggil seluruh rakyat dunia yang masih terbelenggu oleh kolonialisme dan imperialisme untuk merdeka dan bangkit melawan.

Sambil tersenyum, Bung Karno yang berseragam kebesarannya sebagai pemimpin tertinggi Angkatan Perang Indonesia dan kopiah hitamnya berpidato didepan ribuan rakyat Tiongkok.“Setelah saya mengunjungi Uni Soviet, Yugoslavia, Austria, Czekoslovakia, dan Mongolia, hari ini saya tiba di Peking disambut dengan meriah dan hangat. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Saudara-Saudara sekalian. Ucapan terima kasih ini bukan hanya dari diri pribadi saya saja, tetapi ucapan terima kasih dari 82 juta rakyat Indonesia. Rasa hormat Saudara-Saudara sebenarnya ditujukan untuk menghormati rakyat Indonesia. Tanpa rakyat, saya ini hanyalah orang biasa. Tanpa rakyat, saya ini bukan apa-apa. Saya ini bukanlah pemberi kemerdekaan rakyat Indonesia, tetapi kemerdekaan Indonesia itu berasal dari perjuangan rakyat Indonesia. Saya bukanlah Bapak Rakyat Indonesia, tetapi saya adalah putra rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rasa hormat Saudara-Saudara kepada saya akan saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Saat ini, saya bersama dengan rakyat Tiongkok,bersama dengan 600 juta rakyat Tiongkok yang tiada henti-hentinya berjuang mencapai cita-cita. Saya berada disini demi menguatkan hubungan persahabatan diantara rakyat Indonesia dan Tiongkok. Saya sangat percaya bahwa kerjasama persahabatan yang baik ini sangat mudah untuk dilaksanakan karena cita-cita rakyat Tiongkok dan Indonesia begitu banyak persamaannya. Mari kita bersama-sama untuk maju, wujudkan kemerdekaan yang seutuhnya, dan wujudkan dunia yang damai abadi. Terima kasih!”

Tidak henti-hentinya rakyat Tiongkok bertepuk tangan saat Bung Karno berpidato.Empatpuluh menit kemudian, Bung Karno bersama Ketua Mao mengendarai mobil Ragtops diiringi dengan kendaraan yang ditumpangi para pemimpin Tiongkok lain. Sepanjang 20 kilometer perjalanan dari Bandar Udara Beijing menuju tempat kediaman para pemimpin RRT di Zhongnanhai itu,seratus ribu lebih warga Beijing tumpah-ruah menyambut Bung Karno.

Malam harinya, Ketua Mao mengundang Bung Karno dan Perdana Menteri Nepal, Tanka Prasad Acharya, makan malam bersama. Hadir pula Menteri Luar Negeri Indonesia Roeslan Abdulgani dan Duta Besar Indonesia untuk RRT Sukardjo Wirjopranoto, menemani Bung Karno. Akan halnya Ketua Mao ditemani Zhou Enlai, Zhude, Liu Shaoqi, Song Qingling, dan Chen Yi.

Acara tersebut diabadikan para jurnalis dari Indonesia dan Tiongkok. Bahkan, sampai sekarang, foto Bung Karno dan Ketua Mao saat makan malam itu bisa kita lihat dalam bentuk poster dan kalender di rumah-rumah rakyat Indonesia yang masih mencintai Bung Karno.

“Para sahabat dan kawan-kawan semuanya, selamat datang di negeri kami. Selamat datang di acara berdirinya negeri kami. Kami ucapkan semoga sehat selalu untuk para sahabat dan kawan-kawan semuanya,” kata Ketua Mao dalam sambutannya.

Bung Karno ikut mengucapkan selamat atas berdirinya tujuh tahun Republik Rakyat Tiongkok: “Saudara-saudaraku sekalian, hari ini saya senang sekali bisa menghadiri hari berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Saya ucapkan selamat untuk seluruh rakyat Tiongkok. Kemenangan Republik Rakyat Tiongkok bagi kami seperti kemenangan Republik Indonesia. Kita adalah teman dekat. Saya berharap Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia bisa maju dan bekerja bersama mencapai perdamaian dunia dan makmur bersama.”

