Ayatollah Ali Khamenei diyakini secara luas merupakan keturunan ke-38 Nabi Muhammad Saw melalui garis keturunan putranya, Hussain Asghar, putra Imam Sajjad.

Sebagai seorang Sayyid (sebutan untuk keturunan Nabi dalam tradisi Islam), Khamenei diyakini memiliki garis nasab yang terhubung ke Nabi Muhammad. Ia sering memakai sorban hitam sebagai simbol kehormatan tersebut.

Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad, Iran timur laut, dari keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Sayyid Javad Khamenei, seorang tokoh agama dengan penghasilan terbatas.

Sang ayah membesarkannya dalam kehidupan asketis yang menekankan kesalehan, disiplin, dan kecintaan pada ilmu agama. Masa kecilnya diwarnai kesederhanaan yang kelak membentuk watak keras sekaligus ketahanan mentalnya.

Sebagai remaja, ia memasuki pendidikan agama tradisional dan kemudian melanjutkan studi ke Qom, pusat intelektual Syiah yang menjadi magnet bagi pelajar teologi dari seluruh Iran.

Di sana ia tidak hanya menyerap fikih dan tafsir klasik, tetapi juga menyaksikan pergulatan pemikiran politik Islam yang sedang berkembang di bawah bayang-bayang rezim monarki.

Di Qom, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh oposisi religius yang kelak memimpin Revolusi Iran. Pertemuan intelektual dan spiritual ini menjadi titik balik penting.

Khamenei muda bukan sekadar santri yang tekun; ia menjadi aktivis bawah tanah yang mengorganisasi jaringan perlawanan dan menyebarkan pesan oposisi terhadap pemerintahan Shah.

Pada 1960-an dan 1970-an, aktivitas politiknya membuatnya berkali-kali ditangkap dan dipenjara oleh aparat keamanan kerajaan. Penahanan dan interogasi tidak mematahkan tekadnya. Sebaliknya, pengalaman itu memperkuat citranya sebagai pejuang ideologis yang siap menanggung risiko demi perubahan politik.

Ketika gelombang revolusi 1978–1979 mengguncang Iran dan memaksa Shah Reza Pahlevi meninggalkan negara itu, Khamenei termasuk tokoh religius yang aktif mengonsolidasikan kekuatan revolusioner.

Setelah revolusi berhasil dan Republik Islam berdiri, ia dengan cepat naik dalam struktur kekuasaan baru.

Pada 1981, setelah selamat dari percobaan pembunuhan yang menyebabkan salah satu lengannya lumpuh permanen, ia terpilih sebagai Presiden Iran. Jabatan tersebut saat itu bersifat administratif, sementara otoritas tertinggi tetap berada pada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Khomeini.

Ketika Khomeini wafat pada 1989, konstitusi diubah dan Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Dari posisi inilah ia mengonsolidasikan kekuasaan negara, memperkuat institusi revolusi, serta membentuk arah politik domestik dan kebijakan luar negeri Iran selama lebih dari tiga dekade.

Memang, usia telah menua di tubuh lelaki itu. Delapan puluh enam tahun adalah usia yang dalam banyak kebudayaan dianggap bonus panjang dari Tuhan. Tubuhnya tampak rapuh dalam beberapa tahun terakhir, langkahnya pelan, suaranya lebih lirih dibanding dekade-dekade sebelumnya.

Namun bagi para pendukungnya, usia lanjut tidak menghapus citra keteguhan yang telah dibangun selama puluhan tahun kepemimpinan.

Sepanjang hidupnya, ia memimpin Iran dalam kondisi yang nyaris permanen dikepung embargo oleh Amerika Serikat.

Sanksi ekonomi bertumpuk seperti lapisan karat pada pintu tua. Perbankan dibatasi, perdagangan dihambat, teknologi disekat, dan akses finansial global dipersempit. Negara yang kaya energi itu dipaksa belajar hidup dengan paru-paru sendiri.

Namun tekanan panjang itu justru melahirkan obsesi kemandirian. Industri militer domestik berkembang pesat. Program nuklir sipil dijadikan simbol kedaulatan teknologi.

Produksi obat, riset sains, hingga manufaktur strategis dipacu dalam semangat berdiri di atas kaki sendiri. Dalam narasi resmi negara, embargo bukan sekadar hukuman, melainkan ujian sejarah untuk membuktikan daya tahan peradaban.

Amerika Serikat, yang dalam retorika revolusi kerap disebut sebagai “setan besar”, menjadi antagonis tetap dalam panggung geopolitik Iran.

Permusuhan itu bukan sekadar konflik kebijakan, melainkan identitas politik yang diwariskan sejak revolusi 1979. Bagi sebagian rakyat Iran, perlawanan terhadap dominasi global dipandang sebagai bagian dari harga diri nasional.

Namun seperti semua tokoh besar dalam sejarah, Khamenei hidup di antara pujian dan kritik, kesetiaan dan keberatan. Ia dipuji sebagai penjaga revolusi dan simbol ketahanan nasional, tetapi juga dikritik atas represi politik dan pembatasan kebebasan sipil.

Ia dilihat sebagai pemimpin yang teguh mempertahankan kedaulatan, sekaligus figur yang mengawasi negara dengan keras. Sejarah jarang memberi ruang bagi tokoh yang sepenuhnya hitam atau putih; ia lebih sering menghadirkan warna abu-abu yang pekat.

Kini, setelah ia tiada, Iran memasuki babak baru. Duka berkabung menyatu dengan kesadaran bahwa sejarah tidak pernah berhenti menulis dirinya sendiri.

Generasi baru akan mewarisi negara yang ditempa tekanan, ideologi, dan ketahanan panjang. Mereka akan memutuskan apakah jalan lama diteruskan, diperbaiki, atau diganti dengan arah baru.

Di masjid-masjid, doa masih mengalir. Di jalan-jalan, bendera masih setengah tiang. Di rumah-rumah, televisi menyiarkan potongan pidato lama yang kini terdengar seperti wasiat sejarah.

Dan waktu, seperti biasa, berjalan tanpa menoleh. Barangkali di situlah pelajaran paling sunyi dari kematian seorang pemimpin.

Kita belajar bahwa kekuasaan pasti berakhir, tetapi ingatan kolektif terus hidup; bahwa manusia fana, tetapi gagasan dapat melampaui usia.

Kita juga belajar bahwa duka sebuah bangsa, jika direnungi dengan jernih, dapat berubah menjadi energi untuk menata masa depan yang lebih matang.

Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis