Sultan Ageng Tirtayasa atau Sulthan Maulana Syarif ‘Abdul-Fattah Al-Mafaqih merupakan sultan Banten ke-6 yang namanya dikenal di Eropa. Sultan Ageng Tirtayasa dikenal di Eropa karena kedekatannya dengan para pemimpin Eropa kala itu. Ia berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 hingga 1683. Di bawah kepemimpinannya, Banten mencapai puncak kejayaan sebagai pusat perdagangan internasional yang disegani.
Sultan Ageng tidak hanya piawai dalam urusan domestik, tetapi juga mahir dalam diplomasi luar negeri, menjalin hubungan korespondensi dengan tokoh-tokoh besar seperti Raja Charles II dari Inggris dan Raja Louis XIV dari Prancis.
Sultan Ageng Tirtayasa menyadari bahwa posisi strategis Banten harus didukung oleh kemandirian ekonomi. Ia memodernisasi pertanian dengan membangun sistem irigasi besar-besaran yang kemudian memberinya julukan “Tirtayasa” (Pembuat Air) serta memperkuat armada laut untuk melindungi jalur perdagangan lada dari monopoli bangsa Eropa, khususnya VOC.
Ketegasan Sultan Ageng dalam menolak monopoli Belanda menjadi catatan sejarah yang penting. Ia menerapkan kebijakan perdagangan bebas, mengizinkan pedagang dari Inggris, Denmark, Tiongkok, dan India untuk bertransaksi di pelabuhan Banten. Hal ini membuat Banten menjadi pesaing utama Batavia, yang memicu ketegangan berkelanjutan dengan pihak kompeni.
Persekutuan Spiritual dan Militer: Sultan Ageng dan Syekh Yusuf
Kedekatan Sultan Ageng Tirtayasa dengan Syekh Yusuf Al-Makassari bermula dari kesamaan visi dalam membela kedaulatan Nusantara. Syekh Yusuf, yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, menetap di Banten setelah menempuh pendidikan di Timur Tengah. Di sana, ia tidak hanya diangkat sebagai guru spiritual kesultanan tetapi juga menjadi menantu Sultan Ageng Tirtayasa setelah menikahi salah satu putrinya.
Hubungan ini memberikan fondasi moral yang kuat bagi perlawanan Banten. Syekh Yusuf menjadi penasihat utama sultan dalam urusan agama dan negara, memperkuat legitimasi kesultanan sebagai pusat Islam yang inklusif sekaligus radikal terhadap upaya monopoli VOC.
Saat konflik internal pecah akibat adu domba VOC antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji, Syekh Yusuf berdiri teguh di sisi mertuanya. Ia memimpin pasukan gerilya yang terdiri dari prajurit Banten dan pelarian dari Makassar yang dikenal militan.
Kombinasi antara strategi militer Sultan Ageng dan kepemimpinan karismatik Syekh Yusuf sempat membuat kewalahan pasukan Belanda. Mereka memimpin perlawanan dari hutan-hutan di Jawa Barat, menggunakan taktik hit-and-run yang menguras energi dan sumber daya kompeni.
Akhir Perjuangan dan Pengasingan
Persatuan kedua tokoh ini baru berhasil dipatahkan setelah pengkhianatan yang sistematis. Sultan Ageng akhirnya ditangkap pada 1683, sementara Syekh Yusuf terus bergerilya hingga akhirnya tertangkap di tahun berikutnya.
Karena pengaruhnya yang dianggap sangat berbahaya bagi stabilitas kolonial di Nusantara, Belanda memutuskan untuk mengasingkan Syekh Yusuf ke Sri Lanka dan kemudian ke Afrika Selatan. [IQT]




