Menelusuri Asal Usul Golongan Darah

Ilustrasi golongan darah. (Wikipedia)

Hari ini, kita mengenal istilah golongan darah A, B, AB, atau O sebagai sesuatu yang lazim tercantum di kartu identitas, disampaikan saat pemeriksaan kesehatan, atau jadi bahan percakapan ringan soal kepribadian.

Namun siapa sangka, di balik huruf-huruf sederhana itu tersimpan sejarah panjang penuh risiko, kegagalan, dan terobosan ilmiah. Golongan darah bukanlah sesuatu yang langsung dipahami manusia.

Dulu, semua darah dianggap sama, dan transfusi dilakukan tanpa panduan ilmiah yang memadai. Baru pada awal abad ke-20, dunia medis mulai membuka tabir tentang perbedaan darah manusia, yang kemudian mengubah total wajah pengobatan modern. Bagaimana proses penemuan itu terjadi? Siapa tokoh di balik revolusi ini? Inilah kisah lengkap asal-usul sistem golongan darah yang menyelamatkan jutaan nyawa hingga hari ini yang di rangkum dari berbagai sumber.

Langkah Awal Menuju Keberhasilan

Sebelum dunia medis memahami adanya perbedaan golongan darah, transfusi darah sering kali menjadi pertaruhan hidup dan mati. Pada abad ke-17, ketika transfusi pertama kali dicoba, para dokter masih berasumsi bahwa darah manusia bersifat seragam. Bahkan, beberapa di antaranya mencoba mentransfusikan darah hewan seperti anjing, sapi, atau kambing ke tubuh manusia. Hasilnya tentu fatal penolakan tubuh yang menyebabkan syok, komplikasi, bahkan kematian.

Titik balik pertama muncul pada tahun 1818 ketika James Blundell, seorang dokter Inggris, menjadi pelopor dalam melakukan transfusi darah dari manusia ke manusia. Meskipun ia berhasil menyelamatkan beberapa pasien, banyak dari prosedurnya tetap gagal. Ketidaktahuan tentang perbedaan golongan darah masih menjadi penyebab utama gagalnya banyak transfusi.

Terobosan besar terjadi pada awal abad ke-20. Pada tahun 1900-1901, Karl Landsteiner, ilmuwan asal Austria, memutuskan untuk mencampurkan sampel darah dari beberapa orang dalam eksperimen laboratoriumnya. Hasilnya mengejutkan, beberapa sampel darah menggumpal ketika dicampurkan, sedangkan yang lain tidak.

Dari pengamatan ini, Landsteiner menyimpulkan bahwa dalam darah terdapat zat-zat khusus yang menyebabkan reaksi tersebut. Setahun kemudian, ia berhasil mengidentifikasi tiga golongan darah: A, B, dan C  yang kemudian dinamai ulang menjadi A, B, dan O.

Ia menemukan bahwa golongan darah A memiliki antigen A, golongan B memiliki antigen B, sementara golongan darah O (dari kata “null” atau “tanpa” dalam bahasa Latin) tidak memiliki antigen sama sekali.

Penemuan ini menjadi pondasi sistem ABO, sistem klasifikasi darah yang masih digunakan secara global hingga hari ini. Tidak berhenti sampai di sana, pada tahun 1902, dua muridnya yaitu Alfred Decastello dan Adriano Sturli  menemukan golongan darah keempat, yaitu AB, yang memiliki kedua antigen A dan B.

Dari Teori ke Penghargaan Nobel

Penemuan sistem golongan darah menjadi revolusi dalam praktik medis. Tak hanya membuat transfusi darah menjadi lebih aman, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan kedokteran modern. Atas kontribusinya yang luar biasa, Karl Landsteiner dianugerahi Penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1930.

Namun kiprah Landsteiner belum berakhir. Pada tahun 1940, ia bersama Alexander S. Wiener kembali membuat sejarah dengan menemukan sistem golongan darah Rhesus (Rh), yang menjelaskan mengapa beberapa transfusi masih gagal meski golongan ABO telah cocok. Sistem Rh menambahkan lapisan penting dalam menentukan kompatibilitas darah, terutama dalam kasus kehamilan dan transfusi lanjutan.

Penamaan golongan darah tidak sembarangan. Huruf A dan B diambil dari antigen yang ditemukan pada permukaan sel darah merah. Sedangkan huruf O berasal dari kata “ohne” dalam bahasa Jerman yang berarti “tanpa”, menandakan tidak adanya antigen. Golongan AB dinamakan sesuai dengan kandungan keduanya.

Sistem ini membantu para tenaga medis di seluruh dunia mengenali dan menentukan kecocokan darah dengan lebih akurat dan cepat, sesuatu yang bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati dalam situasi darurat.

Dari percobaan berisiko tinggi hingga sistem ilmiah yang menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun, sejarah asal-usul golongan darah mencerminkan perjalanan panjang dunia kedokteran dalam memahami tubuh manusia.[UN]