Ilustrasi: Sam Ratu Langie (kanan) dengan saudara-saudara sepupunya (1905)/laniratulangi.wordpress.com

Koran Sulindo – Sam Ratulangi bertemu pertama kali dengan Suzanne Emilie Houtman di perkumpulan antar-ras Setia Tanah Hindia, yang didirikan Sam bersama beberapa kawannya tak lama setelah ia bermukim di Belanda. Sekitar akhir tahun 1913.

Suzanne Houtman lahir di Mojokerto di tahun 1890, dan besar di Batavia. Keluarga orangtuanya adalah salah satu hartawan di Hindia Belanda. Orangtuanya juga masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Kerajaan Bugis.

Setelah menamatkan sekolahnya menengahnya, Suzanna menempuh studi di Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam. Ia menamatkan studinya di tahun 1917, dengan spesialisasi di bidang neuropshysiology.

Sam dan Suzanne tak hanya serasi dalam hubungan pribadi, mereka juga bergiat-aktif di beberapa institusi, antara lain: Aliansi Mahasiswa Indonesia Lintas-Ras (Indonesisch Verbond van Studeerenden). Suzanna pula yang ikut mendorong Sam untuk meneruskan studi doktoral di Universitas Zurich.

Masa pacaran pasangan kekasih ini cukup panjang, hingga mereka menikah di tahun 1918. Pasangan ini memiliki dua anak: C.J. Albert Ratulangi (Oddy) dan E.A. Ratulangi (Zus). “Tidak diragukan lagi, Sam Ratulangi setia terhadap perempuan yang rajin dan cantik ini,” tulis Van Klinken. “Bagi Suzanne Houtman, pernikahannya adalah juga sebuah pernyataan mengenai kesetaraan antara peradaban Minahasa dan Eropa”.

Setelah Perang Dunia I usai di tahun 1919, Sam memboyong keluarganya kembali ke Indonesia, tepatnya di Bandung. Sementara Sam bekerja sebagai guru dan jurnalis, Suzanne membuka praktik neurologi dan psikiatri. Tapi, pernikahan itu tak berlangsung lama. Mereka bercerai di tahun 1926.

Tak lama kemudian, Suzanne menikah lagi dengan seorang pejabat Belanda. Ketika Jepang menduduki Indonesia, Suzanne sempat ditangkap dan ditahan di “Kamp Tjideng”, kamp tahanan khusus untuk para wanita Eropa.

Sedangkan Sam kemudian jatuh cinta kepada seorang gadis Minahasa, Maria C.J. Tambayong. Mereka kemudian menikah di tahun 1928. Pasangan ini memiliki tiga putri: Milly, Lani, dan Uki. Kedua anak Sam dari pernikahannya pertamanya, Oddy dan Zus, juga ikut dalam keluarga ini.

Maria Tambayong, yang berasal dari keluarga terpandang di Minahasa, adalah seorang guru. Ia pernah mengajar di Surabaya, sebelum bertemu dengan Sam. Maria lah yang mendampingi Sam di masa-masa jatuh bangun dalam mengarungi dunia pergerakan kebangsaan.

Ketika Sam direcall dari Volksraad dan ditahan–karena tuduhan manipulasi keuangan– yang kemudian tak terbukti. Maria lah yang menghidupi anak-anaknya. Maria pula, bersama para putrinya, yang mendampingi Sam saat diasingkan ke Serui oleh NICA di tahun 1945. Disamping Maria pulaz Sam menghembus nafas terakhirnya, 30 Juni 1949,  di Jakarta. [IH]