Bung Karno pun tidak menyia-nyiakan waktunya untuk bercengkerama secara pribadi dengan Ketua Mao sebagai Pemimpin Besar Revolusi Tiongkok, yang sangat menggemparkan dunia sampai sekarang. Bung Karno memegang tangan Ketua Mao sambil berkata, “Tangan ini adalah tangan orang besar dari Timur.”

Bung Karno melihat Ketua Mao sangat menikmati rokok yang diisap. “Kalau aku lihat, Ketua Mao dalam hal merokok tidak ada duanya. Asap rokok yang mengepul tinggi bagaikan sepercik api yang dapat membakar ladang ilalang,” kata Bung Karno sambil berkelakar.

Ketua Mao membalas kelakar itu: “Kalau aku lihat Bung Karno memakan cabai, saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Bung.” Padahal, semua orang tahu Ketua Mao adalah orang Hunan yang sangat terkenal suka makan cabai.

Menurut penuturan cerita dari para pegawai Hotel Beijing yang saat itu ditugaskan pemerintah Tiongkok untuk melayani segala kebutuhan dan keperluan Bung Karno, para pemimpin negara dan Partai Komunis Tiongkok sering mengunjungi Bung Karno. Wakil Ketua Zhu De dan Perdana Menteri Zhou Enlai kadang datang dengan keluarga mereka seharian penuh atau sekadar makan bersama.

Ketua Mao memanggil Presiden Soekarno seperti kebiasaan rakyat Indonesia umumnya: Bung Karno. Begitu juga Bung Karno memanggil Mao Zedong dengan sebutan Ketua Mao, seperti rakyat Tiongkok memanggil.

Bung Karno paham betul penggunaan kata ketua, yang dalam bahasa Mandarin adalah zhuxi, maknanya tidak sama dengan penyebutan “presiden” di negeri-negeri Barat. Bagi rakyat Tiongkok, penggunaan kata presiden atau dalam bahasa Mandarin adalah zongtong lebih bersifat kebarat-baratan dan borjuis. Presiden Tiongkok pertama hasil Revolusi Xinhai 1911, Dr. Sun Yatsen, dipanggil dengan sebutan Zhuxi karena sifatnya lebih revolusioner.

Masalah Taiwan dan Irian Barat

Ketua Mao sangat menghormati Bung Karno karena berani melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada saat Konferensi Asia Afrika di Bandung, Bung Karno dengan lantang mengatakan, dengan diselenggarakannya konferensi itu, Asia dan Afrika baru telah lahir. Getaran tersebut sampai kepada telinga Ketua Mao dan memengaruhi pikirannya. Karena itu, Ketua Mao mengatakan kepada Bung Karno, “Konferensi Bandung adalah konferensi yang sangat menggemparkan seluruh dunia. Dalam beberapa tahun ini, dunia telah berubah sangat banyak. Apakah Bung tidak merasakan itu semua?”

Bung Karno merasakan hal yang sama: “Itu betul sekali. Dimanapun aku berada, semua orang membicarakan tentang Konferensi Bandung.”

Ketua Mao juga mengapresiasi keberanian Bung Karno ketika berpidato di Amerika Serikat (AS). “Membaca pidato Bung di AS, kami sangat gembira. Di negeri tersebut, pidato Bung sangatlah bagus, pidato Bung sebagai representasi dari seluruh Asia,” katanya.

“Saya pikir saya berbicara untuk Asia,” ujar Bung Karno.

“Sebenarnya, Bung telah mewakili Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” tutur Ketua Mao. “Pelayanan di AS baguskah?”

