Seblak pedas dengan aneka topping seperti bakso, kerupuk, sayuran dan telur
Seblak dengan berbagai topping menjadi salah satu makanan yang digemari. (Foto: Sulindo/Ulfa Nurfauziah)

Seblak menjadi salah satu makanan yang mudah ditemukan, terutama di kalangan anak muda. Perpaduan kerupuk kenyal, kuah gurih, aneka topping seperti telur, bakso dan sosis, serta rasa pedas membuat makanan yang identik dengan kuliner Sunda ini memiliki banyak penggemar.

Namun, di balik rasanya yang menggugah selera, konsumsi seblak secara berlebihan tetap perlu diperhatikan. Bukan berarti seblak harus sepenuhnya dihindari, tetapi frekuensi konsumsi, porsi, tingkat kepedasan, jenis topping hingga kebersihan dalam pengolahannya perlu menjadi pertimbangan.

Seblak umumnya memberikan karbohidrat dari kerupuk dan protein jika ditambahkan telur, bakso atau daging. Namun, makanan ini dapat rendah serat apabila tidak dilengkapi sayuran. Kandungan garam, lemak, serta penyedap rasa juga dapat menjadi tinggi, tergantung bahan dan cara pengolahannya.

Jika dikonsumsi terlalu sering dengan komposisi yang kurang seimbang, seblak dapat membuat asupan gizi harian menjadi kurang optimal.

Lantas, apa saja bahaya terlalu sering makan seblak bagi kesehatan? Melansir laman Alodokter, berikut sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.

1. Dapat Memicu Gangguan Pencernaan

Rasa pedas pada seblak berasal dari cabai yang mengandung capsaicin. Pada sebagian orang, makanan yang sangat pedas dapat memicu keluhan pencernaan, seperti perut terasa tidak nyaman, mulas, atau buang air besar lebih sering.

Keluhan tersebut bisa lebih mudah muncul pada orang yang sensitif terhadap makanan pedas. Karena itu, tingkat kepedasan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Selain cabai, penggunaan minyak dalam jumlah banyak juga dapat membuat sebagian orang mengalami gangguan pencernaan.

2. Berisiko Menambah Asupan Garam

Seblak biasanya menggunakan bumbu dengan cita rasa gurih. Jika ditambah topping olahan seperti sosis dan bakso, jumlah natrium dalam satu porsi bisa semakin tinggi.

Asupan natrium yang berlebihan secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah, terutama pada orang yang memang sensitif terhadap garam atau memiliki faktor risiko hipertensi.

Karena itu, bukan hanya seblak yang perlu diperhatikan, tetapi juga total asupan garam dari seluruh makanan yang dikonsumsi dalam sehari.

3. Perlu Diwaspadai oleh Orang dengan Masalah Ginjal

Orang yang memiliki penyakit ginjal perlu lebih berhati-hati dalam memilih makanan, termasuk makanan yang tinggi natrium.

Ginjal berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Asupan natrium yang berlebihan dapat menjadi masalah bagi orang dengan gangguan fungsi ginjal, terlebih jika pola makan secara keseluruhan tidak terkontrol.

Karena itu, penderita penyakit ginjal sebaiknya mengikuti anjuran dokter atau ahli gizi mengenai batas asupan garam dan jenis makanan yang sesuai.

4. Risiko Gangguan Pencernaan Akibat Kebersihan Makanan

Bahaya makan seblak tidak hanya berkaitan dengan rasa pedas dan kandungan gizinya. Kebersihan makanan juga menjadi hal penting.

Seblak yang dibuat dengan bahan, air, peralatan atau lingkungan yang kurang higienis berpotensi terkontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit.

Kontaminasi makanan dapat menyebabkan keluhan seperti mual, muntah, sakit perut dan diare. Risiko tersebut dapat meningkat jika bahan makanan tidak disimpan dengan baik atau dimasak hingga matang sempurna.

Karena itu, pilih penjual seblak yang menjaga kebersihan tempat, peralatan, bahan makanan dan proses memasaknya.

