Pembukaan Muktamar PUI ini luar biasa. 4.500 peserta hadir. Tata suara kelas bioskop. Videotron sebesar semangat para panitia. Tapi tak apa, konsumsi tetap minimalis. Barangkali untuk menyeimbangkan anggaran. Karena memang, tak semua cinta harus disalurkan lewat perut —meski kita tahu, perut yang kosong bisa membuat cinta pun lari.
Semoga, kemewahan pembukaan tak berbanding terbalik dengan kemiskinan dampak. Karena seperti kata Kang Zainal Arifin (Azam), Ketua Umum DPP PUI, Muktamar harus menghasilkan sesuatu yang nyata. Sudah saatnya menyata. Jangan hanya jadi ruang kelas elite, tapi juga ruang harapan rakyat.
Dan semoga pula, Wakaf Sawah dan Kebun Nusantara yang digagas bersama GNWP —yang brosurnya tanpa logo PUI— bukan sekadar seremoni, tapi menjadi ladang nyata ishlah dan cinta. Sebuah proyek yang membuat rakyat merasakan dan menikmati manfaat, bukan hanya membaca laporan.
Akhirnya, kita kembali pada dua kata itu: ishlah dan cinta. Di tangan Pak Zul, dua kata itu menjadi alat politik yang manis. Di tangan PUI, dua kata itu semestinya menjadi alat gerakan yang tegas.
Sebab, PUI-lah yang sejak abad lalu telah menyemainya, menanamnya menjadi pohon besar —meski sayangnya, belum sepenuhnya pohon ini berbuah. Barangkali pupuknya minim, atau salah pilih.
Sebab pula, ishlah tanpa cinta adalah birokrasi. Cinta tanpa ishlah adalah utopia. Tapi jika keduanya menyatu, bukan tak mungkin bangsa ini bisa menanam padi dan harapan sekaligus.
Dan semoga, kelak, di sebuah desa di pelosok Nusantara, ada seorang petani yang —meski tak kenal PUI, tak pernah mendengar Intisab— tersenyum karena panennya dibeli dengan harga layak. Maka saat itulah, ishlah dan cinta benar-benar hidup, bukan sekadar teks sambutan.
Alhamdulillah.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis
(mantan Sekjen DPP PUI, kini anggota Majelis Masyayikh PUI)



