Sementara itu, J.U. Nasution menyatakan bahwa Asmara Hadi banyak menyuarakan semangat kebangsaan melalui puisi-puisinya sehingga puisi-puisinya itu disebut api nasionalisme. Selain itu, dalam puisi-puisinya juga tergambar cita-cita yang penuh harapan untuk masa depan bangsa. Bahasa puisi puisi Asmara Hadi tergolong lugas dan sederhana.

Salah satu karya awalnya di dunia kepenyairan adalah puisi berjudul Bangsaku, Bersatulah, yang dimuat di Fikiran Rakyat, edisi Nopember 1932:

Kalau kupikir kukenang-kenang/ Hatiku duka merasa pilu/ Lautan besar rasa kurenang/ Pekerjaan berat sukar terlalu.
 
Indonesia merdeka ditjita-tjita/ Menjadi kenangan setiap waktu/  Tetapi apa hendak dikata/ Bangsaku belum lagi bersatu.
 
Mereka mengaku ingin merdeka/ Baris persatuan lenggang dan jarang/ Bagaimana mau tampil ke muka/ Kalau kekuatan kita kurang.
 
Saudaraku, sebangsa dan setanah air/ Dengar apalah aku berseru/ Indonesia merdeka supaja lahir/ Hilangkan sifat tengkar tjemburu !
 
Wahai saudaraku, bangsa melarat/ Supaja dapat apa ditjita/ Aturlah barisan kuat dan rapat/ Sepakat semanis, seia sekata.

Puisi-puisi Asmara Hadi yang pernah dimuat dalam Pikiran Rakjat, Poedjangga Baroe, Tudjuan Rakjat, dan Pandji Poestaka.  Oleh J.U. Nasution dikumpulkan dan diterbitkan pada tahun 1965 dengan judul Asmara Hadi Penjair Api Nasionalisme. Buku ini melukiskan cahaya kemenangan yang terpancar dalam suramnya perjuangan.

Selain menulis puisi, Asmara Hadi juga menulis cerita pendek. Cerpen yang terkenal berjudul Yang Tidak Dapat Dihilangkan, yang ditulisnya ketika ia pindah dari Yogyakarta ke Bandung. Cerpen ini berisi riwayat seorang temannya selama perjuangan yang telah kehilangan semua harta bendanya, tapi tetap bersemangat. Cerpen lainnya adalah Di Belakang Kawat Berduri berisi kisah pengalamannya selama ditawan Belanda. Cerpen tersebut kemudian diterbitkan oleh Penerbit Pemandangan tahun 1942. [Satyadarma]

* Tulisan ini pernah dimuat pada 3 Mei 2017