Stegodyphus dumicola (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Di dunia hewan, ada banyak perilaku ekstrem yang bagi manusia terdengar mengerikan. Salah satunya adalah matrifagi, sebuah tindakan ketika anak memakan induknya sendiri.

Fenomena ini secara nyata terjadi pada spesies laba-laba dari genus Stegodyphus, seperti Stegodyphus lineatus yang berasal dari kawasan kering di Eropa dan Israel, serta Stegodyphus dumicola dari Afrika Selatan.

Dalam kedua spesies ini, matrifagi merupakan bagian dari strategi reproduksi yang luar biasa dan ekstrem dimana sang induk betina rela mengorbankan seluruh tubuhnya untuk menjadi makanan anak-anaknya.

Matrifagi bukan sekadar peristiwa akhir hidup, melainkan sebuah proses panjang yang dimulai jauh sebelum telur menetas. Setelah laba-laba betina bertelur, ia tidak langsung ditinggalkan atau mencari makan seperti hewan lainnya.

Sebaliknya, ia tetap berada di dekat telur-telurnya dan mulai mengalami perubahan biologis drastis dalam tubuhnya. Jaringan di perutnya secara perlahan mengalami degradasi atau kerusakan ini bukan akibat infeksi atau cedera, melainkan sebuah proses alami yang sudah diprogram secara biologis.

Proses degradasi ini mempersiapkan tubuh induk menjadi sumber makanan yang mudah dicerna oleh keturunannya kelak. Jaringan tersebut mulai mencair sebagian saat telur-telur masih dierami, dan akan semakin melunak ketika bayi-bayi laba-laba menetas dan tumbuh. Tujuannya jelas: memaksimalkan kandungan nutrisi yang dapat diberikan kepada anak-anaknya.

Mengutip laman New Scientist, dalam waktu sekitar dua minggu setelah menetas, tibalah saat yang menentukan, dimana anak-anak laba-laba menusuk tubuh induknya yang telah melemah dan mulai menyerap cairan yang kaya nutrisi dari dalamnya. Inilah saat terjadinya matrifagi. Sang ibu tidak hanya mati, tetapi mati dengan cara menjadi makanan bagi anak-anaknya.

Namun sebelum benar-benar dikonsumsi, induk laba-laba terlebih dahulu memberikan makanan dalam bentuk lain. Ia memuntahkan cairan bergizi yang berasal dari usus tengah dan jaringan perutnya.

Cairan ini diberikan melalui mulutnya kepada anak-anaknya, sebuah bentuk regurgitasi yang menyerupai proses menyuapi. Cairan tersebut membantu pertumbuhan awal bayi laba-laba sebelum mereka cukup besar dan kuat untuk melakukan matrifagi.

Menurut Mor Salomon dari Universitas Ibrani Yerusalem, Israel, yang melakukan penelitian tentang fenomena ini, proses degradasi jaringan tubuh induk terjadi secara bertahap. Menariknya, pada tahap awal perawatan terhadap telur dan anak-anaknya, ovarium induk tetap utuh. Ini kemungkinan besar adalah strategi cadangan, seandainya telur-telur pertama gagal, sang betina masih bisa menghasilkan telur lain. Namun, seiring waktu dan pertumbuhan anak-anaknya, ovarium tersebut juga ikut mengalami penurunan.

Mengapa perilaku ekstrem ini bisa berkembang? Salah satu jawabannya terletak pada habitat laba-laba ini yang keras dan tidak ramah. Baik Stegodyphus lineatus maupun Stegodyphus dumicola hidup di lingkungan kering dan semi-kering, seperti Gurun Negev di Israel atau daerah kering di Afrika Selatan. Dalam kondisi seperti itu, mangsa sangat langka, dan peluang bertahan hidup bayi laba-laba sangat kecil jika mereka harus berburu sendiri.

Maka, tubuh induk menjadi sumber makanan pertama dan mungkin satu-satunya yang mereka miliki. Matrifagi menjadi solusi adaptif yang memungkinkan generasi berikutnya tumbuh dengan cukup nutrisi hingga mampu hidup mandiri. Jo-Anee, seorang zoolog dari Inggris, menyebut perilaku matrifagi ini sebagai sesuatu yang sangat langka dalam dunia zoologi, namun sepenuhnya masuk akal secara evolusioner dalam konteks lingkungan dan keberlangsungan spesies.

Karakteristik dan Ciri-Ciri Fisik

Secara fisik, Stegodyphus dumicola memiliki tubuh kecil dengan panjang sekitar 3,5 mm. Tubuhnya berwarna coklat keabu-abuan atau merah dengan tekstur menyerupai beludru. Betinanya memiliki pita longitudinal di sepanjang perut, sementara jantan memiliki pita putih di bagian perutnya. Laba-laba ini membangun sarang dari sutra di semak-semak atau pohon kecil, dan hidup secara koloni.

Sementara itu, Stegodyphus lineatus sedikit lebih besar. Jantan bisa tumbuh hingga 12 mm dan betina mencapai 15 mm. Ciri khas spesies ini adalah tubuh berwarna putih dengan dua garis hitam lebar yang membujur dari depan hingga belakang. Laba-laba ini ditemukan di iklim Mediterania yang kering, dan dalam proses perkawinan, jantan akan menciptakan getaran pada jaring betina sebagai bentuk pendekatan.

Setelah proses kawin dan bertelur, betina S. lineatus akan berhenti membuat jaring untuk menangkap mangsa. Ia tidak lagi berburu. Energinya diarahkan sepenuhnya untuk menyuapi anak-anaknya melalui regurgitasi, dan akhirnya merelakan dirinya untuk dimakan hidup-hidup. Tidak ada perlawanan, tidak ada pelarian. Ini adalah bentuk pengorbanan mutlak.

Apa yang dilakukan oleh laba-laba ini bukanlah tindakan yang dilakukan secara impulsif atau sebagai respons terhadap ancaman. Sebaliknya, ini adalah proses yang dirancang secara biologis untuk mendukung keberlangsungan hidup spesies.

Dalam sistem evolusi, tindakan ekstrem seperti ini bisa berkembang jika manfaat jangka panjangnya lebih besar dari kerugiannya. Dalam kasus matrifagi, pengorbanan satu induk memastikan kelangsungan hidup puluhan hingga ratusan anak laba-laba yang dapat melanjutkan garis keturunan.

Fenomena matrifagi adalah contoh ekstrem dari kasih sayang dan pengorbanan dalam dunia hewan. Bagi manusia, gagasan tentang seorang ibu yang dimakan oleh anak-anaknya mungkin terdengar kejam dan menyakitkan. Namun dalam dunia laba-laba beludru, itu adalah bentuk tertinggi dari cinta dan pengabdian. Perilaku matrifagi ini memang paling umum ditemukan pada laba-laba, namun juga terjadi pada earwig dan caecilian

Sang induk tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga memberi tubuhnya agar kehidupan itu terus berlanjut. Dalam sekaratnya, ia justru memastikan bahwa benih-benih yang ditinggalkannya akan tumbuh kuat dan mampu menghadapi dunia yang keras. [UN]