Brazen Bull, Alat Penyiksaan Sadis Yunani Kuno

Brazen Bull. (Ancient Origins)

Sejak peradaban manusia mengenal hukum dan kekuasaan, cara menghukum sesama juga terus berkembang. Dari hukuman fisik yang dianggap “biasa” hingga metode eksekusi yang dirancang dengan tingkat kekejaman ekstrem. Salah satu bentuk penyiksaan paling sadis dan kompleks dalam sejarah tercatat pada masa Yunani kuno, sebuah alat eksekusi yang dikenal dengan nama Brazen Bull atau Banteng Perunggu.

Brazen Bull sering disebut sebagai contoh bagaimana kecerdasan manusia dapat berubah menjadi alat teror yang mengerikan. Dikutip dari The Vintage News, konsep alat ini sebenarnya sederhana, namun pelaksanaannya mencerminkan kekejaman yang sulit dibayangkan. Banteng ini dibuat dari perunggu, dirancang menyerupai banteng asli dengan ukuran mendekati hewan tersebut. Tubuhnya berongga dan dilengkapi sebuah pintu di sisi badan, cukup besar untuk memasukkan tubuh manusia ke dalamnya.

Setelah seseorang dikurung di dalam Banteng Perunggu, api dinyalakan di bawah perut logam itu. Panas dari api akan membuat perunggu memanas secara perlahan hingga berubah menjadi semacam oven raksasa. Korban di dalamnya akan terpanggang hidup-hidup, tanpa jalan keluar. Proses ini tidak hanya menyakitkan secara fisik, tetapi juga menyiksa secara psikologis, baik bagi korban maupun bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Melansir Ancient Origins, Banteng Perunggu juga dikenal dengan sebutan Banteng Phalaris, Banteng Sisilia, atau Brazen Bull. Alat ini dikaitkan dengan Phalaris, seorang tiran yang memerintah kota Acragas yang kini Agrigento di pesisir selatan Sisilia. Nama lain yang tak terpisahkan dari kisah ini adalah Perillos (atau Perilaüs), seorang pengrajin perunggu terkenal dari Attika.

Kisah Banteng Perunggu menjadi terkenal di dunia kuno dan disebut oleh banyak penulis, termasuk Lucian dari Samosata, Pindar, serta berbagai penulis klasik lainnya. Salah satu versi cerita yang paling lengkap tercatat dalam Perpustakaan Sejarah karya sejarawan Yunani, Diodorus Siculus.

Menurut Diodorus, Banteng Perunggu diciptakan oleh Perillos sebagai sebuah “karya agung” yang ia persembahkan kepada Phalaris. Phalaris dikenal luas sebagai penguasa kejam, dan besar kemungkinan Perillos berharap akan memperoleh imbalan atau kedudukan atas kecerdikannya merancang alat tersebut. Namun, di balik bentuknya yang menyerupai banteng, tersembunyi detail yang menjadikan alat ini semakin mengerikan.

Selain berfungsi sebagai alat eksekusi, Banteng Perunggu juga dirancang sebagai semacam “instrumen hiburan”. Di bagian lubang hidung banteng terdapat pipa-pipa kecil yang disusun sedemikian rupa. Ketika korban menjerit kesakitan akibat panas yang membakar tubuhnya, jeritan itu akan mengalir melalui pipa-pipa tersebut dan keluar sebagai suara mirip auman banteng. Dalam catatan Diodorus, Perillos bahkan dengan bangga berkata kepada Phalaris bahwa “jeritan kesakitannya akan memberimu kesenangan saat keluar melalui pipa-pipa di lubang hidungnya.”

Menariknya, Diodorus justru menggambarkan Phalaris tidak sepenuhnya sebagai sosok tiran tanpa nurani. Dalam kisah ini, Phalaris digambarkan sebagai penguasa yang menghukum orang-orang jahat, dan ketika ia memahami sepenuhnya rencana Perillos, ia justru dipenuhi rasa jijik. Alih-alih memberikan hadiah, Phalaris memutuskan memberi pelajaran setimpal kepada sang penemu.

Phalaris meminta Perillos mendemonstrasikan cara kerja Banteng Perunggu. Dengan keyakinan bahwa ia hanya akan menunjukkan mekanisme suara, Perillos masuk ke dalam banteng ciptaannya sendiri. Begitu ia berada di dalam, Phalaris menutup pintu banteng dan menyalakan api di bawahnya. Perillos tidak langsung mati di dalam alat itu. Ia dikeluarkan dalam kondisi setengah mati, lalu dilemparkan dari tebing hingga tewas. Diodorus mencatat bahwa hal ini dilakukan agar “kematiannya tidak mencemari karya perunggu tersebut.”

Nasib Banteng Perunggu sendiri juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Diodorus menceritakan bahwa pada suatu masa, alat ini dibawa ke Kartago. Ketika Kartago jatuh ke tangan Romawi di bawah pimpinan Scipio Aemilianus pada tahun 147 SM, para utusan dari Sisilia diberi kesempatan untuk melihat rampasan perang. Mereka dipersilakan memilih benda-benda yang dahulu diambil dari kota-kota mereka dan membawanya kembali ke Sisilia. Salah satu benda yang dipilih adalah Banteng Perunggu.

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti apa yang akhirnya terjadi pada Banteng Perunggu tersebut. Dalam berbagai kisah kemudian, beberapa santo Kristen diklaim pernah dieksekusi menggunakan alat ini. Namun, klaim tersebut telah dibantah oleh Gereja Katolik dan dianggap tidak memiliki dasar historis yang kuat.

Kisah Brazen Bull menjadi pengingat kelam tentang sisi tergelap peradaban manusia. Ia menunjukkan bagaimana kekuasaan, kecerdasan, dan teknologi tanpa dibarengi nilai kemanusiaan dapat melahirkan alat teror yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengaburkan batas antara hukum, hiburan, dan kekejaman. [UN]