Selama satu dekade, dari pertengahan 1950-an hingga pertengahan 1960-an, hubungan Indonesia dan Uni Soviet berkembang secara signifikan, bahkan bagaikan “bulan madu”. Namun, bukan berarti hubungan baik kedua negara hanya terkait hubungan militer semata. Uni Soviet juga banyak bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun infrastruktur sipil, seperti Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta, stadion, dan reaktor nuklir percobaan di Serpong.

Ketika Bung Karno akan menggelar GANEFO (Games New Emerging Force), Uni Soviet juga membantu membangun sejumlah fasilitas olahraga, termasuk Stadion Ganefo (kini menjadi Gelora Bung Karno) di kawasan Senayan, Jakarta. Ganefo sendiri adalah kompetisi olahraga yang melombakan berbagai olah raga yang pesertanya berasal dari gerakan Negara Non Blok.

Pembangunan gelanggang olahraga ini dimulai  awal 1958 atas bantuan Uni Soviet pada masa Perdana Menteri Nikita Kruschev. Biayanya ketika itu sebesar US$ 12,5 juta atau Rp 117,6 miliar.  Peletakan tiang pancang pertama stadion yang mampu menampung 100.000 orang itu dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 8 Februari 1960 dan disaksikan langsung Wakil PM Uni Sovyet Anastas Mikoyan.

Yang menarik, warga Rusia juga gandrung dengan budaya Indonesia. Selama era Presiden Soekarno, lima kampus di Soviet membuka jurusan Sastra Indonesia. Cukup banyak pakar budaya Indonesia lahir berkat jurusan tersebut, misalnya Profesor Alexey Durgov. Musik gamelan serta bermacam tari-tarian dari Tanah Air masih dipelajari oleh warga Rusia sampai sekarang.

Mahasiswa Indonesia yang dikirim untuk belajar di universitas Uni Soviet juga cukup banyak. Sedikitnya ada seribuan mahasiswa yang belajar di berbagai kampus di Uni Soviet, terutama belajar tentang teknologi industri perkapalan, antariksa, tenaga nuklir. Sayang, setelah peristiwa G 30 S 1965, para mahasiswa ini tak bisa kembali ke tanah air dan terlunta-lunta di sejumlah negara Eropa.

Dalam bidang pertahanan, setelah proposal Indonesia (yang ditawarkan KSAD Jenderal AH Nasution) ditolak Amerika Serikat, Presiden Soekarno pun berpaling ke Uni Soviet. Ternyata, Indonesia tidak hanya mendapatkan apa yang dibutuhkan, tetapi dengan dukungan Uni Soviet, Indonesia mampu mengembangkan teknologi dan pengetahuannya di bidang militer.

Di masa itu, Uni Soviet memasok banyak peralatan militer pada Indonesia, mulai dari tank, kapal perang, dan berbagai jenis pesawat tempur. Dukungan alutsista senilai USD 2,5 miliar itu berupa Kapal Perang tipe Sverdlov, 12 kapal selam kelas Whiskey, 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, maupun 30 unit pesawat MiG-15. Semuanya digunakan Indonesia saat menggelar operasi Trikora merebut Irian Barat dari pendudukan Belanda.

Selain memasok peralatan militer, Uni Soviet juga memberikan pelatihan teknis untuk para tentara Indonesia di akademi militer di Moskow, Saint Petersburg, Sevastopol, dan Vladivostok. Rusia juga mengirim seribu instruktur ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Madiun untuk melatih tentara Indonesia. Rusia sadar bahwa sebagai negara baru, militer Indonesia memiliki pengalaman yang sangat terbatas, terutama terkait pengalaman teknis. Belanda tidak mewariskan budaya yang berkaitan kemampuan teknis pada rakyat Indonesia. Padahal, perlu beberapa generasi agar Indonesia dapat benar-benar menguasai hal tersebut.