Bertaruh Nyawa, 1001 Risiko Polisi Jaga Kamtibmas

Bertaruh Nyawa, 1001 Risiko Polisi Jaga Kamtibmas

Koran Sulindo – Tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat memang memiliki risiko dan tanggung jawab yang berat. Salah-salah seringkali nyawa menjadi taruhannya.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Mohammad Iqbal mengatakan peristiwa  anggota terbakar saat mengamankan aksi demo di depan Pemkab Cianjur, Jawa Barat menunjukkan beratnya tugas polisi memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Kita menyesalkan peristiwa demonstrasi yang berujung terbakarnya anggota kami. Namun kami menyadari tugas utama kami dalam memelihara kamtibmas itu memang tak mudah dan seringkali nyawa menjadi taruhannya,” kata Iqbal di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (16/8).

Seperti diketahui aksi mahasiswa menggelar demonstrasi di Cianjur dengan menyulut api dan membakar ban mencelakakan Aiptu Erwin personel Bhabinkamtibmas Polsek Kota Cianjur, Bripda Yudi Muslim, Bripda FA Simbolon dan Bripda Anif dari Sabhara Polres Cianjur.

Insiden yang mencelakakan Aipda Erwin itu bermula saat mahasiswa Cianjur melakukan unjuk rasa untuk menyuarakan aspirasi berkaitan dengan evaluasi pengangguran atau sedikitnya kapangan pekerjaan, serta pendidikan di Kabupaten Cianjur.

Gagal menemui pimpinan daerah yang dimaksud, para pengunjuk rasa itu melakukan aksi bakar ban sekaligus menutup arus lalu lintas di Jalan Siliwangi.

Aiptu Erwin, anggota kepolisian yang saat itu tengah mengawal jalannya aksi unjuk rasa, berusaha memadamkan ban terbakar. Namun, tanpa diduga ada oknum mahasiswa yang melemparkan bahan bakar minyak dari arah belakang sehingga api menyambar tubuh Erwin.

Akibat peristiwa itu Aiptu Erwin mengalami luka bakar serius hingga harus menjalani perawatan intensif di RS Polri, Kramatjati.

“Kami meminta doa dan dukungan dari masyarakat untuk kesembuhan anggota kami, terutama Aiptu Erwin yang luka bakarnya cukup serius dan saat ini dirawat secara intensif di RS Polri,” kata Iqbal.

Tak hanya terbakarnya Erwin dan ketiga rekannya, Iqbal juga mengingatkan kasus penyanderaan dan penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata yang menewaskan Brigadir Anumerta Heidar.

Anggota Ditreskrimum Polda Papua itu gugur saat tengah menjalani rangkaian tugas penyelidikan di Puncak Jaya, Papua, Senin (12/8).

“Kami yang masih berduka, atas gugurnya bhayangkara muda kami, Brigadir Anumerta Hedar yang diduga menjadi korban kekejian KKB. Meskipun bukan asli dari sana (Papua), namun karena sudah merasa menyatu dengan masyarakat lokal, almarhum melakukan tugas penyamaran untuk memetakan KKB dan memastikan warga aman,” jelas Iqbal.

Terakhir, jenderal bintang dua itu mengingat AKP Aditia Mulia yang hingga kini masih belum sadarkan diri akibat menjadi korban pengeroyokan saat mengamankan bentrok dua kubu pesilat pada Mei lalu.

“AKP Aditia dalam melakukan pemeliharaan kamtibmas, melerai pertikaian dua kelompok perguruan silat. Dia jadi korban dan sampai dengan hari ini belum sadar, terbaring di RS Singapura untuk menjalankan perawatan intensif. Kepalanya dipukul diduga pakai batu konblok,” tutur Iqbal.

Dia menambahkan risiko tugas polisi tidak sesederhana. Yang harus dipahami, kata Iqbal, kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat adalah sebagai pelayan dan pengayom.(YMA)