Bung Karno menjawab, “Umumnya rakyat AS menyambut saya dengan sangat hangat. Tapi, kebanyakan dari pemimpin AS tidak senang karena saya berbicara apa adanya. Mereka tidak menyukai. Kemanapun saya pergi, para jurnalis selalu bertanya ke saya, bagaimana tanggapan Indonesia jika Tiongkok masuk Persatuan Bangsa-Bangsa. Dengan tegas, saya menjawab, ‘Tiongkok harus bergabung ke PBB sebab, jika 600 juta rakyat Tiongkok tidak terwakili di PBB, PBB menjadi tempat yang diperolok-olok.”

Sudah sejak lama RRT ingin bergabung dengan PBB dan telah menjadi perhatian internasional. Ketua Mao ingin mendengar sendiri pandangan Bung Karno mengenai masalah tersebut. “Menurut Bung, apakah Tiongkok bergabung dengan PBB lebih awal atau telat sedikit?”

“Lebih awal lebih bagus,” tutur Bung Karno.

“Bergabung dengan PBB lebih awal atau belakangan, kami sudah mempersiapkan semuanya,” kata Ketua Mao perlahan-lahan.

Bung Karno berpandangan, jika Tiongkok tidak bergabung dengan PBB, imperialisme akan semakin bengis. Tapi, jika Tiongkok bergabung dengan PBB, Tiongkok akan bisa memainkan peranannya untuk menghadapi segala upaya imperialis menanamkan dan menancapkan kuku-kukunya di negeri-negeri yang dikontrol mereka.

Ketua Mao menanggapi pandangan Bung Karno tersebut sangat senang. Tapi, menurut Ketua Mao, “Permasalahannya, karena masalah Taiwan, Tiongkok agak telat masuk ke PBB. Enam ratus juta rakyat Tiongkok tidak masuk ke PBB itu tidaklah adil. PBB harus ada satu Tiongkok, yaitu RRT. Tidak boleh ada Tiongkok lain selain RRT. Jika di PBB ada perwakilan Taiwan, RRT tidak mau masuk kePBB.“

Menurut Ketua Mao, RRT adalah negara besar, tapi bukan negara kuat. “Banyak orang yang tidak menganggap RRT, jadi mengapa harus terburu-buru bergabung ke PBB? Kami akan berfokus menjalin persahabatan dengan negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin serta setengah dari negara-negara di Eropa. Untuk menghadapi AS, kami sudah mempersiapkannya dengan baik. Pertama: terus berjuang. Kedua: tidak terburu-buru,” katanya.

Ketika itu, Ketua Mao juga berpandangan ada masalah lain, yaitu embargo terhadap RRT. “Kami saat ini sangat kekurangan apel, kacang, kedelai. Kami bisa menunggu selama 11 tahun dan sampai pada saat itu adalah Rencana Pembangunan Lima Tahun yang ketiga telah selesai. Embargo dihapus, kami bergabung ke PBB. Maka, AS akan menyesal nantinya. Pada akhirnya, semua itu harus berdasarkan inisiatif kami sendiri dan teman-teman kami,” tutur Ketua Mao.

Untuk masalah Taiwan, Ketua Mao percaya hanya ada dua jalan: melalui Washington dan melalui Beijing. Berdasarkan situasi internasional saat itu, Ketua Mao berpandangan, “Jalan pertama tidaklah mungkin.Namun, suatu hari nanti, AS akan mengkhianati Taiwan. AS akan melepaskan perkawanan mereka dengan Taiwan. Kami akan memperbaiki kerjasama dengan mereka. Kami pernah bekerjasama dua kali, lalu mengapa kami tidak bisa bekerjasama untuk ketiga kalinya?”

Bung Karno mengagumi Ketua Maokarena analisisnya yang dalam dan pandangan yang fleksibel serta jauh kedepan. “Analisis dan pandangan Ketua Mao sangat wajar, realistis, dan sangat bagus,” Bung Karno juga memuji Ketua Mao, “Anda memang murid Kong Hucu yang pandai.”

