Daya Tahan Bitcoin di Tengah Wabah Virus Corona

Kripto, terutama bitcoin digadang-gadang sebagai aset investasi baru yang memiliki tingkat risiko yang rendah. Bitcoin karena itu dijuluki sebagai the new safe haven. Benarkah?

Menguji daya tahan bitcoin di tengah wabah virus corona/The Star Online

Koran Sulindo – Kripto, terutama bitcoin digadang-gadang sebagai aset investasi baru yang memiliki tingkat risiko yang rendah saat kondisi perekonomian sedang mengalami ketidakpastian. Karena itu, para penggemarnya menjuluki bitcon sebagai the new safe haven sama seperti emas. Bitcoin memang diciptkan tahun 2009, selepas terjadi krisis ekonomi di Amerika Serikat pada 2008. Saat ini banyak investor pasar modal frustrasi karena nilai aset mereka seketika jatuh akibat krisis.

Ujian bagi Bitcoin kini sudah tiba. Julukan bitcoin sebagai the new safe haven kini diuji validitasnya di tengah kepanikan warga global akibat pandemi virus corona baru (Covid-19). Karena, tak hanya kesehatan masyarakat yang saat ini sedang terancam, tetapi juga krisis ekonomi di berbagai negara juga dipastikan akan menjadi dampak ikutan dari pandemi ini.

Saat wabah Corona merebak di Tiongkok sejak Januari hingga Februari lalu, harga bitcoin masih cukup tangguh dibandingkan dengan aset berisiko seperti saham. Sepanjang Januari hingga Februari 2020, harga bitcoin mengalami kenaikan sebesar 18,67% dari US$ 7.199,8 pada 1 Januari menjadi US$ 8.543,7 pada 29 Februari 2020.

Bandingkan harga saham pada periode yang sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia misalnya sepanjang dua bulan tersebut mengalami penurunan sebesar 13,22% dari 6.283,58 pada 1 Januari 2020 menjadi 5.452,7 pada Jumat, 28 Februari 2020. Pada periode tersebut, saham-saham yang dinilai bluechip seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Unilever Indonesia (UNVR), dan lainnya juga mengalami koreksi: BBCA turun 5,98%, BBRI turun 4,99% dan UNVR turun sebesar 20,18%.

Berdasarkan data tersebut jelas, bitcoin memang lebih kokoh di tengah badai krisis. Tetapi, keraguan mulai muncul pada Maret. Saat Covid-19 ini mulai menginfeksi banyak negara di dunia, pertahanan bitcoin mulai goyah. Puncaknya saat Organisasi Kesehata Dunia (WHO) pada 11 Maret lalu mengumumkan Covid-19 sebagai pendemi global. Seketika itu juga harga bitcoin terjungkal dari US$ 7.935 pada 11 Maret menjadi US$ 4.826 pada 12 Maret. Dalam sehari itu investor atau trader bitcoin di seluruh dunia kehilangan aset sebesar 39,18%. Level harga US$ 4.800-an merupakan kondisi harga bitcoin pada awal April 2019 lalu.

Pada saat yang sama bursa saham di seluruh dunia juga ambruk. IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun ke bawah 5.000, kembali ke kondisi harga pada Juli 2016 silam. Panic selling atau menjual karena kepanikan pun terus terjadi di pasar saham sehingga hampir semua emiten di bursa efek mengalami penurunan harga yang drastis. Hingga Kamis (26/3) lalu, IHSG bahkan sudah sempat menyentuh level terendah di 3.911,71 pada Selasa (24/3) lalu. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Agustus 2013.

Beruntunganya kejatuhan bursa saham ini tertolong oleh berbagai stimulus baik kebijakan moneter maupun fiskal. Pembalikan arah baru terjadi saat Amerika Serikat menggelontorkan dana US$ 2 triliun untuk menggairahkan pereknomian yang sedang lesu. IHSG pada Kamis (26/3) pun langsung melejit naik 10,19% kembali ke level 4.338,9.

Bitcoin
Bila bursa saham membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu untuk kembali pulih (recover), lain halnya dengan bitcoin. Sehari setelah mengalami crash, harga bitcoin perlahan-lahan pulih sejak 13 Maret. Pada saat itu, harga bitcoin langsung naik 15,71% kembali ke US$ 5.584,3. Harganya pun terus bergerak naik kembali ke level di US$ 6.500-an hingga Kamis malam (26/3).

Melihat pola pergerakan harga bitcoin saat wabah Covid-19 ini, sejumlah pelaku industri ini masih tetap mempertahankan keyakinan bahwa bitcoin adalah safe haven atau aset investasi yang diandalkan di tengah krisis. Marcus Swanepoel, Co-Founder & CEO, Luno dalam keterangan tertulis yang diterima Koran Suluh Indonesia pada 17 Maret lalu mengatakan bahwa dalam skenario terburuk, pandemi Covid-19 memang akan membuat tingkat adopsi bitcoin akan sedikit terpengaruh yang berdampak pada harga bitcoin dalam jangka pendek hingga menengah. “Namun, hal tersebut bukan menjadi suatu faktor yang akan menimbulkan masalah besar dalam jangka panjang, dan bitcoin akan pulih ke nilai aslinya,” ujar Marcus.

Luno adalah platform jual beli bitcoin global yang juga beroperasi di Indonesia. Lebih lanjut Marcus mengatakan meskipun nilai bitcoin telah menurun, nilai penurunan tersebut jauh lebih rendah daripada aset lainnya, dan penurunan tersebut juga terjadi pada saat mendekati nilai US$ 10.000 di mana koreksi harga telah diperkirakan akan terjadi.

“Jika kita melihat emas yang sering dianggap sebagai perbandingan yang baik untuk bitcoin, kita melihat penurunan ke tingkat terendah dalam waktu lebih dari enam tahun, menjelang akhir Februari nilai emas baru kembali meningkat dan stabil. Faktanya, Goldman Sachs telah menyatakan emas sebagai aset yang ‘kebal’ terhadap dampak Covid-19. Namun, kami memerlukan beberapa bulan untuk melihat apakah aset kripto, khususnya bitcoin akan mengalami hal yang sama pada saat krisis,” ujar Marcus.

Marcus berpendapat terlalu dini untuk meragukan bitcoin sebagai safe haven. Perlu lebih banyak waktu, katanya, untuk menilai situasi dan bukanlah ide bagus untuk mengambil kesimpulan di tengah kepanikan global. “Jika kita melihat emas selama krisis keuangan, nilainya mengalami penurunan sebesar 25%, namun nilainya berhasil pulih dalam waktu yang sangat singkat. Dalam 4-6 bulan, kita dapat menilai situasi dengan lebih baik,” kata Marcus.

Oscar Darmawan, pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Indoax mengatakan meski harga bitcoin sempat jatuh sangat tajam, tetapi menurutnya banyak juga investor dan trader kripto termasuk bitcoin yang justru menikmati keuntungan selama pandemi covid-19 ini. “Ini menandakan bahwa bitcoin merupakan aset yang aman dan masih menjadi primadona,” kata Oscar pada Kamis (26/3/) lalu.

Seperti Luno, Indodax adalah perusahaan penyedia platform jual beli kripto termasuk bitcoin. “Saat ini, member Indodax sudah hampir mencapai 2 juta orang, dimana 99% adalah orang Indonesia. Orang-orang memanfaatkan waktu mereka bekerja di rumah untuk trading aset kripto. Banyak dari trader yang berhasil mengambil posisi tepat bisa take profit lebih dari 10% dalam sehari,” kata Oscar. [Julian A]