Suluh Indonesia – Siapa yang tidak tahu Mosul. Kota di Irak Utara ini pernah menjadi pusat perdagangan, industri, dan komunikasi era Jalur Sutra (Silk Road). Sebagai kota yang sangat terkenal, Mosul memiliki pasar yang sangat modern dan dilengkapi dengan banyak penginapan.

Ahli geografi Muslim abad ke-10, al-Muqaddasi, menyebutkan Mosul sebagai kota metropolitan di kawasan utara Jalur Sutra. Mosul adalah kota yang indah dengan iklim yang menyenangkan dan air yang jernih.

Banyak orang yang mengunjungi wilayah tersebut. Bahkan, kalangan terpelajar dan pemikir banyak dilahirkan di sana. Mereka adalah ilmuwan, orang-orang yang memiliki otoritas tinggi dalam tradisi dan keilmuan, dokter, ahli filsafat, dan ahli hukum.

Di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, Mosul menjadi pusat ekonomi utama di Jalur Sutra. Sejak saat itu, Mosul terus berkembang menjadi kota yang sangat modern. Barang-barang produksi melimpah, terutama tekstil.

Mosul juga dikenal sebagai pusat industri logam dan minyak mentah. Barang-barang ini diproduksi dalam skala besar dan diekspor. Mosul, riwayatmu dulu!

Mosul masa kini telah menjadi medan pertempuran antara Irak dan kelompok ISIS. Kota ini hancur lebur akibat perang tak berkesudahan.

Ahli geografi pada abad ke-10, Muslim al-Muqaddasi menjelaskan Mosul sebagai kota yang sangat terkenal dan sangat kuno.

Peperangan

Sejarah Mosul dimulai sejak abad ke-25 sebelum Masehi. Selama 13 abad Mosul dikuasai oleh bangsa Asiria, dan pernah menjadi salah satu kota yang bahkan lebih besar daripada Babylon.

Kota itu kemudian dikenal sebagai Nineveh, dan terletak 30 kilometer utara kota Mosul modern. Kota itu adalah kota penting di Mesopotamia, tempat lahirnya peradaban dengan penemuan-penemuan penting seperti roda, penanaman biji-bijian, dan penggunaan tulisan tangan.

Mesopotamia juga telah mengalami peperangan besar yang memecah belah suku, ras, agama, negara, dan kerajaan; dan siklus balas dendam yang berkepanjangan.

Nah, Mosul merupakan titik penghubung dan terletak di tengah rute yang menghubungkan Mesopotamia utara dengan Anatolia, yang terus memikat pasukan bersenjata untuk menguasai kawasan tersebut.

Sejak abad ke-7, kota ini berdiri di tepi barat Sungai Tigris, berseberangan dengan kota Asiria kuno Nineveh di tepi timur, yang menarik masuknya orang-orang Muslim Arab, Kurdi, dan Turki.

Pada 637, kota tersebut dianeksasi oleh Kekhalifahan Rashidun di bawah pimpinan Utba bin Farqad Al-Salami. Mosul berkembang hingga mencakup kedua tepi sungai, walaupun orang-orang Assiria terus menyebutnya Mosul Nineveh atau Ninweh.

Pada 1538, Sultan Suleyman Agung merebut Mosul dari Persia, dan menjadikannya bagian dari Kekaisaran Usmaniyah. Ketika Kekaisaran Usmaniyah kalah pada Perang Dunia I, pasukan Inggris menduduki Mosul dan menerapkan kesepakatan rahasia pada 1916 antara Inggris dan Prancis untuk memecah Kekaisaran Turki.

Perjanjian Sykes-Picot menentukan perbatasan modern Irak, membentuk negara yang mengelompokkan Kurdi dengan Sunni dan Arab Syiah, Assiria dan Yazidi. Sebuah monarki didirikan, dan pada 1932, Irak mendapat kemerdekaan dari Inggris.

Dalam kondisi terpecah-belah, kelompok etnis dan agama bergulat dengan peta Timur Tengah baru yang dibentuk oleh barat. Di bawah kepemimpinan diktator Saddam Hussein dan Partai Ba’ath, penyusunan peta baru terus berlangsung.

Mosul dan provinsi di sekitarnya, seperti kawasan Irak Utara lainnya, mengalami perubahan demografis besar-besaran, termasuk pemindahan paksa oleh pemerintah Irak untuk mengurangi kawasan dan pengaruh budaya kaum minoritas pribumi – Kurdi, Yazidi, Assiria, Shabaks, Armenia, Turkmen, dan Mandean.

