Bung Karno: Api Tak Kunjung Padam

Bung Karno: Api Tak Kunjung Padam

38
Koran Suluh Indonesia Volume 12 Tahun III, 11-24 Juni 2018

Koran Sulindo – Upaya itu seakan sia-sia, upaya menenggelamkan kebesaran Putra sang Fajar, Soekarno, Bung Karno. Lebih dari 30 tahun, Jenderal (Purn.) Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia berusaha keras untuk menyingkirkan semua hal yang berkenaan dengan Bung Karno. Namun, Sang Penyambung Lidah Rakyat itu malah muncul di mana-mana: mulai dari bisik-bisik sampai diskusi di forum nasional dan internasional, mulai dari baliho kampanye partai politik sampai di dinding-dinding pinggir jalan, grafiti. Sampai kini, masih sangat banyak orang Indonesia yang memajang foto atau lukisan Bung Karno di dinding ruang tamu rumah mereka.

Bung Karno adalah tokoh besar negeri ini dan salah satu tokoh yang ikut menentukan konstelasi dunia, terutama di abad ke-20, dalam peradaban modern. “Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa,” demikian kata Bung Karno dalam otobiografinya sebagaimana dituturkan kepada Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Tak ada yang bisa menafikan jasa Bung Karno yang sangat besar dalam upaya menyatukan bangsa ini dan menggugah kesadaran bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaannya. Lewat tulisan dan pidato-pidatonya yang bergelora dan bergemuruh, Bung Karno menggerakkan bangsa ini agar berjuang mendapatkan haknya sebagai bangsa yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain.

“Beri aku seribu orang dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air dan aku akan mengguncang dunia!” demikian petikan pidato Bung Karno yang sangat fenomenal itu.

Bukan hanya di Tanah-Air, nama Bung Karno juga menggema dan dikenang dengan takzim di berbagai belahan lain Bumi. Banyak orang yang sepemikirannya mengenang dengan penuh haru dan decak kagum. Tak sedikit pula orang-orang yang berseberangan pemikirannya yang memberi rasa hormat yang ikhlas.

Salah satu alasannya: Bung Karno adalah tokoh yang paling konsisten sepanjang hidupnya dalam menentang kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme dengan segala macam bentuk, rupa, dan tipu dayanya. Bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat berbagai aksi nyata.

Bung Karno menghimpun banyak kepala negara di Asia-Afrika untuk berkumpul di Bandung pada tahun 1955, Konferensi Asia-Afrika. Dari sinilah kemudian berdiri Gerakan Non-Blok pada awal tahun 1960-an, suatu gerakan yang bersikap untuk tidak berpihak pada blok tertentu dalam konfrontasi ideologi Barat-Timur yang terjadi pada masa itu dan belasan tahun kemudian.

Bung Karno kemudian menggalang kekuatan baru (New Emerging Forces, Nefos) untuk melawan kekuatan lama (Old Established Forces, Oldefos) yang ingin menciptakan ketidakadilan dan penindasan gaya baru di dunia ini. Oldefos adalah kekuatan lama yang terus memaksakan kebijakan neo-liberal yang menyerahkan segala hal ke kontrol sektor swasta semata-mata demi keuntungan.

Sementara itu, Nefos adalah negara-negara yang pernah dijajah negara-negara imperialis dan Oldefos. Nefos tumbuh di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Nefos, menurut Bung Karno, bukan hanya berupaya bebas dari neo-kolonialisme dan imperialisme, tapi juga berusaha membangun tatanan dunia baru tanpa exploitation l’homme par I’homme. Nefos merupakan pemerintah, bangsa, dan rakyat progresif di negara sedang berkembang.

Het wezen atau inti dari imperialisme adalah membuat bangsa-bangsa tidak berdiri di atas kaki sendiri, tidak berdikari. Inti imperialisme adalah membuat bangsa-bangsa memerlukan barang-barang bikinan imperialis, persenjataan pihak imperialis, dan bantuan pihak imperialis.

Sampai sekarang, ternyata, itu masih saja terjadi di berbagai belahan Bumi, termasuk di negara ini. Pemikiran, sikap, dan berbagai gerakan yang pernah dilakukan Bung Karno untuk melawan kolonialisme dan imperialisme pun menjadi sangat relevan untuk ditiru dan diikuti. Karena, memang, sekarang ini, bentuk imperialisme dan kolonialisme tidak melulu berupa penguasaan negara dan bangsa secara fisik, namun umumnya berbentuk tekanan ekonomi, untuk mengubah strukturisasi ekonomi makro suatu bangsa, bahkan dalam skala global, dan kemudian menguasainya. [PUR]