Perbandingan keempat adalah kondisi perbankan. Pada 1998, banyak bank ibarat rumah kayu yang diam-diam sudah dimakan rayap selama bertahun-tahun. Dari luar tampak megah. Begitu badai datang, satu demi satu roboh seperti kartu domino. Hari ini sistem perbankan Indonesia jauh lebih tebal dindingnya. Belum tentu kebal terhadap badai, tetapi setidaknya tidak lagi terbuat dari papan lapuk.
Perbandingan kelima adalah pertumbuhan ekonomi. Tahun 1998 ekonomi Indonesia terjun hingga minus sekitar 13 persen. Itu bukan perlambatan. Itu pesawat yang kehilangan kedua mesinnya sekaligus. Hari ini ekonomi masih tumbuh positif. Memang ada turbulensi, tetapi pesawatnya masih terbang. Penumpang boleh cemas, tetapi belum saatnya berebut parasut.
Perbandingan keenam adalah dampaknya terhadap rakyat. Pada 1998, PHK menyapu berbagai sektor seperti kebakaran hutan di musim kemarau. Pabrik tutup, usaha gulung tikar, dan jutaan orang kehilangan sumber penghidupan. Hari ini tekanan ekonomi memang terasa, ada PHK pula, tetapi apinya belum menjalar menjadi kebakaran nasional yang menghanguskan seluruh kawasan.
Perbandingan ketujuh adalah politik. Inilah bagian yang paling sering disederhanakan. Banyak orang mengira Soeharto jatuh karena dolar mencapai Rp16.800.
Itu seperti menyalahkan korek api atas kebakaran hutan. Korek api memang memantik api, tetapi yang membuat hutan menjadi lautan bara adalah tumpukan ranting kering yang menumpuk selama puluhan tahun.
Soeharto jatuh ketika krisis kurs bertemu krisis perbankan, krisis ekonomi, perpecahan elite, gerakan mahasiswa, dan hilangnya legitimasi politik. Kurs dolar hanyalah pemicu. Yang merobohkan bangunan adalah fondasi yang sudah retak jauh sebelumnya.
Karena itu, menyamakan Rp18.000 hari ini dengan Rp16.800 tahun 1998 adalah cara tercepat untuk terlihat paham sejarah tanpa harus mempelajarinya. Semacam kemalasan berpikir yang dibungkus kenangan sejarah.
Namun jangan buru-buru merasa aman. Ada satu hal yang justru lebih berbahaya sekarang. Namanya kepercayaan. Dan seperti rupiah, kepercayaan juga bisa mengalami depresiasi. Bedanya, Bank Indonesia punya cadangan devisa. Tidak ada bank sentral yang memiliki cadangan kepercayaan.
Pada 1998 semua orang tahu rumah sedang terbakar. Tidak ada yang sibuk berdebat apakah api itu benar-benar ada. Hari ini bahayanya lebih rumit. Pasar modern tidak menunggu rumah roboh. Investor tidak menunggu atap jatuh ke kepala. Mereka pergi begitu mencium bau asap dari kejauhan.
Karena itu persoalan terbesar bukanlah apakah kurs menyentuh Rp18.000 atau bahkan Rp20.000. Persoalan sesungguhnya adalah apakah pemerintah masih mampu meyakinkan publik bahwa mereka memegang peta ketika kapal mulai memasuki perairan yang bergelombang.
Cadangan devisa bisa dihitung. Rasio perbankan bisa diukur. Pertumbuhan ekonomi bisa diumumkan setiap triwulan. Tetapi kepercayaan tidak pernah lahir dari tabel statistik.
Sejarah menunjukkan bahwa negara jarang terguncang oleh satu angka. Negara biasanya mulai limbung ketika angka-angka buruk bertemu dengan kepercayaan yang mulai keropos.
Dan jika rupiah adalah mata uang ekonomi, maka kepercayaan adalah mata uang politik. Bedanya, rupiah yang jatuh masih bisa dibeli kembali oleh bank sentral. Rupiah yang jatuh masih bisa diintervensi. Kepercayaan yang jatuh sering kali hanya bisa dikenang.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