Pemerintah Irak melakukan upaya terpadu mulai dari pertengahan 1970-an untuk mengusir kaum minoritas dan mendorong pemukim Arab untuk datang. Sekitar 200.000 warga Kurdi mengungsi ke wilayah lain negara tersebut sepanjang 1978 dan 1979.

Puluhan tahun kemudian, ketika kekerasan sektarian meletus setelah invasi yang dipimpin AS terhadap Irak dan penggulingan Saddam, banyak pihak menyalahkan Perjanjian Sykes-Picot, yang memecah belah kelompok-kelompok etnis di kawasan itu.

Ketika kelompok ekstrimis Sunni ISIS lantas mengumumkan pendirian kekhalifahannya, mereka menggarisbawahi berakhirnya kesepakatan Sykes-Picot. ISIS bahkan memasang video buldozer yang meratakan tanggul penanda perbatasan antara Irak dan Suriah.

Pada 2003 ketika invasi yang dipimpin oleh AS akan dilakukan, awal rencananya adalah dimulai dari Mosul. Kemudian ketika para pembuat kebijakan menyusun rencana perang, mereka berencana menyerang dari Turki dan menjadikan kota penting di utara itu sebagai target utama.

Tapi Turki tidak menyetujui operasi itu, dan memaksa pasukan menyerang dari Kuwait di selatan. Selanjutnya Mosul jatuh pada 11 April 2003, ketika Korps Angkatan Darat ke-5 Irak, yang setia pada Saddam, meninggalkan kota tersebut dua hari setelah Baghdad direbut.

Pasukan Khusus AD AS bersama pejuang Kurdi kemudian menuju ke Mosul. Putra-putra Saddam, Uday dan Qusay, yang bersembunyi di kota tersebut, tewas tiga bulan kemudian dalam sebuah baku tembak dengan pasukan koalisi.

Di bawah pendudukan koalisi, Divisi Lintas Udara Angkatan Darat AS yang ke-101, batalyon sipil, dan LSM mulai membangun kembali kota Mosul. Tentara AS dengan sigap mengakhiri pemberontakan yang menentang kehadiran mereka di kota tersebut.

Tapi, keamanan di kota itu mulai memburuk beberapa bulan kemudian, dan pada 24 Juni 2004, serangan bom mobil yang terkoordinasi menewaskan 62 orang.

Menjelang November, Mosul, seperti wilayah lainnya di Irak, diguncang oleh pemberontakan dari kelompok-kelompok Sunni dan Syiah. Di Mosul, tantangan terbesar datang dari kelompok Islam keras yang disebut Jamaat Ansar al-Sunnah, koalisi pejuang Arab Sunni dan Kurdi Sunni, bersama Abu Musab al-Zarqawi dan kelompoknya Jama’at al Tawhid wal-Jihad.

Kelompok itu, yang juga dikenal sebagai al-Qaida di Irak, pendahulu ISIS, berhasil merebut Fallujah, Ramadi, Samarra, dan Baquba. Satu bulan kemudian, 14 tentara AS, empat pekerja kontraktor Amerika, dan empat tentara Irak tewas dalam serangan bunuh diri di aula asrama pangkalan koalisi.

Sejak itu, Mosul tidak pernah bebas dari pemberontak. Hingga 2008, keamanan di Mosul semakin memburuk. Pada 23 Januari 2008, 36 orang tewas dalam sebuah ledakan di gedung apartemen.

Keesokan harinya, penyerang bunuh diri menewaskan kepala polisi setempat, Jenderal Salah Mohammed al-Jubouri, ketika ia memeriksa lokasi ledakan. Pada Mei, AS mendukung serangan pasukan Irak yang dipimpin oleh Jenderal Riyadh Jalal Tawfiq, dengan harapan bisa menekan para pemberontak. Pada tahun itu, 12.000 umat Kristen Assiria melarikan diri dari Mosul setelah para pemberontak Sunni membunuh puluhan umat mereka dan mengancam membunuh orang Kristen yang menolak masuk Islam.

Setelah menyatakan berdirinya kekhalifahan baru, ISIS meluncurkan gelombang teror terhadap umat Kristen, Yazidi, dan juga sesama Muslim. Saat ini, ISIS sudah berhasil dipukul mundur oleh pasukan Irak. Dan, Irak telah kembali membangun bangunan-banguan sejarah yang dihancurkan oleh ISIS. [WIS]

Baca juga: