Bu Mega Bercerita: Dari Nasi Goreng, Hoaks, hingga Tuduhan PKI pada Jokowi

Bu Mega Bercerita: Dari Nasi Goreng, Hoaks, hingga Tuduhan PKI pada Jokowi

Ilustrasi/Antara-Aprillio Akbar

Koran Sulindo – Koran Sulindo – Sekitar seratusan anak muda itu bergerombol di teras, ruang tunggu, hingga ke halaman depan kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, hari ini. Hampir semuanya memakai pakaian berwarna serba merah, serasi dengan gedung yang bercat merah putih itu.

Mereka adalah orang-orang yang terpilih dari lebih 500 orang yang mendaftar sejak akhir Desember 2018 lalu untuk menghadiri acara bertajuk ‘Bu Mega Bercerita’ yang dihelat dalam rangkaian perayaan ulang tahun ke-46 partainya wong cilik itu.

Acara dibuka dipandu mantan pembawa acara televisi Tamara Geraldine, juga calon legislatif PDI Perjuangan, dengan  mempersilakan bintang film dan kini juga caleg PDIP Ine Febriyanti membacakan puisi karya Soekarno, ‘Aku Melihat Indonesia’.

Jikalau aku melihat gunung gunung membiru,

Aku melihat wajah Indonesia;

Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora,

Aku mendengar suara Indonesia;

 

Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa,

Aku melihat keindahan Indonesia;

Jikalau aku mendengarkan burung perkutut di pepohonan,

Aku mendengarkan suara Indonesia.

 

Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan,

Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia,

Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia.

Sebelumnya, Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan, ratusan kaum muda itu ingin berdialog dengan Megawati Soekarnoputri soal pengalaman berpolitik Ketua Umum PDI Perjuangan itu.

“Jadi hari ini, dalam rangka ultah PDIP ke 46 dan tema persatuan Indonesia membumikan pancasila dilakukan dengan kegiatan bersama dengan orang-orang muda. Ini bagian dari proses pendidikan politik bagi generasi muda kita,” kata Hasto.

Nasi Goreng

Mega bercerita berteman baik dengan mantan Danjen Kopassus yang pernah menjadi duetnya pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2009, Prabowo Subianto.

Pertemanan baik dengan Prabowo itu ditunjukkan saat menonton event Pencak Silat dalam Asian Games lalu. Ketika itu Prabowo mengaku harus menyiapkan diri setelah mendengar dirinya akan datang. Bahkan, ada utusan Prabowo yang menemui dirinya yang menyebut bahwa Prabowo sudah menunggu.

Saat itu Prabowo sampai berganti pakaian untuk menyambut dirinya.

“Terus dia menagih janji saya mau membuatkan nasi goreng. Nasi goreng saya top lho. Pak Prabowo suka nasi goreng saya,” katanya.

Di tengah hubungan baik keduanya, Megawati mengaku heran akan sikap anak buah Prabowo yang justru kerap mem-bully dirinya. “Tapi kok anak buahnya gitu ya? Padahal saya sama bosnya enggak ngapa-ngapain. Saya heran, kenapa saya suka di-bully sama anak buahnya. Sama bosnya saya enggak ngapain-ngapain,” katanya.

Megawati heran pada sikap anak buah Prabowo yang dinilainya berkebalikan.

“Kan kasihan dia. Kalau saya bilang kasihan beliau kenapa orang di lingkungannya seperti itu?” katanya.

Mega juga bercerita tentang Presiden RI ke-3, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Dulu Gus Dur telepon, Mbak aku teko yo. Yo mas di mana? Saya sudah di depan pintu. Nasi goreng nasi goreng. Dia mesti minta nasgor. Itu saya bikin sendiri lho,” katanya.

Mega mengatakan seharusnya semua elite di negeri ini bersikap demikian. Sebagaimana hal tersebut diajarkan ayahnya, Soekarno bahwa bisa saja terdapat perbedaan politik namun persahabatan jalan terus.

“Sekarang kok kayaknya mau membelah diri, yang sana yang sini, sebetulnya mau jadi apa ya? Sekarang kok pemilu mau dibikin sesuatu, lho siapa yang mau dibikin sesuatu ya itu. Ini demi bangsa dan negara lho,” kata Mega.

Ilustrasi/pdiperjuangan.id

Diam

Megawati juga mengakui salah satunya soal sifat buruknya. Putri Presiden Pertama RI itu  mengaku akan diam jika bertemu dengan orang yang tak disukainya.

“Saya diam. Diam sama orang itu. Kalau ketemu orang itu ya saya salaman, kalau harus duduk di sebelah ya duduk. Tapi jangan suruh saya ngomong. Saya diam saja,” kata Megawati.

Menurut Mega, hal itu akan membuat orang itu tak nyaman.

“Supaya berpikir. Kenapa kamu begitu sama saya,” katanya.

Namun Mega juga kadang memanggil orang yang tidak disukainya itu bertemu empat mata lalu memarahinya habis-habisan.

“Mungkin itu juga jeleknya saya. Kalau saya enggak suka, orang itu saya gempur, tapi tidak pernah saya permalukan di depan umum,” katanya.

Hoaks

Megawati menginginkan anak muda memiliki jiwa kepemimpinan.

“Saya ingin anak muda punya sikap, kita sebagai bangsa punya tradisi yang luar biasa. Pemuda harus punya jiwa pemimpin, untuk apa menyebar kebencian. Saya bilang anak muda sekarang cengeng, buat apa bikin hoax? Bully?” katanya.

Megawati juga menceritakan masa kecilnya saat menjadi seorang anak presiden, ayahnya memintanya selalu berkain-kebaya dan tersenyum di muka umum.

“Itu saya disuruh berkain terus. Beliau bilang kalau sedang di muka umum, apapun kesedihan kamu, tetap tersenyum,” katanya.

Mega yang mengaku tak punya telepon genggam sesekali terlintas ingin membalas hoaks di media sosial itu menggunakan telepon cucunya.

“Kepengin jahil, kepingin pakai punya cucu. Saya ingin jawab, pengecut kamu, pengecut kamu. Enggak berani berhadapan,” katanya.

Mega lalu bercerita bagaimana pesan orang tuanya bahwa perbuatan dengan perkataan harus sejalan.

“Saya diajari oleh orang tua saya. Apapun kamu berbuat satu kata dengan perbuatan. Karena dengan demikian, kita melihat kebesaran jiwa seseorang,” katanya.

Ia penasaran apa mungkin hoaks benar-benar bisa dihilangkan karena saat ini sebarannya sangat masif.

“Masa enggak bisa sih diberhentikan hoaks itu,” tanya Presiden kelima Republik Indonesia tersebut.

PKI

Mega juga mengaku sering dituduh sebagai PKI.

“Loh kok saya dibilang PKI, gitu kan, nah kok sampai hari ini enggak ditangkap ya,” katanya.

Megawati mengatakansaat Orde Baru setiap anggota DPR harus melewati penelitian khusus dan ia selalu lolos.

“Kalau wes PKI ya kebobolan. Dari zamannya Soeharto saya dibilang PKI mulu tapi kenapa saya bisa duduk di DPR. Dulu seluruh anggota DPR di-litsus, artinya kalau di-litsus kok enggak tahu saya orang PKI, kalau benar saya PKI kok buktinya saya diloloskan, bisa jadi Ketum, bisa saya anggota DPR, 3 kali lagi jadi bagaimana? Berpikir dengan logika,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga geram isu PKI itu masih dipakai hingga saat ini. Bahkan Presiden Joko Widodo juga dituduh sebagai PKI.

“Ya PKI melulu, PKI, PKI. Rakyat yang di bawah rakyat yang masih belum terpelajar itu dipikir ngerti. Apa sih PKI, Jokowi PKI,” katanya.

Mega meminta Jokowi tidak mempedulikan tuduhan itu.

“Biarin ajalah dibilangin gitu, kita jalan aja. Itu orang sentimen aja, karena kepingin menang? menang itu mustinya dengan terhormat dong,” kata Mega. [DAS]