Di sisi lain, rumor pendapatan triliunan dari RSUP bukanlah sekadar angka. Ia adalah simbol — dari bagaimana pemerintah melihat rumah sakit: bukan lagi benteng kemanusiaan, tapi gudang profit. Maka tak heran jika para dokter kini dilanda krisis eksistensial. Mereka merasa bukan lagi pejuang di garis depan, tapi sales asuransi dengan jas putih.
Lalu apa yang akan terjadi jika rumor ini benar? Mungkin akan lahir profesi baru: “Dokterpreneur.” Mereka membuka klinik dengan slogan: Kami Bukan Menyembuhkan, Kami Menargetkan.
Pasien masuk bukan berdasarkan urgensi, tapi potensi margin keuntungan. IGD berubah jadi kasir, dan operasi dijadwalkan berdasarkan grafik keuangan. Yang miskin? Silakan ke belakang antrean, atau ke pengobatan alternatif.
Namun, kita juga tak boleh jadi pesimis akut. Pasiak menawarkan jalan damai: audit menyeluruh, bentuk dewan transisi, dan perbaiki sistem dari hulu. Negara perlu berdialog dengan komunitas medis —bukan hanya mengatur dari atas dengan spreadsheet dan PowerPoint. Karena dokter bukan barang produksi, dan pendidikan dokter bukan pabrik.
Kalau tidak percaya, coba Anda tanya pada dokter Anda, “Dok, target hari ini sudah tercapai?” Kalau ia menjawab, “Masih kurang dua operasi dan satu endoskopi,” maka yakinlah: kita sedang berjalan mundur ke masa depan —di mana sistem kesehatan tak lagi menyembuhkan, tapi menjual ilusi kesembuhan.
Dan pada akhirnya, kita sebagai rakyat hanya bisa berharap: semoga rumor ini tak menjadi kenyataan. Karena kalau iya, rumah sakit akan menjadi tempat di mana penyakit disambut dengan tarif, dan dokter menangis di balik masker sambil menghitung cicilan hidup.
Selamat datang di Republik Sehat, Syarat dan Ketentuan Berlaku.
Cak AT – Ahmadie Thaha | Kolumnis



