Gelombang Besar Busana Muslim

Gelombang Besar Busana Muslim

107
Busana muslimah karya Itang Yunazs

Koran Sulindo – Di Indonesia, apa yang kini dikenal sebagai baju muslim atau modest wear sudah mulai menjadi perhatian sejak artis dan penyanyi terkenal Ida Royani mulai mengenakan dengan gaya yang berbeda. Ida Royani memang dikenal sebagai sosok yang sangat modis. Bahkan, dulunya, dia dikabarkan bisa berangkat ke Singapura di pagi hari untuk belanja pakaian yang akan dikenakan ke pesta di Jakarta pada malam harinya.

Kecintaannya untuk tampil stylish tetap bertahan ketika ia memutuskan untuk berhijab pada tahun 1978. Rok lebar dengan sepatu boots, antara lain, menjadi gaya khasnya waktu itu.

Tahun 1980, ia mulai melansir busana baju muslim berlabel Ida Royani dan menjualnya di Pusat Perdagangan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta, sejak 1984.

Saat itu belum banyak desainer modest wear karena kebutuhan di segmen tersebut juga belum terlalu banyak. Kalaupun ada yang memakai, biasanya dalam padanan standard berupa atasan tunik dengan celana panjang atau sekalian memakai abaya dengan dilengkapi hijab.

Beberapa desainer baju muslim kemudian bertumbuh, seperti hadirnya desainer Anne Rufaidah pada tahun 1984, Nunik Mawardi di tahun 1990,  Tuty Adib di tahun 1996 yang kemudian membuka label Bilqis pada tahun 2000. Pada tahun 2000 pula, kejutan datang dari Itang Yunasz, desainer senior yang sudah mapan dan bahkan sering melanglang buana sebagai desainer dengan gaya fashion modern. Itang tiba-tiba memutuskan mengubah haluan dengan mendesain busana modest.

Keinginan Itang Yunasz untuk mendandani seluruh perempuan dari berbagai lapisan masyarakan membuat dia—yang dikenal dengan busana berkelasnya—justru berpindah target market dan menjajaki peluang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, lewat label Kamilaa. Pendekatan desainnya tidak berbeda dengan lini ready to wear sebelumnya, hanya ia melakukannya dalam koridor santun, yaitu tidak terbuka, tidak membentuk tubuh, dan tidak menerawang.

Langkah Itang ini menuai sukses luar biasa dan tanpa disangka malah ikut membawa busana muslim pada level yang setara dengan busana umum. Apalagi, totalitasnya mendesain diperkaya dengan menciptakan motif pada material kain dengan mengangkat motif tradisional. Ia pun kemudian dikenal sebagai trend setter dalam desain busana muslim atau yang ia lebih senang menyebut dirinya sebagai modest fashion.

Kehadiran Ria Miranda yang pada tahun 2008 memberi warna tersendiri dalam busana modest wear. Ia memutuskan berfokus pada busana syar’i yang saat itu belum banyak pemakainya. Brand Shabby Chic by Ria Miranda adalah brand pertamanya yang berciri khas warna pastel. Pada tahun 2009, ia memutuskan memakai namanya saja sebagai label, yaitu Ria Miranda. Sekarang butiknya sudah ada 12, termasuk membuka cabang di Malaysia.

Ria Miranda

Langkah Nur Zahra sebagai label pendatang baru di dunia fashion—yang mulai dirintis tahun2009—juga tidak bisa diabaikan. Ketika label yangberfokus pada batik bermotif Islami dan pewarna alam, khususnya indigo, ini dilirik Jakarta Fashion Week dan British Council untuk masuk program inkubator bisnis fashion “Indonesia Fashion Forward” pada tahun 2012, pencapaiannya dalam memperkenalkan fashion muslim Indonesia mendunia patut diacungi jempol.

Hanya dalam rentang waktu dua tahun, brand ini mampu menembus Tokyo Fashion Week (2014) dan bahkan liputannya saat itu ditempatkan pada cover media cetak fashion WWD, selain juga diliput Vogue Italia dan Harper’s Bazaar Amerika Serikat pada tahun yang sama.

Restu Anggraini, Rani Hatta, Rya Baraba, dan Norma Hauri adalah nama-nama yang ikut menambah kosa-fashion modest Indonesia. Selain mereka masih ada satu nama lagi yang juga ikut berperan dalam perkembangan fashion muslim, yaitu—suka atau tidak suka, mau atau tidak mau—Aniessa Hasibuan. Walau saat ini karirnya kandas karena ikut terseret kasus travel milik suaminya, perempuan yang banyak diragukan kemampuannya sebagai desainer ini sudah menorehkan sejarah dalam perkembangan busana muslim, dengan keikutsertaannya di New York Fashion Week (NYFW) pada tahun 2014. Dia menjadi desainer modest pertama yang menjejakkan langkah di runway NYFW dan tentunya kita patut berbangga karena nama Indonesialah yang hadir dalam momen bersejarah tersebut.