FBI Lanjutkan Investigasi tentang Rusia, Trump Meradang

FBI Lanjutkan Investigasi tentang Rusia, Trump Meradang

Presiden AS Donald Trump.

Koran Sulindo – Setelah Biro Investigasi Federal (FBI) memastikan akan meneruskan penyelidikannya, Presiden Donald Trump meradang. Ia menuduh FBI memulai penyelidikan terhadap dirinya atas dugaan bekerja untuk Rusia tanpa dasar dan bukti yang kuat.

Melalui akun resmi Twitter-nya, Trump mengatakan, para pemimpin FBI yang korup dan hampir semuanya dipecat dan dipaksa meninggalkan FBI karena beberapa alasan yang sangat buruk membuka penyelidikan terhadapnya. Dan itu semua dilakukan, menurut Trump, setelah ia memecat James Comey, mantan Direktur FBI.

“Ini menjadi kebatilan total,” tweet Trump seperti dikutip Channel News Asia pada Minggu (13/1).

Trump memecat James Comey pada Mei 2017 lantaran tidak mau mengucapkan sumpah setia kepadanya. FBI sesungguhnya sudah mencurigai Trump berhubungan dengan Rusia sejak masa kampanye Pemilihan Presiden AS 2016. Namun, mereka memilih untuk tidak melakukan penyelidikan.

Investigasi ini lalu dilanjutkan setelah Comey dipecat Trump. Pemecatan Comey di samping soal tidak mau mengucapkan sumpa setia juga karena tidak mau menghentikan penyelidikan tehadap Trump. FBI kini membuka penyelidikan operasi kontra-intelijen untuk menentukan apakah Trump bekerja kepada Rusia dan menjadi ancaman keamanan nasional.

Kemudian, dari sisi kriminal, FBI akan melihat apakah tindakan Trump yang selama ini menghalang-halangi penyelidikan masuk dalam kategori tindak pidana. Menghalang-halangi itu termasuk tindakan Trump terhadap pemecatan Comey.

Penyelidikan ini digabung dengan tim Robert Mueller yang sudah menyelidiki dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016. Sementara ini, memang belum ada bukti secara terbuka bahwa Trump menjalin hubungan diam-diam atau menjalankan perintah Rusia.

Menanggapi penyelidikan itu, Trump menilai, FBI sedang berada dalam situasi paling buruk karena kepemimpinan Comey yang buruk. Pemecatan Comey disebut Trump sebagai hari yang paling hebat bagi Amerika.

Sementara anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jerrold Nadler mengatakan, respons Trump terhadap penyelidikan FBI itu sangat umum dan justru tak melakukan apa-apa atas tuduhan yang serius itu. Tidak ada alasan untuk meragukan keseriusan dan profesionalisme FBI, kata Nadler.

Laporan The New York Times menyebutkan, FBI telah mencurigai hubungan Trump dengan Rusia selama kampanye Pilpres AS 2016. Namun, lembaga tersebut menunda penyelidikan hingga Trump memecat Comey. Terhadap penyelidikan yang dilakukan Robert Mueller, Trump menyebutnya sebagai “perburuan penyihir” dan menjadi noda dalam pemerintahannya.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo yang merupakan Direktur CIA ketika penyelidikan itu dimulai menolak mengomentari laporan The New York Times. Namun, ia dalam sebuah wawancara pernah mengatakan “Gagasan Presiden Trump adalah ancaman bagi keamanan nasional AS merupakan sebuah lelucon.”

Kendati tetap berkeras bekerja kepada Rusia, hasil penyelidikan Mueller telah berhasil membawa 33 orang menjadi tersangka dalam kasus itu, termasuk anggota intelijen militer Rusia dan beberapa di antaranya yang menjadi orang dekat Trump telah divonis bersalah. Mantan penasihat keamanan nasional Trump, misalnya, Michael Flynn mengaku telah berbohong tentang hubungannya dengan Rusia.

Kemudian, Michael Cohen, mantan advokat Trump, divonis 3 tahun penjara lantaran berbagai tindak pidana termasuk pembayaran ilegal pada masa kampanye Pilpres. Selanjutnya, Paul Manafort telah dihukum dalam satu kasus dan dinyatakan bersalah dalam kasus lain atas kejahatan keuangan yang berhubungan dengan pekerjaannya di Ukraina dan berupaya memengaruhi saksi.

Kantor berita McClatchy melaporkan, catatan telepon seluler Cohen berada di dekat Praha selama musim panas 2016. Itu mendukung tuduhan bahwa ia bertemu dengan pejabat Rusia selama kampanye Pilpres AS 2016. Soal ini, Cohen pernah membantahnya bahwa belum pernah ke Praha.

Kemudian, pengakuan Manafort yang mengakui telah berbagi data dengan seorang Rusia selama Pilpres 2016 kian mendukung tuduhan kepada Trump. Ia sebelumnya berbohong tidak mengenal Konstantn Killiminik, seorang konsultan politik yang diduga merupakan agen intelijen. Namun, ia akhirnya mengakui hubungannya dengan Killiminik walau mengaku lupa detail pertemuannya. [KRG]