Ketua MPR RI Zulkifli Hasan/fraksipan.com

Koran Sulindo – “Jangan sampai kita jadi kuli di negeri orang, kuli juga di negeri sendiri.” Begitulah pesan Bung Karno, presiden RI I yang kembali didengungkan Ketua MPR RI Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E,M.M dalam Pidato Kebangsaan rangkaian acara Muktamar Nasyiatul Aisyiyah (NA) XIII di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (26/8).

“Setidaknya kita harus menyiapkan dua hal yaitu Ilmu pengetahuan teknologi dan juga Ekonomi. Sudah 18 tahun Indonesia merasakan reformasi, dunia sekarang telah berbeda. Persaingan makin ketat dan semakin terbuka. Oleh karena itu jika tidak mempersiapkan diri maka akan kalah bersaing,” kata Zulkifli.

Karenanya, Zulkifli berpesan kepada seluruh kader Muhammadiyah agar mempelajari dua hal tersebut. Ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi dikatakan sangat menentukan.

“Namun tidak ada jalan pintas untuk mengubah dua hal ini, perlu kesungguhan dalam mempersiapkannya. Jangan sampai negara kita kalah bersaing dengan yang lainnya,” tuturnya lagi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy mengatakan, barisan kaum perempuan muda yang terkonsolidasi dalam satu gerakan solid akan melahirkan arus perubahan dahsyat, seperti halnya organisasi Nasyiatul Aisyiyah. NA, lanjutnya, harus proaktif dalam mengabil bagian terkait peningkatan kualitas pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar. “Berawal dari sinilah karakter seorang anak dibentuk dan nilai-nilai keluhuran ditanamkan,” kata Muhadjir.

Ditekankan oleh Mendikbud, pendidikan harus menggembirakan dan mencerahkan serta tidak membebani siswa. Pendidikan yang baik adalah yang mampu merangsang aktualisasi diri siswanya. “Saya berharap NA juga turut mengawal dan mendukung agenda perubahan di dunia pendidikan. Tanpa keberanian dan kesungguhan dari semua pihak, asra perubahan itu akan menguap,” ujar Muhadjir.

Menurut Muhadjir, organisasi NA yang identik dengan perempuan usia produktif merupakan kelebihan yang perlu diterjemahkan ke dalam strategi gerakan dan perencanaan program-program dari NA sendiri. Dalam hal tersebut, NA bisa menjadi penentu corak pendidikan di lingkungan keluarga. “NA perlu merumuskan program parenting yang tepat sehingga mampu menjadi sumber belajar dan bertanya bagi keluarga lain yang pendidikan anaknya mengalami masalah,” jelasnya.

Pendidikan keluarga saat ini, kata Mendikbud, menjadi kunci bagi keberhasilan dan ketahanan keluarga dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul dan kompetitif. Adanya Program Indonesia Pintar merupakan satu cara mempercepat perluasan akses masyarakat miskin dalam menikmati pendidikan yang layak.

“Akan tetapi, hal tersebut sulit dicapai jika mentalitas dan karakter generasi muda saat ini rapuh. Sehingga perlu adanya pendidikan karakter bagi setiap generasi muda,” ujar Muhadjir.

Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang tampil pula sebagai pembicara meminta agar NA dalam berdakwah perlu menyasar kaum remaja, seperti halnya tujuan strategis NA yaitu pemetaan pada problem sosial baru, termasuk remaja putri. Hal ini merujuk pada tujuan didirikannya organisasi ini yang merupakan mata rantai yang terikat dan bersambung dengan Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk memberantas kebodohan dan spirit kemajuan.

“Saat ini NA dihadapkan pada problem baru dalam kasus anak-anak muda yang saat ini masih terus meningkat. Salah satu kasus tersebut yaitu adanya pernikahan dini, kejahatan seksual, maupun problem narkoba yang mengincar generasi muda,” kata Haedar. (yuk)