5. Bisa Memicu Gejala Asam Lambung

Seblak dengan tingkat kepedasan tinggi dapat memicu atau memperburuk gejala pada sebagian orang yang memiliki masalah refluks asam lambung atau GERD.

Gejala yang dapat muncul antara lain rasa panas di dada, mual, sendawa, rasa asam atau pahit di mulut hingga ketidaknyamanan pada tenggorokan.

Respons setiap orang terhadap makanan pedas berbeda. Jika setiap kali makan seblak muncul gejala tersebut, sebaiknya kurangi tingkat kepedasan atau batasi konsumsinya.

6. Kalori dan Lemak Bisa Bertambah

Seblak tidak selalu memiliki kandungan gizi yang sama. Komposisinya sangat bergantung pada bahan yang digunakan.

Kerupuk, mi, makaroni, telur, bakso, sosis, ceker dan berbagai topping lainnya dapat membuat kandungan kalori dalam satu porsi meningkat.

Jika dikonsumsi terlalu sering tanpa memperhatikan kebutuhan energi harian, makanan dengan kalori tinggi dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.

Karena itu, memilih topping juga menjadi bagian penting jika ingin menikmati seblak dengan lebih seimbang.

7. Bisa Membuat Asupan Gizi Harian Kurang Seimbang

Satu porsi seblak belum tentu memenuhi kebutuhan tubuh terhadap protein, serat, vitamin dan mineral.

Masalah dapat muncul ketika seblak terlalu sering dijadikan makanan utama dan menggantikan makanan dengan komposisi gizi yang lebih lengkap.

Untuk membuat makanan lebih seimbang, seblak dapat ditambahkan sayuran serta sumber protein seperti telur. Dengan begitu, makanan tidak hanya mengandalkan kerupuk dan bumbu.

8. Pola Konsumsi Berlebihan Dapat Meningkatkan Risiko Masalah Kesehatan

Satu kali makan seblak tidak secara otomatis menyebabkan penyakit kronis. Yang lebih perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan.

Konsumsi makanan yang secara konsisten tinggi garam, lemak, kalori dan rendah serat, jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan.

Karena itu, seblak sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu pilihan makanan yang dikonsumsi sesekali, bukan menjadi menu utama setiap hari.

Tips Aman Menikmati Seblak

Bagi pencinta seblak, makanan ini tetap bisa dinikmati dengan sejumlah langkah sederhana.

Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

1. Batasi frekuensi konsumsi, terutama jika seblak yang dipilih tinggi garam, minyak atau topping olahan.

2. Pilih tingkat kepedasan sesuai kemampuan tubuh dan jangan memaksakan diri mengikuti tren seblak superpedas.

3. Tambahkan sayuran untuk meningkatkan asupan serat, vitamin dan mineral.

4. Pilih topping dengan lebih bijak, misalnya telur dan bahan makanan segar, serta tidak berlebihan menggunakan makanan olahan.

5. Perhatikan kebersihan penjual, mulai dari bahan makanan, air, peralatan hingga tempat memasak.

6. Pastikan semua bahan matang sempurna, terutama telur, daging dan produk olahan.

7. Perhatikan respons tubuh. Jika muncul keluhan berulang setelah makan seblak, pertimbangkan untuk mengurangi atau menghindarinya.

Seblak bukan makanan yang harus ditakuti. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering dikonsumsi, seberapa besar porsinya, apa saja bahan yang digunakan, serta bagaimana kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya.

Menikmati seblak sesekali dengan porsi yang wajar dan komposisi yang lebih seimbang dapat menjadi pilihan yang lebih bijak. Sebaliknya, menjadikan makanan pedas dengan banyak garam, minyak dan topping olahan sebagai menu sehari-hari dapat membuat pola makan menjadi kurang sehat.

Jadi, sebelum kembali menikmati semangkuk seblak favorit, jangan hanya memikirkan tingkat kepedasannya. Perhatikan juga porsi, topping, kebersihan, dan keseimbangan gizi agar kenikmatan makan tetap sejalan dengan upaya menjaga kesehatan. [UN]