Benar saja, setelah tahun 1960, situasi internasional berubah drastis. Banyak negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin merdeka dan masuk menjadi anggota PBB, yang sebelumnya hanya berjumlah 60 negara menjadi 99 negara. Maka, pada Sidang Ke-16 PBB tahun 1961, suara yang mendukung RRT bergabung ke PBB menjadi 42 suara, padahal tadinya hanya 11 suara; suara abstain dari 4 suara menjadi 22 suara.

Hingga tahun 1971, situasi Perang Dingin mulai mengalami perubahan besar. Politik diplomasi pingpong yang dimainkan Ketua Mao dan Zhou Enlai telah menggemparkan dunia. Kemudian dilanjutkan dengan kedatangan Kissinger dan Nixon secara berturut-turut ke Tiongkok. Hubungan antara RRT dan AS mulai mencair dan betul saja apa yang dianalisis Ketua Mao saat berdiskusi dengan Bung Karno bahwa AS mengkhianati Taiwan.

Pada 25 Oktober 1971, Sidang Ke-26 PBB memutuskan pemulihan kedaulatan yang sah untuk RRT di PBB. Berarti Taiwan telah kehilangan kursi mereka di PBB dan tidak lagi perlu mengadakan voting atas masalah kursi Taiwan. Suara yang mendukung RRT adalah 76 berbanding 35 suara, yang diajukan oleh Albania, Al Jazair, dan 23 negara lainnya. Setelah 23 tahun berjuang, kedaulatan RRT akhirnya pulih kembali.

Dari hasil diskusi tersebut akhirnya Bung Karno mendapatkan inspirasi untuk merebut kembali Irian Barat dari pemerintah kolonial Belanda: di satu sisi tetap berjuang melawan imperialis AS, di sisi lain bekerjasama. Masalah Irian Barat, menurut Bung Karno, tidak bisa diselesaikan dalam waktu lima atau enam tahun, bisa lebih. Perjuangan panjang Indonesia dimulai sejak Konferensi Meja Bundar di tahun 1949, Sidang Umum PBB 1954 dan 1955, Konferensi Kolombo 2 Mei 1954, Komunike Panca Negara: Burma, Sri Lanka, India, Pakistan, dan Indonesia 29 Desember 1954 di Bogor, Konferensi Asia Afrika 1955, pertempuran Laut Arafuru yang telah menggugurkan Komodor Laut Yos Sudarso pada 15 Januari 1962, pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB 1960, Bunker Proposal 15 Agustus 1962 di New York, lihainya Bung Karno di panggung internasional, sampai pada Pepera. Maka, seperti kata Bung Karno, “sebelum ayam jantan berkokok” pada 1 Mei 1963, Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Pada 6 Oktober 1956, Bung Karno meninggalkan Beijing ditemani Ketua Mao dan pemimpin Tiongkok lain. “Saya mengundang Saudara-Saudara sekalian dan Ketua Mao untuk mengunjungi Indonesia,” kata Bung Karno didepan sepuluhribu orang, “saya harap saya bisa bertemu kembali dengan Ketua Mao di Indonesia. Rakyat Indonesia menanti Saudara.”

Setelah meninggalkan Beijing, Bung Karno mengunjungi kota lainnya di Tiongkok, seperti kota-kota di provinsi Liaoning, Jilin, Jiangsu, Shanghai, Zhejiang, Guandong, dan Yunnan. Sepuluh hari terakhir, Bung Karno mengunjungi kota-kota di Timur Laut Tiongkok, berjalan di pinggir Sungai Huangbu, memberikan penghormatan terhadap Bapak Nasionalis Tiongkok Dr. Sun Yatsen di Mauseleum Sun Yatsen, dan menikmati keindahan Danau Barat (Xizi Hupan). Bung Karno berada di RRT selama 16 hari.[Darwin Iskandar]